Oleh Rommy Rimbarawa
Kita terus membicarakan ancaman kekurangan pangan, sementara jutaan ton makanan hilang atau terbuang setiap tahun. Ada sesuatu yang ganjil dalam cara kita memperlakukan makanan.
Setiap kali melihat nasi tersisa di piring, saya sering memikirkan perjalanan panjang yang telah dilaluinya. Ada petani yang menanam padi, air yang mengaliri sawah, tanah yang menyediakan unsur hara, serta tenaga manusia yang bekerja sejak benih ditanam hingga gabah dipanen. Setelah melalui penggilingan, pengangkutan, dan proses memasak, sebagian perjalanan itu bisa berakhir begitu saja di tempat sampah.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa setiap orang harus memaksakan diri menghabiskan makanan ketika sudah kenyang. Porsi yang terlalu besar, penyimpanan yang kurang tepat, atau kebiasaan membeli melebihi kebutuhan juga dapat menjadi penyebab makanan terbuang. Yang mengganggu saya adalah betapa mudahnya kita menganggap semua itu sebagai persoalan kecil.
Padahal, makanan tidak pernah datang tanpa menggunakan sumber daya alam. Setiap bahan pangan membutuhkan ruang, air, energi, dan pekerjaan manusia untuk sampai ke meja makan. Ketika makanan terbuang, seluruh sumber daya yang telah digunakan untuk menghasilkannya ikut kehilangan manfaat.
Kegelisahan itu kembali muncul ketika dunia memperingati Hari Pangan Sedunia pada 16 Oktober 2026. Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa, FAO, mengangkat tema “Innovate today. Nourish tomorrow.” Tema tersebut mengajak dunia menggunakan inovasi, pengetahuan tradisional, dan pendekatan yang inklusif untuk membangun sistem pangan yang lebih baik.
Saya menyukai gagasan tersebut, terutama karena FAO tidak membatasi inovasi pada mesin pertanian atau teknologi canggih. Inovasi juga dapat berarti memperbaiki cara pangan disimpan, didistribusikan, dan dimanfaatkan agar lebih banyak orang memperoleh makanan yang aman serta bergizi. Bagi Indonesia, pemahaman seperti ini terasa sangat relevan.
Sebab sebelum berbicara tentang menghasilkan lebih banyak makanan, kita perlu bertanya mengapa begitu banyak makanan yang sudah dihasilkan justru tidak sampai dimakan.
Baca Juga: Hutan Terbakar, Pejabat Berkabar, Siapa yang Benar-Benar Mendengar?
Yang Hilang Bukan Hanya Makanan
Kajian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional atau Bappenas mengenai kehilangan dan pemborosan pangan di Indonesia memberikan gambaran yang sulit diabaikan. Berdasarkan analisis data sepanjang 2000–2019, jumlah pangan yang hilang dan terbuang diperkirakan mencapai 23–48 juta ton setiap tahun. Jika dihitung per penduduk, jumlah tersebut setara dengan 115–184 kilogram per orang per tahun.
Angka itu merupakan estimasi historis, bukan pengukuran khusus untuk 2026. Meski begitu, besarnya menunjukkan bahwa kehilangan pangan merupakan persoalan sistemik yang telah berlangsung lama. Kita tidak sedang membicarakan beberapa sendok nasi yang tertinggal di piring, melainkan bahan pangan dalam jumlah besar yang kehilangan kesempatan untuk dimanfaatkan.
Bappenas membedakan persoalan tersebut menjadi dua kelompok. Food loss atau kehilangan pangan terjadi sejak produksi, pascapanen, penyimpanan, hingga pengolahan. Sementara itu, food waste atau pemborosan pangan berkaitan dengan makanan yang terbuang pada tahap penjualan, penyajian, dan konsumsi.
Pembedaan itu penting karena penyebab dan solusinya tidak selalu sama. Sayuran dapat rusak akibat penanganan pascapanen yang kurang memadai, buah bisa membusuk sebelum mencapai pasar, dan bahan pangan dapat kehilangan kualitas karena fasilitas penyimpanan yang terbatas. Di tempat lain, makanan terbuang karena porsi berlebihan, pengelolaan persediaan yang buruk, atau keputusan konsumen membeli lebih banyak daripada yang diperlukan.
Kajian Bappenas mencatat bahwa kelompok sayuran merupakan salah satu bagian paling tidak efisien dalam rantai pangan Indonesia. Kehilangannya diperkirakan mencapai 62,8 persen dari suplai domestik sayuran selama periode kajian. Angka sebesar itu mengingatkan kita bahwa meningkatkan produksi belum tentu menghasilkan manfaat optimal jika penanganan setelah panen tidak ikut diperbaiki.
Saya membayangkan seorang petani yang berhasil memanen sayuran dalam jumlah baik. Keberhasilannya di lahan belum menjamin hasil panen dapat terjual dengan harga yang menutup biaya produksi. Jika pengangkutan terlambat, kualitas menurun, atau pasar tidak mampu menyerap seluruh hasilnya, sebagian sayuran dapat kehilangan nilai sebelum sempat dikonsumsi.
