Kepergian Dr. (H.C.) Martha Tilaar pada 14 Oktober 2026 meninggalkan duka bagi keluarga, orang-orang yang pernah bekerja bersamanya, serta industri kecantikan Indonesia. Pendiri Martha Tilaar Group yang wafat pada usia 89 tahun itu bukan sekadar pengusaha yang melahirkan merek kosmetik lokal. Ia adalah salah satu pelopor yang menunjukkan bahwa kekayaan alam, pengetahuan tradisional, dan identitas budaya Indonesia dapat menjadi fondasi bagi industri kecantikan modern.
Martha Tilaar memulai perjalanannya dari sebuah salon sederhana di Menteng, Jakarta, pada 1970. Dari tempat itu, ia membangun usaha yang kemudian berkembang menjadi kelompok bisnis di bidang kosmetik, perawatan kecantikan, spa, dan pendidikan kecantikan. Melalui Sariayu dan berbagai inisiatif lainnya, ia turut memperkenalkan potensi bahan alami dan kekayaan budaya Nusantara kepada masyarakat luas.
Namun, warisan Martha Tilaar tidak berhenti pada produk yang dikenal konsumen atau perusahaan yang berhasil dibangunnya. Ia juga mendorong penelitian, pengembangan bahan baku lokal, pelestarian tanaman berkhasiat, dan dokumentasi pengetahuan agar dapat dipelajari oleh generasi berikutnya. Perpaduan antara tradisi, ilmu pengetahuan, dan keberanian berinovasi inilah yang membuat kepergiannya terasa sebagai kehilangan besar bagi Indonesia, khususnya industri kecantikan nasional.
Bagi mereka yang pernah bekerja dekat dengannya, warisan tersebut memiliki makna yang lebih personal. Ada gagasan yang tumbuh melalui percakapan, kepercayaan yang dibangun selama bertahun-tahun, dan pengalaman sederhana yang kemudian menjadi pelajaran hidup.
Salah satu orang yang menyimpan kenangan itu adalah Wendra Wilendra. Ia mengenal Martha Tilaar sejak 1999, ketika masih bekerja di sebuah stasiun televisi dan mendapat kesempatan meliput sosok yang kelak berpengaruh besar dalam perjalanan profesionalnya.
Dalam percakapan dengan jurnalis Kedaikata.com, Wendra mengenang pertemuan tersebut sebagai awal hubungan panjang yang tidak hanya berkembang dalam pekerjaan, tetapi juga membentuk cara pandangnya terhadap dunia usaha, kreativitas, dan pengembangan industri.
Hubungan profesional itu kemudian berlanjut ketika tim Wendra dipercaya menjadi salah satu agensi kreatif Martha Tilaar Group. Selama kurang lebih 15 tahun, mereka terlibat dalam berbagai pekerjaan komunikasi untuk merek dan kegiatan perusahaan, mulai dari Sariayu, Biokos, PAC, Belia, Caring, Jamu Garden, Dewi Sri Spa, Martha Beauty Gallery, dan Martha Tilaar Spa.
Pengalaman itu memberinya kesempatan melihat sisi Martha Tilaar yang tidak selalu tampak di hadapan publik. Di balik sosok pengusaha yang dikenal luas, Wendra mengenang seorang perempuan dengan semangat kuat ketika membicarakan gagasan yang diyakininya.
Martha Tilaar dapat berbicara panjang tentang tanaman obat, jamu, kekayaan alam Indonesia, penelitian, hingga pentingnya mengembangkan bahan baku kosmetik dari sumber daya sendiri. Bagi Wendra, yang bekerja di bidang komunikasi dan pengembangan merek, semangat tersebut memperlihatkan bahwa membangun bisnis seharusnya tidak hanya berhenti pada upaya menjual produk. Ada identitas, pengetahuan, dan cita-cita yang perlu diperjuangkan di baliknya.
Pelajaran itu semakin terasa ketika Wendra memahami bahwa gagasan besar tidak otomatis menjadi kenyataan. Pengembangan bahan baku lokal, misalnya, membutuhkan penelitian, fasilitas, tenaga ahli, pengujian, investasi, dan waktu yang tidak sedikit. Membangun pusat penelitian atau mendokumentasikan pengetahuan juga memerlukan komitmen yang melampaui kepentingan komersial jangka pendek.
baca juga: martha tilaar meninggal dunia warisan kecantikan nusantara yang terus hidup
Dari perjalanan Martha Tilaar, ia melihat bahwa visi tidak cukup hanya untuk dikagumi. Visi harus diterjemahkan menjadi tindakan, sistem, dan kemampuan yang dapat bertahan dalam jangka panjang. Hasilnya mungkin tidak selalu langsung terlihat, tetapi fondasi yang dibangun hari ini dapat menentukan kemampuan industri pada masa mendatang.
Ada pula kenangan lain yang terus diingat Wendra, yakni sebuah kejadian sederhana saat timnya hendak melakukan pengambilan gambar Martha Tilaar untuk kebutuhan komunikasi. Ketika itu, seluruh kru sudah siap, tetapi Martha belum bersedia memulai karena Wendra belum tiba di lokasi.
Padahal, tim yang bertugas sudah terbiasa bekerja bersamanya dan memahami kebutuhan produksi. Ketika Wendra akhirnya datang, ia tidak mengubah pengaturan kamera, pencahayaan, atau tata produksi. Ia hanya menghampiri Martha, menyapa, berbincang sebentar, lalu mengajaknya memulai pengambilan gambar.
