Oleh Vikalena Lasmoskwa
Belakangan ini, media sosial terasa seperti ruang konsultasi psikologi raksasa yang tak pernah benar-benar tidur.
Orang saling menjelaskan trauma, membahas pola hubungan, membedah perilaku pasangan, sampai mendiagnosis kepribadian orang lain hanya dari potongan video beberapa detik. Istilah-istilah psikologi yang dulu terasa asing sekarang muncul hampir setiap hari dalam percakapan publik. Gaslighting, trauma response, attachment issue, toxic, sampai NPD dipakai seperti bahasa sehari-hari.
Awalnya, keadaan ini terasa cukup baik. Banyak orang mulai lebih sadar soal kesehatan mental dan hubungan emosional yang sehat. Ada generasi yang akhirnya punya keberanian membicarakan luka psikologis yang dulu sering dianggap tabu atau dilebih-lebihkan. Namun semakin lama, ada sesuatu yang terasa mengkhawatirkan.
Manusia modern mulai terlalu cepat memberi label psikologis kepada orang lain. Semua perilaku sulit terasa harus punya nama klinis. Semua hubungan buruk dianggap toxic. Semua orang egois dianggap narcissist. Semua konflik terasa perlu dijelaskan dengan istilah psikologi yang terdengar ilmiah. Padahal manusia jauh lebih rumit daripada potongan konten media sosial.
Fenomena NPD atau Narcissistic Personality Disorder jadi salah satu contoh paling jelas dari keadaan itu. Istilah yang awalnya berasal dari dunia klinis sekarang berubah jadi label populer untuk hampir semua orang yang dianggap manipulatif, haus validasi, dominan, atau terlalu percaya diri.
Bahkan beberapa pejabat dan pemimpin negara mulai dengan mudah disebut mengidap NPD hanya karena cara bicara, gaya tampil, atau keputusan politiknya dianggap berlebihan. Di media sosial, tuduhan seperti itu sering dilempar begitu cepat seolah-olah diagnosis psikologis bisa dibuat dari potongan pidato dan cuplikan video singkat. Padahal gangguan kepribadian bukan sesuatu yang sesederhana itu.
Ada proses panjang dalam dunia psikologi untuk memahami kondisi seseorang. Diagnosis tak lahir dari rasa tidak suka, kekecewaan politik, atau pengalaman buruk dalam hubungan personal. Namun media sosial membuat semua hal terasa bisa disimpulkan secara instan. Dan mungkin, di situlah sesuatu mulai terasa berbahaya.
Baca Juga: Ketika Dunia Kerja Tidak Lagi Membiarkan Orang Menjadi Satu Hal
Kita Mulai Menggunakan Psikologi sebagai Senjata
Ada perubahan cara manusia memakai bahasa psikologi hari ini. Dulu istilah psikologi dipakai untuk memahami diri sendiri dan membantu orang lain. Sekarang, cukup sering istilah itu dipakai untuk menghakimi dan menutup percakapan.
Begitu seseorang diberi label NPD, misalnya, ruang untuk memahami manusia itu perlahan mengecil. Orang tidak lagi mencoba membaca kompleksitas perilakunya. Semua langsung dipadatkan menjadi satu identitas psikologis yang terdengar mutlak.
Padahal, tidak semua orang menyebalkan mengidap gangguan kepribadian. Tidak semua orang manipulatif memiliki NPD. Tidak juga semua pemimpin yang haus pencitraan otomatis mengalami gangguan psikologis tertentu.
Ada manusia yang memang egois. Ada yang haus perhatian. Ada yang tumbuh dalam budaya kekuasaan tertentu. Ada pula yang sekadar punya karakter dominan tanpa mengalami gangguan klinis. Namun sayangnya, media sosial sering tidak memberi ruang cukup panjang untuk membaca manusia secara utuh.
Semua bergerak terlalu cepat di internet. Orang ingin penjelasan yang instan, sederhana, dan mudah dibagikan ulang. Label psikologis akhirnya menjadi jalan pintas untuk memahami perilaku manusia yang sebenarnya jauh lebih rumit.
Fenomena ini juga memperlihatkan sesuatu tentang masyarakat modern. Banyak orang sebenarnya sedang lelah menghadapi relasi sosial yang menyakitkan. Mereka mencari bahasa untuk menjelaskan luka, manipulasi, dan rasa kecewa yang sulit diterangkan sebelumnya.
Karena itu, istilah seperti NPD terasa memberi rasa lega tertentu. Tiba-tiba ada nama untuk menjelaskan pengalaman buruk yang selama ini terasa membingungkan. Ada perasaan bahwa semua luka akhirnya punya penjelasan yang terdengar masuk akal.
Masalahnya, ketika semua orang mulai merasa menjadi ahli kepribadian, batas antara memahami dan menghakimi perlahan menjadi kabur. Psikologi berubah dari alat refleksi menjadi alat pelabelan sosial. Dan internet sangat menyukai pelabelan.
Baca Juga: Yang Membuat Orang Takut Bukan Kesalahannya, Tapi Cara Negara Menanggapi Suara Warganya
Orang dengan NPD Pun Tetap Manusia
Hal lain yang sering hilang dalam percakapan media sosial adalah kenyataan bahwa orang dengan gangguan kepribadian tetap manusia. Mereka bukan monster film yang lahir hanya untuk menyakiti orang lain. Ada sejarah hidup, luka, pola pengasuhan, dan pengalaman psikologis yang jauh lebih kompleks di baliknya.
Tentu saja bukan berarti perilaku manipulatif harus dimaklumi begitu saja. Menjaga jarak dari hubungan yang menyakitkan tetap penting. Membuat batas emosional yang sehat juga sangat valid dilakukan demi melindungi diri sendiri.
Namun, ada perbedaan besar antara melindungi diri dan merasa punya hak mendiagnosis semua orang secara sembarangan. Tidak semua konflik harus berubah menjadi diagnosis. Tidak semua perilaku buruk harus diberi label klinis agar terasa sah untuk dikritik.
Keadaan ini menjadi semakin sensitif ketika istilah psikologi masuk ke ruang politik dan sosial yang lebih luas. Publik mulai menyebut tokoh tertentu NPD, psikopat, atau manipulatif tanpa benar-benar memahami apa arti istilah itu secara klinis. Padahal kritik terhadap pemimpin sebenarnya tetap bisa dilakukan tanpa harus berubah menjadi diagnosis kepribadian.
Mungkin karena media sosial memang lebih menyukai narasi hitam-putih. Orang baik dan orang jahat terasa lebih mudah dipahami dibanding manusia yang rumit, ambigu, dan penuh kontradiksi. Padahal kenyataannya, sebagian besar manusia hidup di wilayah yang jauh lebih abu-abu daripada itu.
Ada sesuatu yang cukup ironis dalam keadaan ini. Di satu sisi, masyarakat semakin sadar pentingnya kesehatan mental. Namun di sisi lain, manusia juga semakin mudah memakai bahasa psikologi untuk menyerang dan menyederhanakan orang lain.
Mungkin karena itu, yang dibutuhkan sekarang bukan hanya lebih banyak pengetahuan tentang kesehatan mental. Yang lebih penting adalah kemampuan untuk tetap melihat manusia sebagai manusia, bahkan ketika perilakunya mengecewakan, menyulitkan, atau melukai. Karena memahami perilaku buruk tidak selalu harus berubah menjadi diagnosis.
Dan kenyataan yang paling menyakitkan adalah, tidak semua orang yang sulit dicintai otomatis bisa disimpulkan hanya dengan satu istilah dari internet. []