Dalam keadaan seperti itu, meminta petani meningkatkan produktivitas saja terasa tidak cukup. Mereka juga membutuhkan akses pasar, sarana penyimpanan, penanganan pascapanen, dan jaringan distribusi yang lebih baik. Produksi yang melimpah tanpa kemampuan menjaga hasilnya dapat menciptakan persoalan baru bagi orang yang justru bekerja menyediakan pangan.
Kerugiannya juga tidak berhenti pada nilai jual. Bappenas memperkirakan kehilangan dan pemborosan pangan sepanjang periode kajian berkaitan dengan kerugian ekonomi sekitar Rp213–551 triliun per tahun. Angka tersebut menggambarkan besarnya nilai sumber daya dan kegiatan ekonomi yang tidak menghasilkan manfaat sebagaimana mestinya.
Dari sisi lingkungan, persoalannya tidak kalah serius. Bappenas memperkirakan kehilangan dan pemborosan pangan menyumbang emisi gas rumah kaca dalam jumlah besar sepanjang 2000–2019. Ketika sampah organik terurai dalam kondisi minim oksigen, seperti di bagian tertentu tempat pemrosesan akhir sampah, proses tersebut juga dapat menghasilkan metana, gas rumah kaca yang berpengaruh kuat terhadap pemanasan global.
Ada ironi yang membuat saya sulit menerima pemborosan pangan sebagai kebiasaan biasa. Kita membuka lahan, menggunakan air, mengeluarkan energi, dan menghasilkan emisi untuk memproduksi makanan. Setelah semua pengorbanan itu, sebagian hasilnya justru menjadi sampah yang kembali menambah tekanan terhadap lingkungan.
Persoalan ini menjadi semakin menyedihkan ketika kita mengingat bahwa tidak semua orang memiliki akses yang sama terhadap pangan bergizi. BPS mencatat tingkat kemiskinan Indonesia pada Maret 2026 sebesar 8,07 persen. Angka kemiskinan tidak otomatis menunjukkan jumlah orang yang kelaparan, tetapi mengingatkan kita bahwa kemampuan rumah tangga memenuhi kebutuhan dasar, termasuk pangan, masih menjadi persoalan penting.
Saya tidak ingin menyederhanakan keadaan dengan mengatakan bahwa makanan yang terbuang cukup dikumpulkan lalu dibagikan kepada mereka yang membutuhkan. Keamanan pangan, jarak distribusi, daya tahan bahan makanan, dan biaya pengangkutan membuat persoalannya jauh lebih rumit. Akan tetapi, kerumitan tersebut justru menunjukkan mengapa sistem penyelamatan dan pemanfaatan pangan perlu dirancang sejak awal.
Baca Juga: Ketika Hidup Hewan Bergantung kepada Kita, Seberapa Besar Tanggung Jawab Kita kepada Mereka?
Ketahanan Pangan untuk Siapa, dan dengan Mengorbankan Apa?
Setiap kali mendengar istilah ketahanan pangan, saya sering membayangkan sawah yang luas, gudang penyimpanan beras, dan petani yang sedang memanen. Gambaran itu tidak keliru, tetapi hanya memperlihatkan sebagian dari persoalan. Ketahanan pangan juga menyangkut kemampuan masyarakat memperoleh makanan yang cukup, aman, bergizi, dan sesuai kebutuhan mereka secara berkelanjutan.
Karena itu, produksi yang meningkat belum otomatis berarti seluruh masyarakat lebih mudah memperoleh pangan. Harga yang tidak terjangkau, distribusi yang timpang, kerusakan hasil panen, dan keterbatasan daya beli dapat membuat makanan tersedia secara agregat tetapi tetap sulit diakses sebagian keluarga. Kita membutuhkan kebijakan yang memperhatikan keseluruhan perjalanan pangan, dari tanah hingga meja makan.
Saya juga semakin gelisah ketika istilah ketahanan pangan digunakan berdekatan dengan ketahanan energi dalam proyek pembangunan berskala besar. Pada Juli 2026, Pemerintah Provinsi Papua Selatan memberitakan kunjungan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan ke Merauke untuk mempercepat pengembangan kawasan sentra produksi pangan, energi, dan air. Pemerintah menyampaikan bahwa pengembangan tersebut ditujukan untuk mendukung kemakmuran daerah.
Tujuan meningkatkan ketersediaan pangan dan energi tentu perlu dinilai berdasarkan manfaat serta dampaknya. Keduanya merupakan kebutuhan penting bagi masyarakat, dan pengembangan energi berbasis tanaman tidak selalu harus bertentangan dengan produksi pangan. Tetapi ketika kebutuhan tersebut bertemu dalam satu bentang alam, pertanyaan mengenai penggunaan lahan menjadi sangat penting.