Bagi Wendra, kejadian itu menunjukkan bahwa hubungan profesional tidak selalu ditentukan oleh kemampuan teknis semata. Kepercayaan juga tumbuh dari pemahaman terhadap orang lain, kemampuan membuat seseorang merasa nyaman, serta kesediaan membangun hubungan yang baik selama bertahun-tahun.
Kenangan tersebut menjadi berharga karena memperlihatkan bahwa di balik pekerjaan yang tampak formal, terdapat hubungan antarmanusia yang tidak dapat digantikan oleh prosedur atau keterampilan teknis. Kepercayaan tidak hadir dalam satu malam. Ia terbentuk melalui pengalaman, konsistensi, dan interaksi yang terus terjaga.
Pelajaran lain yang membekas pada Wendra adalah keseriusan Martha Tilaar dalam mengembangkan dan mendokumentasikan pengetahuan. Ia menyaksikan bagaimana penelitian dan inovasi perlu disampaikan dengan bahasa yang dapat dipahami masyarakat. Ia juga terlibat dalam sejumlah kegiatan komunikasi yang berkaitan dengan Martha Tilaar Innovation Centre, termasuk menerjemahkan informasi penelitian dan pengembangan menjadi materi yang lebih mudah dipahami.
Pengalaman tersebut kemudian beririsan dengan perjalanan Wendra sendiri. Ketika ia mulai mengembangkan berbagai gagasan tentang kosmetik yang lebih personal, menulis, dan membangun hubungan antara pengetahuan dengan kebutuhan industri, ia kembali mengingat semangat Ibu Martha dalam memperjuangkan ide-idenya.
Bagi Wendra, dokumentasi bukan sekadar mencatat sesuatu yang telah terjadi. Pengetahuan yang ditulis, diterbitkan, dan dibagikan dapat menjadi bahan pembelajaran bagi orang lain, bahkan ketika orang yang pertama kali menggagasnya sudah tidak lagi berada di tengah-tengah mereka.
Seiring waktu, intensitas pekerjaan Wendra bersama Martha Tilaar mulai berkurang ketika ia semakin sibuk mengembangkan usahanya sendiri. Namun, jarak dan perubahan aktivitas tidak menghapus pelajaran yang diperolehnya selama bertahun-tahun.
Ketika mendengar kabar kepergian Martha Tilaar, Wendra merasakan kehilangan terhadap sosok yang tidak pernah ia pandang sebatas klien. Ia mengenangnya sebagai guru, motivator, dan inspirator yang memperlihatkan secara langsung bagaimana sebuah keyakinan diperjuangkan hingga menjadi kenyataan.
Kenangan itu juga mengingatkannya bahwa membangun industri bukan hanya soal menghasilkan produk yang laku di pasar. Industri yang kuat membutuhkan pengetahuan, kemampuan riset, inovasi, dan kesempatan bagi generasi berikutnya untuk berkembang. Keberhasilan sebuah usaha dapat dilihat dari pencapaian hari ini, tetapi nilai kontribusinya juga ditentukan oleh apa yang dapat diteruskan setelahnya.
Martha Tilaar telah meninggalkan karya, perusahaan, merek, dan berbagai inisiatif yang menjadi bagian dari perjalanan industri kecantikan Indonesia. Namun, bagi orang-orang yang pernah mengenalnya, ada warisan lain yang tidak selalu terlihat dalam angka penjualan atau besarnya sebuah perusahaan. Warisan itu berupa keberanian untuk memulai, ketekunan memperjuangkan gagasan, kemauan mengembangkan pengetahuan, dan kemampuan membangun kepercayaan.
Bagi Wendra, nilai-nilai tersebut tetap relevan untuk diteruskan melalui berbagai upaya yang sesuai dengan perkembangan zaman. Ia menyadari bahwa keluarga dan Martha Tilaar Group memiliki peran utama dalam menjaga serta mengembangkan karya dan cita-cita yang ditinggalkan. Sementara itu, ia ingin terus berkontribusi sesuai dengan kemampuan dan bidang yang digelutinya.
Pada akhirnya, kehilangan seorang tokoh seperti Martha Tilaar bukan hanya mengajak masyarakat mengenang apa yang telah ia bangun, tetapi juga mempertanyakan apa yang dapat dipelajari dan dilanjutkan dari perjuangannya. Sebuah visi baru memiliki arti ketika ada orang yang bersedia mengembangkannya, dan sebuah warisan akan tetap hidup ketika nilai-nilai di dalamnya terus dipraktikkan.
Bagi Wendra, salah satu pelajaran terpenting dari Ibu Martha adalah keberanian untuk tidak berhenti pada gagasan. Pemikiran perlu diwujudkan, pengetahuan perlu dibagikan, dan pekerjaan yang baik perlu dibangun dengan kesabaran agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.
Selamat jalan, Martha Tilaar. Karya dan pemikiran Anda telah menjadi bagian dari perjalanan industri kecantikan Indonesia, sekaligus meninggalkan pelajaran bagi mereka yang pernah bekerja, belajar, dan tumbuh bersama Anda. [] [Mira Savina/TBV]
Wendra Wilendra, yang dikenal sebagai Kang Wendra, adalah seorang Brand & AI Architect yang menekuni pengembangan merek, penerapan kecerdasan buatan, dan sistem bisnis. Gagasan serta pemikirannya mengenai brand, teknologi, dan pengembangan bisnis dapat dibaca melalui situs kangwendra.com.