Oleh Rudi Tenggarawan

Kabar mengenai pemutusan hubungan kerja di Tokopedia kembali jadi perhatian publik. Bagi sebagian orang, berita itu mungkin hanya dianggap sebagai bagian dari dinamika bisnis. Perusahaan berkembang, perusahaan bertransformasi, lalu sebagian posisi dinilai tidak lagi dibutuhkan. Semua itu terdengar seperti penjelasan yang masuk akal dalam dunia usaha.

Namun, jika kita berhenti sejenak dan melihat lebih jauh, ada pertanyaan yang lebih menarik untuk diajukan. Mengapa kabar seperti ini terasa semakin sering datang dari perusahaan-perusahaan yang selama ini justru dianggap paling mapan?

Tokopedia bukan satu-satunya. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan-perusahaan teknologi kelas dunia seperti Google, Microsoft, Amazon, Meta, Intel, hingga sejumlah startup besar di Indonesia juga melakukan efisiensi yang berujung pada pengurangan tenaga kerja. Masing-masing memiliki alasan yang berbeda, mulai dari restrukturisasi, penyesuaian strategi bisnis, otomatisasi, hingga investasi besar pada teknologi kecerdasan buatan.

Jika polanya terus berulang di banyak tempat, mungkin yang sedang berubah bukan hanya nasib satu perusahaan. Mungkin yang sedang berubah adalah cara dunia memandang pekerjaan itu sendiri.

Baca Juga: Ketika Nasihat Tak Lagi Selalu Datang dari Manusia 

Dulu Nama Besar Memberikan Rasa Aman

Ada masa ketika bekerja di perusahaan besar dianggap sebagai pencapaian yang hampir identik dengan masa depan yang lebih tenang. Nama perusahaan menjadi semacam jaminan. Orang tua merasa bangga, keluarga ikut merasa lega, dan karyawan sendiri percaya bahwa selama bekerja dengan baik, mereka memiliki tempat yang cukup aman untuk membangun hidup.

Cara berpikir itu terbentuk bukan tanpa alasan. Selama bertahun-tahun, perusahaan besar memang identik dengan stabilitas. Mereka memiliki aset yang kuat, pasar yang luas, sistem yang matang, dan kemampuan menghadapi gejolak ekonomi yang lebih baik dibandingkan perusahaan kecil.

Namun, dunia usaha hari ini bergerak dengan logika yang berbeda. Perusahaan tak lagi hanya dinilai dari besar kecilnya aset atau panjangnya sejarah. Mereka dinilai dari kecepatan beradaptasi, efisiensi biaya, produktivitas, dan kemampuan menghasilkan pertumbuhan yang terus meningkat. Dalam logika seperti itu, jumlah karyawan bukan lagi sekadar kekuatan, tetapi juga menjadi komponen biaya yang terus dievaluasi.

Akibatnya, keputusan untuk mengurangi tenaga kerja tidak selalu berarti perusahaan sedang mengalami krisis. Dalam banyak kasus, perusahaan justru melakukannya ketika sedang mengubah arah bisnis, mengintegrasikan teknologi baru, atau berusaha meningkatkan efisiensi operasional.

Bagi investor, langkah itu mungkin dipandang sebagai keputusan bisnis yang rasional. Namun bagi karyawan, pengalaman tersebut menghadirkan kenyataan yang jauh lebih personal. Mereka menyadari bahwa bekerja di perusahaan besar tidak lagi otomatis berarti bekerja di tempat yang aman.

Baca Juga: Ketika Mesin Mulai Membuat Musik, Apa yang Sebenarnya Sedang Dipertahankan Seniman? 

Dunia Kerja Sedang Mengubah Definisi Keamanan

Gelombang PHK beberapa tahun terakhir memperlihatkan satu perubahan yang cukup mendasar. Dulu, rasa aman sering dikaitkan dengan tempat seseorang bekerja. Hari ini, rasa aman semakin bergeser kepada kemampuan seseorang untuk terus relevan.

Perubahan ini terasa sangat cepat. Kemajuan teknologi membuat banyak pekerjaan menjadi lebih efisien. Otomatisasi mengambil alih sebagian tugas administratif. Kecerdasan buatan mulai membantu pekerjaan yang sebelumnya sepenuhnya dilakukan manusia, mulai dari analisis data, penulisan laporan, layanan pelanggan, hingga pengembangan perangkat lunak.

Perubahan seperti ini tentu tidak berarti manusia akan sepenuhnya tergantikan. Namun, ia mengubah cara perusahaan menyusun organisasinya. Posisi yang dulu membutuhkan sepuluh orang, hari ini mungkin dapat dikerjakan oleh lima orang dengan bantuan teknologi yang lebih canggih.

Di sisi lain, tekanan ekonomi global juga membuat banyak perusahaan lebih berhati-hati dalam mengelola biaya. Suku bunga yang tinggi di berbagai negara, perlambatan investasi, perubahan perilaku konsumen, hingga ketidakpastian geopolitik membuat efisiensi menjadi kata yang semakin sering terdengar di ruang rapat direksi.

Dalam situasi seperti itu, tidak mengherankan jika keputusan yang paling cepat terlihat adalah pengurangan tenaga kerja.

