Oleh Liora Maheswari

Kita mungkin tidak kekurangan kepedulian. Kita hanya terlalu sering melewatkan hal-hal kecil yang sebenarnya sedang meminta perhatian.

Ada orang yang setiap hari tinggal serumah dengan kita, tetapi perubahan wajahnya baru terlihat ketika ia mengatakan sedang punya masalah. Ada tubuh yang setiap hari membawa kita ke mana-mana, tetapi rasa lelahnya baru dianggap serius setelah jatuh sakit. Ada pohon yang bertahun-tahun berdiri di jalan yang sama, tetapi keberadaannya baru kita sadari ketika suatu pagi ia sudah tidak ada.

Aneh juga memikirkannya. Kita hidup pada masa ketika begitu banyak hal dapat diketahui dalam hitungan detik. Kita tahu apa yang terjadi di negara lain, mengetahui kehidupan orang yang bahkan belum pernah ditemui, melihat makanan yang disantap seseorang ribuan kilometer jauhnya, dan mengikuti peristiwa demi peristiwa hampir tanpa jeda.

Namun, mengetahui banyak hal rupanya tidak otomatis membuat kita semakin peka. Mungkin karena melihat memang berbeda dengan memperhatikan.

Kita melihat wajah orang rumah setiap hari. Kita melihat jalan yang sama setiap pagi. Kita melihat orang yang bekerja bersama kita. Kita bahkan melihat diri sendiri di cermin. Namun memperhatikan meminta sesuatu yang sedikit lebih mahal: waktu, kesediaan berhenti, dan keinginan untuk tidak segera berpindah kepada hal berikutnya.

Di situlah saya mulai bertanya-tanya apakah kepedulian sebenarnya dapat dilatih. Bukan dengan menghafalkan nasihat tentang menjadi manusia yang baik, melainkan dengan belajar memperhatikan sesuatu lebih lama.

Baca Juga: “Garong” dan Alasan Musik Tak Pernah Benar-Benar Bisa Diam 

Kepekaan Mungkin Dimulai dari Hal yang Sangat Sederhana

Seni sebenarnya telah lama mengajari manusia melakukan itu. Ketika mendengarkan sebuah lagu dengan sungguh-sungguh, kita mulai menangkap sesuatu yang tidak terdengar ketika musik hanya menjadi suara latar. Ada petikan kecil di belakang vokal, perubahan tempo, jeda sebelum lirik tertentu, tarikan napas penyanyi, atau instrumen yang baru terdengar setelah lagu yang sama dimainkan berkali-kali.

Lukisan juga meminta hal serupa. Begitu pula fotografi, film, puisi, tari, dan sastra. Karya-karya itu tidak selalu memberi kita sesuatu yang belum pernah ada. Kadang ia hanya membuat kita melihat kembali sesuatu yang selama ini ada tetapi luput diperhatikan.

Sastra bahkan memungkinkan latihan perhatian yang lebih jauh. Kita dapat tinggal sementara di dalam kehidupan seseorang yang tidak pernah kita kenal. Kita mengikuti ketakutannya, memahami alasannya mengambil keputusan, atau mengetahui sesuatu yang tidak pernah ia katakan kepada tokoh lain.

Psikolog Raymond Mar dan Keith Oatley termasuk peneliti yang banyak mempelajari hubungan antara membaca fiksi dan kemampuan memahami dunia sosial. Sejumlah penelitian mereka menemukan hubungan antara keterlibatan dengan fiksi dan kemampuan memahami keadaan mental serta perspektif orang lain. Hubungannya tentu tidak sesederhana membaca satu novel lalu seseorang otomatis menjadi lebih berempati. Namun fiksi menyediakan semacam ruang simulasi sosial: pembaca berlatih melihat dunia dari sudut pandang yang bukan miliknya sendiri.

Bukankah kepedulian sering bermula dari kemampuan seperti itu? Kita mungkin sulit peduli kepada sesuatu yang tidak pernah benar-benar kita perhatikan.

Hal yang sama terjadi ketika berjalan kaki. Cobalah sesekali melewati lingkungan yang biasa kita lalui tanpa menjadikan telepon sebagai pusat perhatian. Tiba-tiba ada banyak hal yang sebelumnya seperti tidak ada.

Warung di ujung jalan ternyata sudah tutup. Pohon mangga mulai berbunga. Rumah tetangga sedang direnovasi. Selokan dipenuhi sampah plastik. Penjual makanan yang biasanya mangkal di sudut jalan tidak terlihat beberapa hari. Satpam yang setiap pagi membuka gerbang tampak lebih pendiam.

Tidak semuanya membutuhkan tindakan. Tidak setiap perubahan harus kita campuri. Tetapi kita menyadarinya. Dan kemampuan menyadari mungkin merupakan tahap yang sering hilang sebelum kepedulian muncul.

