Oleh Rudi Tenggarawan

Sebuah jembatan bisa diperbaiki setelah rusak. Yang lebih sulit diperbaiki mungkin kebiasaan kita menganggap risiko tidak ada hanya karena kemarin tidak terjadi apa-apa.

Jembatan Gantung Pongpet di Desa Margacinta, Kecamatan Cijulang, Pangandaran, baru saja selesai diperbaiki. Minggu, 30 Agustus 2026, jembatan itu diresmikan dan kembali dibuka sebagai penghubung dua wilayah yang dipisahkan Sungai Cijulang. Kegembiraan tentu mudah dipahami. Akses yang sebelumnya rusak sejak 2024 itu kembali dapat digunakan masyarakat.

Namun suasana berubah ketika rombongan pejabat dan warga berada di atas jembatan. Salah satu sistem tali sling terlepas, menyebabkan lantai jembatan miring dan sejumlah orang terjatuh. TNI AD menjelaskan bahwa lebih dari 50 orang berada di atas jembatan ketika kejadian berlangsung. Dandim Pangandaran Letkol Inf Indra Mardianto kemudian mengakui adanya kelalaian dalam mengendalikan jumlah orang yang melintas saat peresmian.

Ada satu bagian dari penjelasannya yang membuat saya berhenti cukup lama. Ia mengatakan suasana ketika itu penuh euforia sehingga pengendalian terhadap orang yang naik ke jembatan tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Saya bisa memahami euforia itu. Sebuah akses yang lama rusak selesai diperbaiki. Warga datang, pejabat datang, orang ingin melihat dan merasakan jembatan yang baru dibuka. Dalam suasana seperti itu, meminta orang menunggu giliran mungkin terasa seperti urusan kecil. Sampai sesuatu terjadi.

Baca Juga: Produktivitas Kita Naik, Tapi Mengapa Waktu Luang Kita Tidak Pernah Bertambah? 

Bahaya yang Terlalu Sering Tidak Terjadi

Kita sering menganggap keselamatan sebagai persoalan pengetahuan. Seolah-olah kecelakaan terjadi karena seseorang tidak mengetahui aturan, tidak memahami risiko, atau tidak mempunyai prosedur. Padahal cukup banyak kejadian justru berlangsung ketika aturan sudah ada dan risiko sebenarnya telah diketahui.

Kita tahu sepeda motor sebaiknya dikendarai dengan helm. Kita tahu sabuk pengaman harus dipasang. Kita tahu stopkontak mempunyai batas beban. Kita tahu gedung, lift, kendaraan, dan jembatan mempunyai kapasitas. Di tempat kerja bahkan ada SOP yang menjelaskan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Tetapi mengetahui ternyata tidak selalu membuat kita mematuhi. Ada sebuah konsep menarik dari sosiolog Diane Vaughan bernama normalization of deviance. Vaughan mengembangkannya ketika meneliti keputusan-keputusan organisasi yang mendahului tragedi pesawat ulang-alik Challenger pada 1986. Ia menemukan bagaimana penyimpangan dari standar dapat perlahan diterima sebagai sesuatu yang normal ketika penyimpangan serupa sebelumnya dilakukan tanpa menimbulkan akibat buruk.

Mekanismenya terasa sangat akrab. Pertama kali melakukan sesuatu yang sedikit berisiko, kita mungkin waswas. Ternyata tidak terjadi apa-apa. Kita melakukannya lagi. Tetap aman. Setelah berkali-kali, rasa takut menghilang dan tindakan tersebut mulai terasa wajar.

“Cuma sebentar.”

“Dekat kok.”

“Tambah satu orang saja.”

“Sudah biasa begini.”

Atau kalimat yang mungkin paling berbahaya: “Selama ini baik-baik saja.”

Masalahnya, tidak terjadinya kecelakaan kemarin bukan bukti bahwa tindakan kita aman hari ini. Bisa saja kita memang aman. Bisa juga kita hanya beruntung.

Di situlah pengalaman kadang memberikan pelajaran yang keliru. Kita melewati risiko sepuluh kali tanpa masalah, lalu menyimpulkan bahwa risikonya tidak pernah ada. Padahal sepuluh kejadian sebelumnya mungkin hanya belum mempertemukan kesalahan kita dengan kondisi yang membuat akibatnya muncul.

Keselamatan bekerja dengan cara yang kurang menyenangkan bagi manusia: ketika berhasil, hampir tidak ada sesuatu yang terlihat.

Helm yang kita pakai tidak terasa berjasa selama kepala tidak membentur apa pun. Batas kapasitas terasa merepotkan selama struktur tidak gagal. Pemeriksaan berkala terasa seperti pengeluaran selama mesin tetap bekerja. Prosedur terasa memperlambat pekerjaan selama kecelakaan belum terjadi.