Baca Juga: Semua Orang Sedang Mencari Uang Tambahan, Anda Juga?

Loyalitas Masih Penting, Tetapi Tidak Lagi Cukup

Ada satu perubahan lain yang mungkin terasa lebih sunyi. Selama bertahun-tahun, banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa bekerja dengan baik, loyal kepada perusahaan, dan memberikan kinerja terbaik akan membuat hubungan kerja bertahan dalam jangka panjang.

Nilai itu tentu masih penting. Tidak ada perusahaan yang tidak membutuhkan karyawan yang profesional dan berdedikasi. Namun, kenyataan hari ini menunjukkan bahwa loyalitas saja tidak selalu cukup untuk melindungi seseorang dari perubahan strategi bisnis.

Banyak keputusan PHK dilakukan bukan karena seseorang bekerja buruk. Ada yang kehilangan pekerjaan karena divisinya ditutup. Ada yang terdampak karena perusahaan mengubah fokus bisnis. Ada pula yang posisinya digabung dengan fungsi lain setelah perusahaan mengadopsi teknologi baru.

Ini bukan berarti loyalitas kehilangan makna. Hanya saja, loyalitas kini tidak lagi menjadi satu-satunya faktor yang menentukan keberlangsungan karier seseorang.

Bagi banyak pekerja, kenyataan ini menghadirkan kecemasan baru. Mereka mulai bertanya apakah masih ada pekerjaan yang benar-benar aman. Pertanyaan itu pula yang mungkin menjelaskan mengapa semakin banyak orang mencari sumber penghasilan tambahan, membangun usaha kecil, menjadi pekerja lepas, atau terus belajar keterampilan baru di luar pekerjaan utamanya.

Beberapa waktu lalu, kita juga melihat fenomena yang sama ketika semakin banyak orang mencari side hustle. Saat itu, banyak yang menganggapnya sekadar tren gaya hidup. Kini, setelah gelombang PHK terus berulang di berbagai sektor, kita mulai melihat bahwa bagi sebagian orang, pekerjaan tambahan bukan lagi pilihan untuk menambah penghasilan. Ia menjadi cara membangun rasa aman ketika pekerjaan utama tidak lagi mampu memberikan kepastian seperti dulu.

Baca Juga: Di Balik Setiap Perkara Besar, Mengapa Publik Selalu Mencari Tangan yang Tak Terlihat? 

Yang Perlu Dibangun Mungkin Bukan Lagi Rasa Nyaman

Perubahan ini tentu tidak berarti kita harus hidup dalam ketakutan. Dunia kerja memang selalu berubah. Yang berbeda hari ini adalah kecepatannya. Teknologi berkembang lebih cepat, model bisnis berganti lebih cepat, dan perusahaan mengambil keputusan strategis dalam waktu yang jauh lebih singkat dibandingkan satu dekade lalu.

Dalam situasi seperti ini, mungkin yang perlu diubah bukan hanya strategi perusahaan, tetapi juga cara kita mempersiapkan diri sebagai pekerja.

Membangun keterampilan baru, memahami perkembangan teknologi, memperluas jaringan profesional, serta memiliki kemampuan untuk belajar kembali menjadi semakin penting. Dunia kerja tidak lagi memberi banyak ruang bagi orang yang hanya mengandalkan satu kemampuan yang sama selama puluhan tahun.

Pada saat yang sama, perusahaan juga menghadapi tantangan yang tidak ringan. Mereka dituntut menjaga keberlanjutan bisnis, memenuhi harapan investor, beradaptasi dengan teknologi baru, sekaligus mempertahankan kepercayaan para karyawannya. Menemukan keseimbangan di antara semua kepentingan itu bukan perkara mudah.

Karena itu, gelombang PHK sebaiknya tidak hanya dibaca sebagai kabar buruk bagi para pekerja atau sebagai strategi bisnis perusahaan. Ia adalah tanda bahwa dunia kerja sedang memasuki babak baru.

Babak ketika rasa aman tak lagi hanya ditentukan oleh besar kecilnya nama perusahaan. Babak ketika karier tak lagi dibangun semata-mata dengan mencari tempat kerja yang dianggap paling stabil, tetapi juga dengan kemampuan untuk terus bertumbuh di tengah perubahan yang tidak pernah benar-benar berhenti.

Mungkin inilah pelajaran terbesar dari berbagai kabar PHK yang belakangan datang silih berganti. Yang sedang berubah bukan sekadar jumlah karyawan di sebuah perusahaan. Yang sedang berubah adalah cara kita memaknai pekerjaan, keamanan, dan masa depan.

Dulu, banyak orang bertanya, "Di perusahaan mana saya bisa bekerja sampai pensiun?" Hari ini, pertanyaannya mungkin telah bergeser menjadi, "Kemampuan apa yang akan membuat saya tetap dibutuhkan, apa pun perusahaan tempat saya bekerja?" Dan boleh jadi, justru pertanyaan itulah yang akan lebih menentukan masa depan dunia kerja dibandingkan nama perusahaan mana pun. []

Bandung, 3 Juli 2026