Psikolog Ellen Langer selama puluhan tahun mempelajari mindfulness dari perspektif yang sedikit berbeda dari praktik meditasi yang kini populer. Salah satu gagasan penting dalam pendekatannya adalah kebiasaan secara aktif memperhatikan hal-hal baru—actively noticing new things. Ketika manusia memperhatikan perubahan, konteks, dan perbedaan yang sebelumnya terlewatkan, ia menjadi lebih terlibat dengan keadaan yang sedang dialaminya.

Saya menyukai gagasan itu karena latihan kepekaan ternyata tidak harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Ia bisa dimulai dari memperhatikan.

Baca Juga: Mengapa Kita Masih Mempertahankan Lomba 17-an? 

Orang Terdekat Pun Bisa Berubah Jadi Latar Belakang

Ironisnya, semakin sering kita bertemu seseorang, semakin mudah pula kita merasa sudah mengenalnya.

Kita tahu kebiasaan pasangan, anak, orangtua, saudara, atau teman dekat. Karena merasa tahu, kita mulai berhenti mengamati. Jawaban ‘baik’ diterima sebagai baik. Wajah murung dianggap sedang lelah. Cerita yang berulang dianggap cerewet. Diam dianggap tidak ada masalah.

Padahal manusia berubah. Orang yang sama yang sarapan bersama kita pagi ini tidak sepenuhnya sama dengan dirinya setahun lalu. Ia mungkin sedang mempunyai kekhawatiran baru, menyimpan keinginan yang belum diceritakan, merasa kehilangan sesuatu, atau justru sedang bahagia terhadap sesuatu yang menurut kita kecil.

Mendengarkan karena itu bukan hanya menunggu giliran berbicara. Kadang kita perlu membiarkan sebuah cerita selesai tanpa buru-buru menawarkan solusi. Mendengar perubahan nada suara. Mengingat sesuatu yang berkali-kali disebut. Memperhatikan hal yang biasanya dilakukan tetapi belakangan tidak lagi dilakukan.

Bukan supaya kita menjadi detektif bagi kehidupan orang-orang terdekat. Justru supaya kedekatan tidak membuat kita berhenti mengenali mereka. Hal serupa berlaku kepada diri sendiri.

Tubuh sebenarnya cukup banyak berbicara. Tidur mulai tidak nyenyak. Bahu terus menegang. Kita lebih mudah tersinggung. Hal yang biasanya menyenangkan terasa hambar. Konsentrasi semakin pendek. Namun kita sering mempunyai kemampuan luar biasa untuk mengabaikan semuanya selama masih bisa bekerja dan menyelesaikan kewajiban.

Kita baru mendengarkan ketika tubuh berbicara lebih keras. Mungkin perhatian kepada diri sendiri bukan berarti terus-menerus memeriksa perasaan. Ia cukup berupa kebiasaan bertanya sesekali: apa yang sedang terjadi pada diri saya belakangan ini?

Pertanyaan yang sama dapat diperluas kepada keluarga, tetangga, tempat kerja, bahkan lingkungan tempat kita hidup. Apa yang berubah? Apa yang sebelumnya ada tetapi sekarang hilang? Siapa yang belakangan jarang terlihat? Apa yang selama ini kita anggap biasa hanya karena setiap hari berada di depan mata?

Di zaman ketika perhatian kita terus diperebutkan, pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itu mungkin semakin penting. Ada layar yang selalu menawarkan gambar berikutnya, kabar berikutnya, video berikutnya, percakapan berikutnya. Kita menjadi sangat terlatih untuk berpindah, tetapi belum tentu terlatih untuk tinggal sedikit lebih lama pada satu hal.

Saya tidak ingin menyalahkan teknologi untuk semuanya. Manusia sejak dulu juga bisa abai kepada orang di sebelahnya. Masa lalu pun bukan dunia yang seluruh penghuninya saling memperhatikan dengan penuh kasih.

Tetapi ada baiknya sesekali kita bertanya apa yang terjadi ketika hidup semakin penuh oleh sesuatu yang meminta perhatian, sementara jumlah perhatian yang kita miliki tetap terbatas.

Mungkin kita tidak membutuhkan lebih banyak hal untuk dilihat. Kita membutuhkan kemampuan melihat kembali apa yang sudah ada.

Besok pagi, sebelum mencari kabar terbaru dari tempat yang jauh, mungkin kita bisa mencoba satu hal sederhana. Perhatikan wajah orang yang sarapan bersama kita. Dengarkan suara rumah. Lihat jalan yang dilewati setiap hari. Rasakan tubuh sendiri sebelum mulai bekerja.

Tidak perlu segera melakukan sesuatu. Tidak perlu menjadikannya proyek untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Perhatikan saja. Sebab kepekaan barangkali bukan kemampuan untuk merasakan lebih banyak daripada orang lain. Ia adalah kebiasaan untuk tidak terlalu cepat melewati sesuatu.

Dan kepedulian sering mempunyai permulaan yang jauh lebih sederhana daripada yang kita bayangkan: kita menyadari bahwa sesuatu ada, melihat bahwa sesuatu berubah, lalu memutuskan bahwa itu cukup berarti untuk tidak kita abaikan. []

Bandung, 04 September 2026