Sains sering menghadirkan jawaban yang rumit. Iklan membutuhkan kalimat yang singkat. Di antara keduanya, ada pengetahuan yang berisiko kehilangan makna ketika disederhanakan.

Dalam industri kecantikan, hasil penelitian kerap menjadi bahan komunikasi produk. Istilah seperti antioksidan, mikrobioma, dan pelindung kulit terdengar meyakinkan karena memiliki dasar ilmiah. Namun, ketika istilah tersebut dipindahkan dari laboratorium ke kemasan kosmetik, tidak semua batasan penelitiannya ikut dijelaskan.

Penyederhanaan sebenarnya diperlukan agar masyarakat dapat memahami pengetahuan yang kompleks. Masalah muncul ketika informasi yang semula menyatakan kemungkinan berubah menjadi janji tentang hasil yang pasti. Konsumen kemudian menerima kesimpulan yang terdengar ilmiah, tetapi belum tentu didukung oleh bukti yang sesuai.

Baca Juga: Kalau Ada Bakteri Baik, Apakah Berarti Harus Ada Bakteri Jahat?

Ketika Hasil Penelitian Kehilangan Konteksnya

Bayangkan sebuah penelitian menemukan bahwa senyawa tertentu menunjukkan aktivitas antioksidan dalam pengujian laboratorium. Temuan tersebut dapat menjadi dasar untuk mengembangkan bahan kosmetik, tetapi belum membuktikan bahwa setiap produk yang mengandungnya mampu memberikan manfaat serupa pada kulit manusia. Ada perbedaan antara aktivitas suatu senyawa, kemampuan bahan bekerja dalam formula, dan hasil penggunaan produk jadi.

Contohnya dapat ditemukan pada epigallocatechin gallate [EGCG], salah satu katekin dalam teh hijau. Senyawa ini diteliti karena aktivitas biologisnya, termasuk potensi antioksidan dan antiinflamasi. Namun, manfaat yang teramati dalam kondisi penelitian tertentu tidak otomatis berlaku pada semua produk perawatan kulit yang mencantumkan ekstrak teh hijau.

Dr. apt. Naniek Widyaningrum, M.Sc., dalam pembahasan mengenai pengembangan EGCG untuk kosmetik, menempatkan stabilitas, formulasi, dan pengujian sebagai bagian penting dari perjalanan bahan aktif menuju produk. Perspektif ini mengingatkan bahwa kandungan yang menjanjikan masih harus melewati berbagai tahapan sebelum manfaat produk dapat dinyatakan secara bertanggung jawab. Keberadaan bahan dalam daftar komposisi bukan pengganti bukti efektivitas formula secara keseluruhan.

Persoalan serupa muncul ketika masyarakat mendengar istilah bakteri baik dan bakteri jahat. Dalam kajian mikrobioma kulit, mikroorganisme tidak selalu dapat dibagi menjadi dua kelompok sesederhana itu. Perannya dipengaruhi oleh kondisi kulit, keseimbangan komunitas mikroba, serta interaksinya dengan lingkungan.

Prof. Dr. apt. Keri Lestari, M.Si., melalui pendekatan mikrobioma sebagai ekosistem, menempatkan hubungan antarmikroorganisme dan kondisi kulit sebagai bagian penting dari pemahaman ilmiah. Karena itu, klaim bahwa suatu produk sekadar menambah bakteri baik atau menghilangkan bakteri jahat berisiko mengabaikan kompleksitas tersebut. Bahasa yang mudah dipahami tetap perlu menjaga ketepatan konsep yang sedang dijelaskan.

Penyederhanaan juga dapat terjadi pada bahan yang sudah akrab dalam kehidupan sehari-hari. Minyak ikan, misalnya, dikenal sebagai sumber asam lemak omega-3 yang memiliki relevansi biologis terhadap kesehatan. Akan tetapi, manfaat konsumsi omega-3 tidak bisa langsung digunakan sebagai bukti bahwa kosmetik berbahan minyak ikan memberikan hasil yang sama ketika dioleskan pada kulit.

Baca Juga: Dari Probiotik sampai Omega-3, Mengapa Tren Makanan Mudah Berpindah ke Skincare?

Mengapa Bukti Bahan Belum Tentu Menjadi Bukti Produk?

Dalam pengembangan kosmetik, bahan aktif tidak bekerja sendirian. Konsentrasi, tingkat keasaman, bahan pendamping, sistem penghantaran, kemasan, dan kondisi penyimpanan dapat memengaruhi kualitas serta kinerjanya. Karena itu, hasil penelitian terhadap satu bahan belum cukup untuk menyimpulkan efektivitas seluruh formula.

Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., menempatkan persoalan formulasi dan stabilitas sebagai penghubung antara potensi ilmiah suatu bahan dan penerapannya dalam produk kosmetik. Sebuah senyawa mungkin memperlihatkan aktivitas yang menarik dalam penelitian awal, tetapi kestabilannya tetap perlu diperhatikan setelah dicampurkan dengan komponen lain. Pengujian produk jadi diperlukan untuk mengetahui apakah manfaat yang diharapkan benar-benar dapat didukung oleh bukti.

Perbedaan tersebut penting ketika sebuah merek menggunakan istilah memperbaiki skin barrier. Asam lemak tertentu memang berkaitan dengan struktur lipid dan fungsi pelindung kulit, tetapi hubungan biologis itu belum membuktikan bahwa setiap produk yang mengandungnya mampu memperbaiki fungsi tersebut. Klaim yang lebih spesifik memerlukan pengukuran yang sesuai, seperti kehilangan air melalui kulit atau perubahan hidrasi, bergantung pada manfaat yang dijanjikan.

Ada pula persoalan mengenai tingkat kepastian sebuah penelitian. Temuan dari pengujian laboratorium, penelitian awal terhadap formula, dan uji penggunaan pada manusia memiliki cakupan kesimpulan yang berbeda. Ketiganya dapat memberikan pengetahuan berharga, tetapi tidak boleh diperlakukan seolah-olah membuktikan hal yang sama.

Konsumen tentu tidak harus membaca jurnal ilmiah setiap kali membeli kosmetik. Namun, mereka berhak memperoleh penjelasan yang tidak mengubah potensi menjadi kepastian atau mengaburkan perbedaan antara bahan dan produk. Tanggung jawab untuk menjaga ketepatan informasi terutama berada pada pihak yang merumuskan dan menyampaikan klaim tersebut.

Bagi pelaku industri, komunikasi yang bertanggung jawab tidak berarti harus menggunakan bahasa teknis yang sulit dipahami. Kalimat sederhana tetap dapat menjelaskan bahwa suatu bahan sedang diteliti, memiliki potensi tertentu, atau telah diuji untuk manfaat khusus. Kejelasan semacam ini justru membantu membangun kepercayaan tanpa menjanjikan lebih dari yang dapat dibuktikan.

Pengetahuan berubah menjadi klaim yang terlalu sederhana ketika batas antara apa yang diketahui, apa yang masih diduga, dan apa yang telah dibuktikan mulai dihilangkan. Sains membutuhkan ruang untuk menjelaskan ketidakpastian, sedangkan konsumen membutuhkan informasi yang dapat dipercaya. Menjaga keduanya tetap bertemu merupakan pekerjaan penting dalam komunikasi industri kecantikan. [][Eva Evilia/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.