Lahan mempunyai keterbatasan yang tidak dapat diatasi hanya dengan menggambar kawasan baru di atas peta. Di dalamnya terdapat tanah dengan karakter tertentu, sumber air, vegetasi, habitat satwa, serta kehidupan masyarakat yang telah berhubungan dengan lingkungan tersebut selama bertahun-tahun. Mengubah penggunaan lahan berarti mengubah hubungan ekologis dan sosial yang sudah berlangsung.
Saya tidak ingin langsung menyimpulkan bahwa setiap proyek pangan dan energi pasti merusak lingkungan. Dampaknya perlu diperiksa berdasarkan lokasi, jenis tanaman, kebutuhan air, kondisi ekosistem, serta hak masyarakat setempat. Justru karena taruhannya besar, keputusan mengenai penggunaan lahan harus didukung kajian yang terbuka dan pengawasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pertanyaan saya lebih mendasar: mengapa perluasan produksi sering terasa lebih mudah dijadikan simbol keberhasilan daripada perbaikan sistem pangan yang sudah berjalan?
Membuka lahan baru dapat diperlihatkan melalui peta, luas kawasan, dan target produksi. Membangun fasilitas penyimpanan, memperbaiki rantai pendingin, mengurangi kerusakan panen, atau menghubungkan petani dengan pasar mungkin tidak menghasilkan gambaran pembangunan yang sama mencoloknya. Padahal, pekerjaan-pekerjaan tersebut dapat menentukan apakah pangan yang sudah dihasilkan benar-benar sampai kepada masyarakat.
Saya tidak sedang mempertentangkan peningkatan produksi dengan pengurangan pemborosan. Dalam keadaan tertentu, Indonesia tetap membutuhkan peningkatan produktivitas dan penguatan pasokan untuk menghadapi perubahan iklim, pertumbuhan kebutuhan, serta gangguan perdagangan. Tetapi kebutuhan itu seharusnya berjalan bersama upaya menyelamatkan pangan yang selama ini hilang.
Ada pekerjaan yang dapat dilakukan pada setiap tahap. Petani memerlukan dukungan penanganan pascapanen dan akses distribusi yang memadai, pelaku usaha perlu memperbaiki pengelolaan persediaan, sedangkan pemerintah dapat memperkuat infrastruktur, data, dan kebijakan pengurangan kehilangan pangan. Rumah tangga juga mempunyai tanggung jawab untuk merencanakan pembelian, menyimpan bahan makanan dengan benar, dan mengurangi kebiasaan membuang makanan yang masih layak dikonsumsi.
Saya ingin melihat pengurangan kehilangan dan pemborosan pangan diperlakukan sebagai ukuran penting keberhasilan kebijakan, bukan sekadar pelengkap kampanye lingkungan. Kita perlu mengetahui berapa banyak hasil panen yang terselamatkan, berapa banyak pangan layak konsumsi yang berhasil dimanfaatkan, dan seberapa besar tekanan terhadap sumber daya alam yang dapat dikurangi. Ukuran seperti itu akan membantu kita menilai apakah sistem pangan menjadi lebih efisien sekaligus lebih adil.
Hari Pangan Sedunia semestinya memberi ruang untuk membicarakan seluruh persoalan tersebut. Tema inovasi yang diangkat FAO dapat menjadi pengingat bahwa masa depan pangan tidak hanya bergantung pada kemampuan menciptakan teknologi baru. Ia juga bergantung pada keberanian memperbaiki kebiasaan, kebijakan, dan sistem distribusi yang selama ini membiarkan begitu banyak pangan terbuang.
Saya kembali memikirkan nasi yang tersisa di piring. Bagi seseorang, jumlahnya mungkin terlalu kecil untuk dianggap penting. Tetapi ketika kebiasaan serupa terjadi di jutaan rumah, tempat usaha, dan kegiatan konsumsi, persoalannya tidak lagi sederhana.
Lebih jauh lagi, saya memikirkan sayuran yang rusak sebelum sampai ke pasar, hasil panen yang kehilangan nilai, serta sumber daya alam yang telah digunakan untuk menghasilkan makanan tersebut. Semua itu memperlihatkan bahwa pemborosan pangan tidak hanya terjadi ketika seseorang memutuskan membuang makanan. Sebagian kehilangan justru terjadi jauh sebelum kita mempunyai kesempatan memilih apa yang akan dimakan.
Negeri yang khawatir kekurangan pangan seharusnya terlebih dahulu belajar menghargai pangan yang sudah dimilikinya. Bukan dengan menghentikan upaya meningkatkan produksi, melainkan dengan memastikan hasil yang telah ditanam, dipanen, diangkut, dan diolah tidak mudah kehilangan manfaat.
Sebab ketahanan pangan bukan hanya tentang kemampuan menyediakan makanan untuk hari esok. Ia juga tentang tanggung jawab kita menjaga makanan yang tersedia hari ini, agar kerja manusia dan pengorbanan alam tidak terus berakhir sebagai sesuatu yang dianggap boleh dibuang. []
Bandung, 20 Oktober 2026