Ada momen-momen kecil yang dulu terasa biasa, tetapi sekarang mulai sulit dilakukan banyak orang. Menunggu antrean lima menit, duduk sendiri di warung makan, berada di kendaraan umum, atau bahkan sekadar berdiam tanpa aktivitas selama beberapa detik sering langsung diikuti gerakan refleks: membuka HP.
Kadang sebenarnya tidak ada notifikasi penting. Tidak ada pesan mendesak. Tidak ada hal yang benar-benar perlu dicek saat itu juga. Namun tangan tetap bergerak otomatis membuka media sosial, scrolling video pendek, atau sekadar berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain tanpa tujuan yang jelas.
Fenomena itu terasa makin umum karena hidup modern membuat manusia semakin sulit berada dalam kondisi benar-benar sunyi. Diam sekarang bukan lagi sekadar tidak berbicara, tetapi juga tidak menerima stimulasi terus-menerus dari layar dan informasi digital.
Psikolog dan peneliti teknologi Dr. Larry Rosen menjelaskan bahwa smartphone modern dirancang untuk terus memancing perhatian manusia melalui notifikasi, pembaruan konten, dan pola interaksi cepat yang membuat otak terbiasa menerima stimulasi kecil secara terus-menerus. Ketika stimulasi itu berhenti sejenak, banyak orang mulai merasa gelisah tanpa benar-benar memahami penyebabnya.
Mungkin itu sebabnya sekarang banyak orang merasa canggung hanya untuk duduk diam beberapa menit tanpa membuka HP.
Baca Juga: Kita Makin Sering Bilang ‘Capek’, Tapi Jujurnya, Sempat Istirahat Nggak?
Otak Kita Mulai Terbiasa Tidak Pernah Benar-Benar Sendirian
Kalau diperhatikan, banyak orang sebenarnya hampir tidak pernah benar-benar sendiri lagi. Bahkan ketika sedang sendirian secara fisik, manusia modern tetap ditemani arus informasi, video, chat, suara, dan notifikasi yang terus bergerak tanpa henti. Akibatnya, otak perlahan kehilangan kebiasaan berada dalam kondisi tenang tanpa distraksi.
Dulu rasa bosan sering memaksa manusia melamun, memperhatikan sekitar, atau membiarkan pikirannya mengembara pelan. Sekarang, rasa bosan hampir selalu langsung 'dipadamkan' sebelum sempat tumbuh karena layar HP selalu menyediakan sesuatu untuk dilihat.
Padahal dalam banyak penelitian psikologi, momen diam dan bosan sebenarnya punya fungsi penting bagi manusia. Dalam kondisi itulah otak sering memproses emosi, menyusun refleksi, atau memberi ruang kecil untuk bernapas dari kepadatan stimulasi harian.
Profesor psikologi Dr. Sandi Mann menjelaskan bahwa kebosanan memiliki hubungan dengan kreativitas dan pemrosesan mental yang sehat. Ketika manusia terus-menerus menghindari rasa bosan, otak kehilangan kesempatan untuk melakukan refleksi internal secara alami.
Namun, internet modern bekerja dengan arah yang sebaliknya. Platform digital berlomba memastikan manusia tidak pernah terlalu lama berada dalam kondisi hening. Selalu ada video berikutnya, konten berikutnya, atau notifikasi berikutnya yang membuat perhatian terus bergerak. Dan lama-lama, diam mulai terasa tidak nyaman.
Baca Juga: Orang Sekarang Capek Sedikit Langsung Bilang Burnout, Why?
Mungkin Kita Bukan Tidak Bisa Diam, Tapi Takut Bertemu Isi Kepala Sendiri
Menariknya, kesulitan lepas dari HP kadang bukan cuma soal kecanduan teknologi semata. Ada sisi psikologis yang lebih dalam dan lebih manusiawi di balik kebiasaan itu.
Karena ketika layar mati dan suasana mulai sunyi, manusia sering kembali bertemu pikirannya sendiri. Ada rasa cemas yang belum selesai, tekanan pekerjaan, kesepian, overthinking, atau kelelahan mental yang selama ini tertutup oleh distraksi digital. HP akhirnya bukan cuma alat komunikasi, tetapi juga alat menghindar kecil yang dipakai hampir tanpa sadar.
Psikolog klinis Dr. Gloria Mark menjelaskan bahwa manusia modern hidup dalam pola perhatian yang terus terfragmentasi akibat paparan digital berlebihan. Otak menjadi terbiasa berpindah cepat dari satu stimulasi ke stimulasi lain sehingga kondisi tenang justru terasa asing dan tidak nyaman. Itu sebabnya banyak orang sekarang tetap membuka HP bahkan ketika sebenarnya tidak mencari apa-apa.
Kadang manusia hanya ingin mengisi ruang kosong beberapa detik agar tidak terasa terlalu sunyi. Kadang seseorang scrolling media sosial bukan karena penasaran pada kontennya, tetapi karena tidak tahu harus melakukan apa ketika dirinya benar-benar berhenti sejenak.
Dan mungkin di situlah letak kegelisahan manusia modern hari ini. Kita hidup di era yang membuat semua hal terus bergerak, sampai-sampai diam beberapa menit saja mulai terasa seperti sesuatu yang sulit dilakukan. Padahal bisa jadi, tubuh dan pikiran kita sebenarnya sedang diam-diam meminta satu hal sederhana: kesempatan untuk tenang tanpa harus terus diisi. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.