Hidup mungkin saja terasa melelahkan. Tetapi, tidak semua kelelahan datang dari hidup pribadi. Ada yang muncul pelan, setiap kali membuka berita, mendengar pernyataan publik, atau mengikuti arah kebijakan yang terasa jauh dari harapan. Perasaan itu tidak selalu meledak, tapi menetap.
Belakangan, percakapan tentang kesehatan mental anak muda mulai bergeser. Bukan lagi soal relasi personal semata, tetapi juga tentang rasa cemas yang datang dari luar diri. Dari sesuatu yang lebih besar, lebih abstrak, dan sulit dikendalikan.
Beberapa konselor bahkan mulai menemukan pola yang berbeda. Keluhan yang muncul bukan lagi tentang patah hati atau konflik pertemanan. Melainkan rasa lelah yang tidak jelas sumbernya, tetapi konsisten muncul setiap kali berhadapan dengan realitas sosial dan politik.
Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Ia terbentuk dari paparan yang terus-menerus, dari komunikasi publik yang tidak selalu menenangkan, dan dari ketidakpastian yang terasa dekat. Dalam konteks ini, kelelahan menjadi sesuatu yang kolektif.
Baca Juga: Mental Load pada Profesional Muda yang Sering Tak Terlihat
Ketika Komunikasi Publik Tak Memberi Rasa Aman
Dalam banyak situasi, komunikasi publik memiliki peran penting dalam membentuk persepsi masyarakat. Cara pesan disampaikan, pilihan kata, hingga timing, semuanya memengaruhi bagaimana publik merespons. Ini bukan sekadar soal informasi, tetapi juga soal rasa.
Namun, tidak semua komunikasi publik berhasil menciptakan rasa aman. Ada kalanya pernyataan yang disampaikan justru terasa membingungkan, kontradiktif, atau bahkan menjauh dari realitas yang dirasakan masyarakat. Di titik ini, jarak mulai terbentuk.
Bagi sebagian anak muda, kondisi ini menciptakan ketegangan yang tidak kasat mata. Mereka mengikuti perkembangan, mencoba memahami, tetapi tidak selalu menemukan kejelasan. Alih-alih merasa terwakili, muncul perasaan terputus.
Dari sudut pandang analitik, pola ini bisa dilihat sebagai kegagalan dalam membangun trust melalui komunikasi. Ketika pesan tak konsisten atau tidak empatik, publik tak hanya kehilangan informasi, tetapi juga kehilangan pegangan. Dampaknya tidak langsung terlihat, tetapi terasa.
Dikutip dari laporan American Psychological Association [APA], paparan berita yang berulang tentang isu sosial dan politik dapat meningkatkan tingkat stres dan kecemasan, terutama pada kelompok usia muda. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi publik bukan hanya menyampaikan fakta, tetapi juga membawa dampak psikologis.
Paparan yang berulang terhadap kondisi ini menciptakan efek akumulatif. Setiap berita, setiap pernyataan, menambah lapisan kecil dari rasa lelah. Hingga pada akhirnya, muncul kelelahan yang tidak lagi bisa dijelaskan dengan sederhana.
Baca Juga: Kesehatan Mental di Tengah Kebijakan yang Bikin Kening Berkerut
Lelah yang Tak Terlihat, Tapi Terasa Nyata
Dari sisi psikologis, kondisi ini bisa dipahami sebagai bentuk tekanan kolektif. Individu tidak mengalami masalah secara langsung, tetapi tetap merasakan dampaknya. Ini yang membuat kelelahan terasa aneh, karena sumbernya tidak personal.
Penulis dan peneliti Johann Hari dalam wawancaranya dengan The Guardian menyebutkan bahwa banyak kecemasan modern tak hanya berasal dari faktor internal, tetapi juga dari kondisi sosial yang lebih luas. Ia menekankan bahwa manusia tidak hidup dalam ruang hampa, sehingga tekanan eksternal sangat memengaruhi kondisi mental.
Anak muda berada di posisi yang unik. Mereka cukup sadar untuk memahami situasi, tetapi tidak selalu memiliki kendali untuk mengubahnya. Kombinasi ini menciptakan rasa tidak berdaya yang halus, tetapi konsisten.
Menariknya, kelelahan ini sering tidak diakui sebagai sesuatu yang valid. Karena tak terlihat secara fisik, ia dianggap berlebihan atau bahkan diabaikan. Padahal, efeknya bisa memengaruhi cara berpikir, motivasi, hingga harapan terhadap masa depan.
Organisasi Kesehatan Dunia [WHO] juga mencatat bahwa ketidakpastian sosial dan ekonomi dapat meningkatkan risiko gangguan kecemasan. Dikutip dari laporan kesehatan mental globalnya, faktor eksternal ini menjadi salah satu pemicu utama stres kolektif di berbagai negara.
Dalam banyak kasus, respons yang muncul adalah menarik diri. Mengurangi konsumsi berita, menghindari diskusi, atau memilih untuk tidak peduli. Ini bukan bentuk ketidakpedulian, tetapi mekanisme bertahan.
Namun, menjauh bukan solusi jangka panjang. Ada kebutuhan untuk menemukan cara agar tetap terhubung tanpa harus terus-menerus merasa terbebani. Di sinilah pentingnya keseimbangan antara kesadaran dan batas.
Tulisan ini tak menawarkan jawaban instan. Tetapi setidaknya, ia mencoba memberi nama pada perasaan yang selama ini sulit dijelaskan. Bahwa lelah itu nyata, dan sumbernya tidak selalu datang dari diri sendiri. [][Rudi Tenggarawan & Vikalena Lasmoskwa/KK]
[penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi]