Hampir semua pengguna media sosial pernah melakukannya. Sebuah foto, video, atau unggahan yang dulu sempat dibagikan tiba-tiba menghilang begitu saja dari akun mereka.

Bagi orang lain, tindakan itu mungkin terlihat sepele. Namun bagi pemilik akun, keputusan menekan tombol hapus sering kali tidak sesederhana yang dibayangkan. Ada unggahan yang dihapus karena malu, ada yang dihapus karena tidak lagi relevan, dan ada pula yang dihapus tanpa alasan yang benar-benar bisa dijelaskan dengan mudah.

Media sosial memang sering dianggap sebagai tempat menyimpan momen. Namun semakin lama, banyak orang menyadari bahwa media sosial bukan hanya arsip kehidupan. Ia juga menjadi ruang tempat seseorang menampilkan siapa dirinya kepada dunia, dan identitas itu tidak selalu tetap dari waktu ke waktu.

Karena itulah, menghapus unggahan kadang lebih dekat dengan proses bertumbuh daripada sekadar menyesali masa lalu.

Baca Juga: Sedihkah Kamu andai Story-mu Sedikit yang Lihat?

Kita Tidak Selalu Menghapus karena Menyesal

Ada anggapan bahwa orang menghapus unggahan karena merasa malu terhadap apa yang pernah mereka bagikan. Meski hal itu memang bisa terjadi, kenyataannya tidak selalu demikian. Banyak unggahan dihapus bukan karena buruk, melainkan karena pemiliknya merasa dirinya sudah berubah.

Coba lihat kembali foto atau tulisan yang dibuat lima atau sepuluh tahun lalu. Tidak sedikit orang yang merasa sedang melihat sosok yang berbeda dari dirinya saat ini. Cara berpikir berubah, lingkungan pergaulan berubah, pekerjaan berubah, bahkan selera humor dan cara mengekspresikan diri pun ikut berubah. Ketika perubahan itu terjadi, sebagian orang merasa ada unggahan lama yang sudah tidak lagi mewakili dirinya.

Psikolog sosial Dr. Sherry Turkle dari Massachusetts Institute of Technology [MIT] pernah banyak meneliti hubungan manusia dengan identitas digital. Dalam berbagai kajiannya, ia menunjukkan bahwa ruang digital sering menjadi tempat manusia membangun dan menegosiasikan identitas dirinya. Apa yang ditampilkan di media sosial tidak selalu sekadar dokumentasi kehidupan, tetapi juga bagian dari cara seseorang ingin dikenali oleh orang lain.

Eva melihat bahwa ada sesuatu yang sangat manusiawi dalam proses itu. Kita tidak selalu menghapus foto karena membenci masa lalu. Kadang kita melakukannya karena merasa sudah tidak tinggal di sana lagi. Kenangan itu masih ada, tetapi versi diri yang pernah mengunggahnya mungkin sudah berubah menjadi seseorang yang berbeda.

Perubahan hubungan juga sering menjadi alasan yang jarang dibicarakan. Ada unggahan yang dulu terasa penting karena terkait dengan pertemanan, komunitas, atau hubungan tertentu. Ketika hubungan tersebut berubah, sebagian orang memilih merapikan jejak digitalnya sebagai bagian dari proses menerima perubahan yang sedang terjadi.

Baca Juga: Fitur Close Friends Sekarang Dipakai buat Jualan Diam-Diam

Media Sosial Bukan Album, Tapi Ruang yang Terus Kita Tata

Dulu album foto cenderung bersifat permanen. Setelah foto dicetak dan disimpan, jarang ada dorongan untuk terus meninjau atau mengubah isinya. Media sosial bekerja dengan cara yang berbeda. Ia lebih menyerupai ruang yang terus hidup dan terus dilihat, sehingga banyak orang merasa perlu sesekali menatanya kembali.

Hal itu terlihat dari kebiasaan sebagian pengguna yang mengarsipkan unggahan lama, menghapus foto tertentu, atau membersihkan akun secara berkala. Tindakan tersebut sering dianggap sebagai bentuk pencitraan. Padahal dalam banyak kasus, yang terjadi lebih sederhana daripada itu. Orang hanya ingin ruang digitalnya terasa sesuai dengan dirinya hari ini.

Peneliti media sosial dari University of Kansas, Dr. Jeffrey Hall, pernah mengemukakan bahwa identitas digital selalu berada dalam proses pembentukan. Manusia tidak hanya menggunakan media sosial untuk berkomunikasi, tetapi juga untuk memahami dan menyusun narasi tentang dirinya sendiri. Karena narasi itu terus berkembang, tidak mengherankan jika isi akun seseorang juga ikut berubah dari waktu ke waktu.

Menariknya, kebiasaan menghapus unggahan juga menunjukkan bahwa internet tidak selalu bersifat permanen seperti yang sering dibayangkan. Di balik semua jejak digital yang tersimpan, manusia tetap memiliki kebutuhan untuk mengatur bagaimana dirinya ingin dikenang atau dipahami. Kebutuhan itu tidak selalu lahir dari kepura-puraan, tetapi sering kali berasal dari keinginan yang sangat wajar untuk bertumbuh tanpa harus terus-menerus dibayangi oleh versi diri yang sudah lama berlalu.

Mungkin karena itu, tombol hapus di media sosial tidak selalu menjadi simbol penyesalan. Kadang ia hanya menjadi penanda bahwa seseorang sedang bergerak, berubah, dan mencoba memberi ruang bagi dirinya yang sekarang. [][Eva Evilia/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.