Karena itu, aturan keselamatan mempunyai nasib yang agak ironis. Semakin lama ia berhasil mencegah sesuatu terjadi, semakin mudah orang mempertanyakan mengapa aturan tersebut masih diperlukan.

Baca Juga: Gelombang PHK: Ketika Perusahaan Besar Tak Lagi Menjanjikan Rasa Aman

Keselamatan Tidak Seharusnya Bergantung pada Ingatan tentang Musibah

Saya tidak tahu persis apakah persoalan di Jembatan Pongpet dapat dijelaskan dengan normalization of deviance. Kita tidak memiliki cukup informasi untuk membuat kesimpulan sejauh itu. Pengakuan tentang lemahnya pengendalian jumlah orang saat peresmian saja sudah cukup menjadi pengingat bahwa keselamatan membutuhkan sesuatu yang lebih kuat daripada niat berhati-hati.

Ia membutuhkan sistem. Kalau sebuah jembatan hanya boleh dilewati sejumlah orang pada satu waktu, seharusnya ada orang yang memastikan batas itu dipatuhi. Kalau sebuah mesin harus diperiksa setelah sekian jam operasi, pemeriksaan seharusnya tetap dilakukan meskipun mesin terlihat baik. Kalau pekerja wajib menggunakan perlengkapan keselamatan, kepatuhan seharusnya tidak berubah hanya karena pekerjaan dianggap sebentar.

Sistem keselamatan yang baik justru dirancang agar manusia tidak harus terus-menerus menjadi manusia yang sempurna.

Kita bisa lupa. Kita bisa terburu-buru. Kita bisa terlalu percaya diri. Kita bisa larut dalam suasana. Kita juga mempunyai kecenderungan mengambil jalan lebih singkat ketika sebuah prosedur terasa menghambat pekerjaan.

Itulah sebabnya keselamatan tidak cukup dibangun dengan tulisan “harap berhati-hati”.

Organisasi penerbangan mengenal checklist. Pabrik memiliki prosedur operasi. Proyek konstruksi mengenal inspeksi. Gedung menetapkan kapasitas. Semua itu pada dasarnya lahir dari pengakuan yang sama: ingatan, pengalaman, dan penilaian manusia saja tidak selalu cukup untuk menjaga manusia.

Yang mengkhawatirkan adalah ketika prosedur baru memperoleh kembali kewibawaannya setelah kecelakaan. Sesudah kejadian, kita mendadak rajin memeriksa. Kapasitas dihitung. SOP dibuka kembali. Petugas ditempatkan. Orang diingatkan. Beberapa minggu atau bulan kemudian, ketika keadaan kembali tenang, disiplin perlahan mengendur.

Jika pola seperti itu terus berulang, berarti keselamatan kita sebenarnya masih bergantung pada seberapa segar ingatan kita terhadap musibah.

Jembatan Pongpet kini akan diperbaiki. TNI AD menyatakan evaluasi teknis dilakukan dan jembatan ditutup sementara sampai dinyatakan aman digunakan kembali. Itu tentu langkah yang diperlukan. Namun, pelajaran dari sebuah kejadian semestinya tidak berhenti pada struktur yang mengalami kerusakan.

Kita bisa melihatnya di tempat kerja, jalan raya, rumah, sekolah, acara publik, bahkan dalam kebiasaan sehari-hari. Berapa banyak kabel yang terus kita gunakan meskipun mulai rusak? Berapa kali kita melihat orang berdiri di kendaraan yang seharusnya tidak digunakan seperti itu? Berapa prosedur kerja yang dilewati karena dianggap terlalu merepotkan? Berapa kali seseorang mengatakan “sebentar saja” sebelum melakukan sesuatu yang sebenarnya ia tahu berisiko?

Kebanyakan hari mungkin memang akan berlalu tanpa kejadian. Justru itulah jebakannya.

Hari-hari ketika tidak terjadi apa-apa membuat kita merasa keputusan kemarin benar. Kita lupa bahwa keselamatan tidak dapat dinilai hanya dari hasil. Keputusan berisiko tetaplah keputusan berisiko meskipun kebetulan tidak menghasilkan kecelakaan. Barangkali kita perlu mengubah satu kalimat yang begitu sering terdengar.

Ketika seseorang berkata, “Selama ini baik-baik saja,” jangan buru-buru menganggapnya sebagai bukti bahwa sebuah cara aman untuk diteruskan. Jadikan kalimat itu alasan untuk bertanya: baik-baik saja karena sistemnya memang aman, atau karena selama ini kita cukup beruntung?

Sebab keselamatan yang baik tidak dibangun untuk hari ketika sesuatu terjadi. Ia dibangun justru pada hari-hari ketika tidak terjadi apa-apa, dan kita tetap memilih menaati aturan. []

Bandung, 01 September 2026