Media sosial awalnya terasa seperti tempat berbagi momen kecil sehari-hari. Orang mengunggah langit sore, kopi pagi, perjalanan pulang, atau lagu yang sedang diputar tanpa terlalu memikirkan siapa yang akan melihatnya. Namun sekarang, semakin banyak orang diam-diam memperhatikan satu hal kecil setelah mengunggah story: berapa banyak yang menonton.

Fenomena itu mungkin terdengar sepele. Namun kalau diperhatikan lebih jauh, cukup banyak orang mulai merasa kecewa ketika story-nya sepi penonton. Ada yang berkali-kali membuka daftar viewers, ada yang langsung menghapus unggahan karena responsnya terasa kurang ramai, dan ada juga yang tiba-tiba bertanya dalam hati apakah dirinya mulai tidak menarik lagi di mata orang lain.

Padahal yang berubah sebenarnya bukan hanya fitur media sosialnya. Yang berubah adalah hubungan emosional manusia dengan perhatian digital.

Psikolog sosial Dr. Jean Twenge menjelaskan bahwa media sosial membuat manusia semakin terbiasa menghubungkan respons digital dengan perasaan diterima secara sosial. Dalam kondisi seperti itu, angka kecil seperti jumlah viewers, likes, atau komentar bisa terasa jauh lebih personal dibanding yang terlihat di permukaan. Mungkin itu sebabnya sekarang story yang sepi kadang terasa lebih menyedihkan daripada yang ingin diakui banyak orang.

Baca Juga: Fitur Close Friends Sekarang Dipakai buat Jualan Diam-Diam

Media Sosial Membuat Perhatian Terasa Bisa Diukur

Kalau dipikir-pikir, dulu manusia tidak selalu tahu seberapa banyak orang memperhatikan dirinya setiap hari. Tidak ada angka pasti untuk mengukur apakah seseorang cukup menarik, cukup lucu, atau cukup dianggap keberadaannya oleh lingkungan sekitar.

Sekarang semua itu perlahan berubah karena media sosial menghadirkan metrik yang terus terlihat di depan mata. Jumlah viewers, jumlah likes, jumlah komentar, sampai berapa orang yang berhenti melihat unggahan kita sekarang bisa dihitung hampir secara real time. Masalahnya, manusia bukan makhluk yang sepenuhnya kebal terhadap angka seperti itu.

Ketika sebuah story ramai dilihat, banyak orang merasa dirinya masih ‘terlihat’. Ada rasa kecil bahwa keberadaannya masih mendapat perhatian dari lingkungan sosial digitalnya. Sebaliknya, ketika unggahan terasa sepi, sebagian orang mulai diam-diam mempertanyakan dirinya sendiri meski tidak selalu mengatakannya secara terbuka.

Padahal perhatian di media sosial sebenarnya sangat dipengaruhi banyak hal yang tidak selalu personal. Algoritma berubah, jam unggahan berbeda, orang sedang sibuk bekerja, atau audiens sedang berpindah ke platform lain. Namun otak manusia modern sering langsung menerjemahkan semuanya secara emosional karena internet membuat perhatian terasa sangat dekat dengan identitas diri.

Profesor komunikasi Dr. Sherry Turkle menyebutkan bahwa manusia modern semakin menghubungkan eksistensi sosial dengan visibilitas digital. Dalam situasi seperti itu, perhatian online tidak lagi terasa seperti bonus, tetapi perlahan berubah menjadi bentuk pengakuan sosial yang memengaruhi emosi sehari-hari. Ini letak kelelahan kecil yang mulai banyak dirasakan pengguna media sosial sekarang.

Baca Juga: Kenapa Orang Sekarang Lebih Cepat Upload daripada Menikmati Momennya?

Kadang yang Dicari Bukan Ramainya, Tapi Perasaan Bahwa Kita Masih Dianggap Ada

Menariknya, banyak orang sebenarnya tidak benar-benar haus popularitas besar di media sosial. Sebagian besar hanya ingin merasa keberadaannya masih diperhatikan oleh lingkar sosial kecil di sekitarnya. Karena itu, rasa kecewa akibat story yang sepi sering bukan soal angka semata, tetapi soal hubungan emosional yang terasa ikut mengecil.

Ada orang yang sebenarnya hanya berharap sahabatnya melihat unggahan kecil yang dibuatnya tengah malam. Ada yang diam-diam menunggu seseorang tertentu muncul di daftar viewers. Ada juga yang merasa sedih bukan karena jumlah penontonnya sedikit, tetapi karena orang yang diharapkan melihat ternyata tidak muncul sama sekali.

Hal-hal seperti itu membuat media sosial terasa jauh lebih manusiawi sekaligus lebih rapuh.

Internet modern membuat manusia terus terhubung, tetapi juga terus membandingkan tingkat perhatian yang diterimanya setiap hari. Akibatnya, sesuatu yang dulu terasa sederhana seperti mengunggah foto makan siang atau suasana jalan pulang sekarang bisa ikut membawa beban emosional yang tidak kecil.

Menurut peneliti budaya digital Dr. Zizi Papacharissi, media sosial menciptakan ruang di mana ekspresi personal dan kebutuhan akan pengakuan sosial saling bertemu secara terus-menerus. Karena itu, respons digital sering terasa memiliki dampak emosional nyata meski bentuknya hanya angka kecil di layar.

Mungkin itu sebabnya pertanyaan tentang story yang sepi terasa lebih dekat dari yang ingin diakui banyak orang. Karena di balik semua unggahan kecil itu, manusia modern sebenarnya sedang terus mencari satu hal yang sangat sederhana: perasaan bahwa dirinya masih dilihat, masih dianggap ada, dan masih punya tempat di perhatian orang lain. [][Eva Evilia/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.