Oleh Liora Maheswari
Ada sesuatu yang hampir selalu berubah ketika Agustus datang. Bendera merah putih mulai muncul di depan rumah, umbul-umbul dipasang di mulut gang, pengeras suara yang selama berbulan-bulan diam tiba-tiba kembali terdengar, dan anak-anak mulai membicarakan lomba apa yang akan mereka ikuti tahun ini.
Di banyak tempat, daftar kegiatannya bahkan tidak terlalu berbeda dari tahun sebelumnya: makan kerupuk, balap karung, kelereng dalam sendok, tarik tambang, memasukkan pensil ke botol, sampai panjat pinang yang masih bertahan di sejumlah daerah.
Kita mungkin tidak pernah benar-benar mempertanyakan mengapa semua itu terus dilakukan. Agustus datang, lomba digelar, hadiah dibagikan, lalu kehidupan kembali seperti biasa. Tahun berikutnya, ritual yang hampir sama diulang kembali. Anak-anak yang dahulu ikut berlari membawa kelereng kini mungkin sudah menjadi orang tua yang berdiri di pinggir lapangan sambil menyemangati anaknya melakukan permainan serupa.
Padahal kehidupan masyarakat Indonesia sudah berubah sangat jauh. Anak-anak yang dulu mencari teman bermain dengan mengetuk pintu rumah tetangga kini dapat bermain bersama orang yang tinggal ribuan kilometer jauhnya melalui layar. Orang dewasa semakin sibuk, aktivitas sehari-hari semakin individual, dan berbagai kebutuhan dapat dipenuhi tanpa banyak berinteraksi dengan lingkungan tempat tinggal. Kita semakin mudah terhubung dengan dunia, tetapi belum tentu semakin mengenal orang yang tinggal beberapa meter dari rumah kita.
Anehnya, lomba 17-an masih bertahan di tengah semua perubahan itu. Ia bahkan tidak membutuhkan instruksi besar untuk terus hidup. Masyarakat mengulangnya sendiri, seolah ada sesuatu di dalam tradisi sederhana tersebut yang masih kita perlukan sampai sekarang.
Baca Juga: Bangsa Kita Mudah Memaafkan, atau Sekadar Mudah Melupakan?
Tradisi yang Tidak Merasa Sedang Menjadi Tradisi
Ketika berbicara tentang tradisi, pikiran kita biasanya segera menuju sesuatu yang berusia ratusan tahun. Kita membayangkan upacara adat, tarian, pakaian tradisional, makanan khas, atau berbagai ritual yang diwariskan dari generasi ke generasi. Kita jarang memasukkan balap karung dan makan kerupuk ke dalam pembicaraan serius mengenai kebudayaan.
Namun, budaya tidak selalu lahir dari sesuatu yang sakral atau megah. Ia juga tumbuh dari kebiasaan yang dilakukan bersama, diulang terus-menerus, lalu diwariskan kepada generasi berikutnya. Pada titik tertentu, orang bahkan tidak lagi membutuhkan alasan untuk melakukannya karena kebiasaan tersebut sudah menjadi bagian dari ingatan kolektif.
Barangkali lomba 17-an hidup melalui mekanisme seperti itu. Tidak ada kewajiban bagi sebuah kampung untuk mengadakan balap karung. Tidak ada aturan yang mengharuskan setiap RT menggantung kerupuk pada seutas tali. Bahkan tidak ada standar nasional tentang bagaimana tarik tambang harus dilakukan ketika merayakan kemerdekaan.
Namun setiap Agustus, orang melakukannya lagi. Menariknya, yang diwariskan bukan hanya jenis permainannya. Ada pengalaman sosial yang ikut berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya. Anak-anak belajar bahwa Agustus berarti bermain bersama. Orang dewasa memahami bahwa ada satu waktu dalam setahun ketika mereka perlu berkumpul, membentuk panitia, mengumpulkan hadiah, memasang dekorasi, dan menciptakan keramaian di lingkungan tempat tinggalnya.
Mungkin inilah salah satu bentuk kebudayaan yang paling hidup. Ia tidak membutuhkan museum untuk menyimpannya karena masyarakat masih mempraktikkannya. Ia tidak membutuhkan seminar untuk menjelaskan pentingnya pelestarian karena orang-orang melestarikannya tanpa merasa sedang melakukan pekerjaan kebudayaan.
Tentu bentuknya terus berubah. Ada lomba-lomba baru yang mengikuti perkembangan zaman, aturan yang dimodifikasi agar lebih lucu, hadiah yang berbeda, bahkan dokumentasinya sekarang memenuhi media sosial. Namun inti kegiatannya tetap hampir sama: sekelompok orang berkumpul dan bersedia meluangkan waktu untuk melakukan sesuatu bersama. Justru bagian terakhir itulah yang mungkin semakin berharga.
Baca Juga: Mengapa Kita Selalu Ingin Jadi Orang Pertama yang Mengabarkan?
Mungkin yang Dipertahankan Bukan Lombanya
Kehidupan modern membuat banyak hal menjadi lebih mudah, tetapi kemudahan itu juga perlahan mengurangi alasan kita untuk bertemu. Kita tidak perlu datang ke warung untuk membeli makanan karena ada layanan antar. Tidak harus pergi ke toko untuk berbelanja karena hampir semuanya dapat dipesan melalui aplikasi. Bahkan pekerjaan dan rapat dapat dilakukan dari rumah tanpa perlu bertemu secara langsung.
Efisiensi memang memberikan banyak manfaat. Namun tanpa disadari, banyak pertemuan kecil yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari ikut menghilang. Kita mungkin mengetahui kabar seorang selebritas beberapa menit setelah sesuatu terjadi kepadanya, tetapi tidak mengetahui nama orang yang baru pindah ke rumah di ujung gang.
Di tengah keadaan seperti itu, lomba 17-an tiba-tiba mempunyai fungsi yang berbeda. Ia bukan lagi hanya perayaan kemerdekaan. Untuk beberapa hari, ia menjadi alasan bagi orang untuk keluar dari rumah dan kembali melihat siapa saja yang sebenarnya hidup bersama mereka dalam satu lingkungan.
Orang yang biasanya hanya saling mengangguk ketika berpapasan mendadak duduk bersama dalam rapat panitia. Bapak-bapak yang sepanjang tahun sibuk bekerja bisa berada dalam satu tim tarik tambang. Ibu-ibu mengatur konsumsi atau ikut lomba yang sering kali justru paling ramai ditonton. Anak-anak yang mungkin sebelumnya hanya saling mengenal wajah mulai mengetahui nama satu sama lain.
Tidak semua interaksi itu akan berubah menjadi persahabatan. Setelah Agustus selesai, sebagian besar orang mungkin kembali kepada rutinitasnya masing-masing. Namun setidaknya pernah ada satu ruang ketika lingkungan tempat tinggal tidak hanya dipahami sebagai kumpulan alamat. Ia kembali jadi komunitas.
Barangkali karena itulah lomba 17-an tetap terasa relevan bahkan ketika bentuk hiburan sudah berubah begitu drastis. Yang membuatnya bertahan mungkin bukan karena masyarakat Indonesia begitu mencintai balap karung atau memiliki hubungan emosional yang luar biasa dengan kerupuk yang digantung menggunakan tali. Permainan-permainan itu hanyalah alat yang memungkinkan sesuatu yang lebih penting terjadi.
Kita bertemu. Kita tertawa bersama. Kita mengenali kembali orang-orang yang selama ini hidup begitu dekat, tetapi sering berada jauh dari perhatian kita.
Ada sesuatu yang menarik ketika memikirkan kemerdekaan melalui pengalaman seperti ini. Kemerdekaan biasanya kita kenang melalui peristiwa besar: perjuangan, proklamasi, para pahlawan, dan perjalanan panjang membentuk sebuah negara. Semua itu tentu tidak boleh kehilangan tempatnya dalam ingatan kita. Namun sebuah bangsa juga hidup melalui hubungan-hubungan kecil yang berlangsung setiap hari di antara warganya.
Indonesia bukan hanya sesuatu yang hadir dalam peta atau upacara kenegaraan. Indonesia juga hidup di sebuah gang ketika puluhan orang berbeda usia dan pekerjaan bersedia berdiri di bawah matahari hanya untuk melihat dua kelompok menarik seutas tambang. Ia hidup ketika seseorang yang tidak terlalu kita kenal ikut tertawa melihat kita terjatuh dari karung. Ia hidup ketika anak-anak menerima hadiah sederhana dengan kegembiraan yang mungkin jauh lebih besar daripada harga barang yang mereka bawa pulang.
Mungkin itu sebabnya kita masih mempertahankan lomba 17-an. Bukan karena kita tidak memiliki bentuk hiburan yang lebih modern, dan bukan pula karena masyarakat tidak mampu menciptakan cara perayaan yang baru. Kita mempertahankannya karena di balik segala kelucuannya, tradisi ini masih menyediakan sesuatu yang semakin sulit ditemukan dalam kehidupan modern: alasan sederhana untuk hadir bersama.
Kelak bentuk lombanya mungkin berubah. Beberapa permainan mungkin menghilang dan digantikan permainan baru yang lebih dekat dengan generasi berikutnya. Tidak ada yang salah dengan perubahan itu karena kebudayaan memang tidak harus membeku agar tetap hidup.
Yang lebih penting adalah sesuatu yang berada di balik perlombaan tersebut tidak ikut menghilang. Kesediaan untuk keluar rumah, mengenal tetangga, bekerja bersama, tertawa tanpa terlalu memikirkan perbedaan, dan merasa menjadi bagian dari lingkungan yang sama adalah warisan yang nilainya mungkin jauh lebih besar daripada hadiah apa pun yang dibagikan setelah lomba selesai.
Jadi, ketika Agustus kembali datang dan kita melihat karung mulai disiapkan, kerupuk mulai digantung, atau tali tambang dibentangkan di tengah jalan, mungkin kita tidak sedang menyaksikan permainan lama yang keras kepala menolak punah. Kita sedang melihat sebuah kebiasaan sederhana yang terus mencari cara agar masyarakat tidak lupa bagaimana rasanya menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Dan selama kebutuhan untuk bertemu, mengenal, serta merasa menjadi bagian dari lingkungan masih ada, barangkali lomba 17-an akan terus menemukan alasannya untuk bertahan. []
Bandung, 13 Agustus 2026