Lebaran selalu datang dengan kehangatan yang sama. Rumah terbuka, makanan berlimpah, dan pertemuan yang jarang terjadi akhirnya terwujud. Tapi di balik itu, ada satu hal yang diam-diam ikut meningkat: sampah.
Suasana selepas Lebaran seringkali menyisakan pemandangan yang kontras. Jalanan mulai lengang, tetapi tempat pembuangan justru semakin padat. Kantong plastik, sisa makanan, hingga kemasan sekali pakai menumpuk tanpa jeda.
Fenomena ini bukan hal baru. Setiap tahun, lonjakan sampah pasca-Lebaran selalu terjadi di berbagai daerah. Bahkan, beberapa laporan menyebutkan peningkatannya bisa mencapai dua hingga tiga kali lipat dibanding hari biasa.
Yang menarik, kondisi ini seperti sudah dianggap wajar. Seolah-olah, meningkatnya sampah adalah 'paket bawaan' dari perayaan besar seperti Lebaran.
Baca Juga: Kebiasaan Kecil Mengurangi Sampah di Rumah
Pola Konsumsi yang Melonjak Tanpa Disadari
Selama Lebaran, pola konsumsi berubah drastis. Makanan disiapkan dalam jumlah besar, kemasan sekali pakai digunakan lebih sering, dan aktivitas belanja meningkat tajam.
Di banyak rumah, kebiasaan menyediakan makanan berlebih menjadi simbol keramahan. Namun di sisi lain, tidak semua makanan itu benar-benar habis dikonsumsi. Sebagian berakhir menjadi limbah.
Kondisi ini diperparah dengan penggunaan plastik sekali pakai. Mulai dari bungkus kue kering, botol minuman, hingga kantong belanja, semuanya berkontribusi pada lonjakan volume sampah.
Menurut sejumlah pengamat lingkungan, lonjakan ini bukan sekadar soal jumlah, tetapi juga soal jenis sampah yang semakin sulit diurai. Artinya, dampaknya tidak berhenti setelah Lebaran selesai.
Baca Juga: Gaya Hidup Minim Sampah di Perkotaan
Sistem yang Selalu Tertinggal dari Lonjakan
Di sisi lain, sistem pengelolaan sampah seringkali tidak siap menghadapi lonjakan musiman seperti ini. Kapasitas pengangkutan dan pengolahan tetap berjalan seperti hari biasa, sementara volume sampah meningkat drastis.
Akibatnya, tumpukan sampah menjadi pemandangan yang mudah ditemukan setelah perayaan usai. Tempat pembuangan sementara penuh, bahkan meluber ke area sekitarnya.
Beberapa daerah memang mencoba mengantisipasi dengan menambah jadwal pengangkutan. Namun, langkah ini seringkali masih belum cukup untuk mengimbangi kecepatan produksi sampah.
Masalahnya menjadi semakin kompleks ketika tidak ada pemilahan sejak awal. Sampah organik bercampur dengan plastik dan bahan lain, membuat proses pengolahan menjadi lebih sulit.
Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan sampah pasca-Lebaran bukan hanya tentang perilaku masyarakat, tetapi juga tentang sistem yang belum cukup adaptif terhadap lonjakan.
Yang terjadi kemudian adalah siklus yang berulang. Setiap tahun, volume sampah meningkat, sistem kewalahan, lalu kondisi perlahan kembali normal hingga perayaan berikutnya datang lagi.
Perubahan sebenarnya bisa dimulai dari hal sederhana, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai atau mengelola sisa makanan dengan lebih bijak. Namun tanpa dukungan sistem yang lebih siap dan fleksibel, upaya ini akan selalu terasa setengah jalan. [][Rommy Rimbarawa/KK]
[penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi]