Oleh Liora Maheswari

Ada alasan mengapa musik yang gelisah hampir selalu muncul ketika masyarakat sedang mempunyai sesuatu untuk digelisahkan. Ia mungkin datang sebagai lagu rakyat, folk, punk, hip-hop, rock, atau metal. Bentuknya berubah mengikuti zaman, tetapi dorongannya hampir sama: ada sesuatu yang ingin dikatakan, sementara percakapan biasa terasa tidak lagi cukup untuk menampungnya.

Voice of Baceprot tampaknya memahami fungsi musik seperti itu sejak lama. Trio asal Garut yang terdiri dari Firda Marsya Kurnia, Widi Rahmawati, dan Euis Siti Aisyah ini memang tidak tumbuh sebagai band yang hanya ingin menghasilkan bunyi keras. Bahkan nama ‘baceprot’ itu berasal dari bahasa Sunda yang kurang lebih berarti berisik atau bawel. Sejak awal, kebisingan mereka memiliki isi: kegelisahan terhadap sesuatu yang terjadi di sekelilingnya. 

Maka ketika “Garong” dirilis pada 16 Agustus lalu, sehari sebelum Indonesia merayakan kemerdekaannya, saya justru tertarik memikirkan sesuatu yang lebih besar daripada sebuah lagu baru. Bukan hanya tentang apa yang sedang diteriakkan Voice of Baceprot melalui musiknya, melainkan mengapa musik dari zaman ke zaman seperti tidak pernah kehilangan kebutuhan untuk ikut bersuara.

Kita sebenarnya sudah memiliki begitu banyak cara untuk menyampaikan kritik. Ada media massa, media sosial, ruang diskusi, demonstrasi, penelitian, laporan lembaga, sampai perdebatan yang setiap hari berlangsung di ruang digital. Namun entah mengapa, ketika keresahan berubah menjadi lagu, ia mendapatkan kehidupan yang berbeda.

Kritik yang tadinya hanya dibaca dapat dinyanyikan. Kemarahan yang semula dimiliki seseorang dapat diteriakkan ribuan orang secara bersamaan. Sebuah gagasan bahkan dapat tinggal di kepala jauh lebih lama daripada berita yang pertama kali melahirkannya. Mungkin itulah salah satu kekuatan musik yang sering kita lupakan.

Baca Juga: Mengapa Kita Masih Mempertahankan Lomba 17-an?

Musik Tidak Hanya Merekam Zaman, Ia Ikut Berbicara kepadanya

Ada kecenderungan melihat musik sebagai sesuatu yang terpisah dari kehidupan sosial. Musik adalah hiburan. Kita mendengarkannya dalam perjalanan, ketika bekerja, saat berolahraga, atau ketika membutuhkan teman untuk mengisi kesunyian. Musisi membuat lagu, pendengar menikmatinya, kemudian industri mengubahnya menjadi sesuatu yang dapat dipasarkan.

Namun sejarah musik memperlihatkan bahwa hubungannya dengan masyarakat tidak pernah sesederhana itu. Musik selalu membawa sesuatu dari zaman ketika ia dilahirkan. Kadang yang dibawanya adalah kegembiraan. Kadang romantisme. Kadang ketakutan, kemarahan, ketidakadilan, atau perlawanan. Sebuah generasi sering kali dapat dikenali bukan hanya dari peristiwa politik yang dialaminya, tetapi juga dari lagu-lagu yang mereka nyanyikan ketika menghadapi peristiwa tersebut.

Voice of Baceprot berdiri cukup jelas dalam tradisi itu. Mereka telah menggunakan lagu untuk berbicara tentang lingkungan, kebebasan berekspresi, ketimpangan gender, kekerasan, nepotisme, penyalahgunaan kekuasaan, hingga korupsi. Dalam “Madness of The Present Century”, misalnya, mereka menyampaikan kritik terhadap situasi politik, penyalahgunaan kekuasaan, dan korupsi. Sementara “Put The Gun Down” lahir dari kegelisahan terhadap represi, kekerasan, dan ketidakadilan yang mereka lihat di sekelilingnya. 

Marsya pernah menjelaskan bahwa lagu-lagu mereka tidak selalu dimaksudkan untuk menunjuk satu individu atau satu kelompok tertentu. Banyak di antaranya berangkat dari pengalaman pribadi dan pengamatan terhadap apa yang terjadi di sekitar mereka. Musik menjadi cara untuk mengajak lebih banyak orang melihat kegelisahan yang sama.  Mungkin karena itu metal terasa seperti rumah yang cukup masuk akal bagi mereka.

Dalam wawancara dengan SBS Australia bertahun-tahun lalu, Marsya menyebut metal sebagai musik pemberontakan yang paling mampu mewakili kegelisahan mereka sebagai anak muda. Kalimat itu menarik karena memperlihatkan bahwa pilihan genre ternyata bukan sekadar urusan selera bunyi. Ada emosi tertentu yang membutuhkan bentuk tertentu pula. 

Kemarahan tentu dapat ditulis dalam sebuah esai. Kritik dapat disampaikan dengan suara tenang dalam ruang diskusi. Namun gitar yang meraung, bas yang berat, pukulan drum yang keras, dan suara yang diteriakkan mempunyai cara berbeda untuk membawa emosi kepada pendengar.

Kita bukan hanya memahami kemarahannya. Kita ikut merasakannya.

Di situlah musik memiliki kemampuan yang sulit digantikan oleh bentuk komunikasi lain. Ia tidak selalu meminta kita memahami persoalan melalui argumen yang panjang. Kadang ia membawa kita masuk melalui emosi, kemudian meninggalkan pertanyaan yang baru kita pikirkan setelah lagunya selesai.

Baca Juga: Bangsa Kita Mudah Memaafkan, atau Sekadar Mudah Melupakan? 

Ada Saatnya Berisik Justru Menjadi Cara untuk Tidak Menyerah

Menariknya, Voice of Baceprot tidak hanya menggunakan musik untuk mengkritik dunia di luar dirinya. Perjalanan mereka sendiri sudah lama berhubungan dengan persoalan kebebasan berekspresi. Tiga perempuan muda berhijab memainkan metal tentu pernah berhadapan dengan prasangka tentang seperti apa perempuan seharusnya bersikap, musik apa yang pantas dimainkan, bahkan anggapan bahwa metal bertentangan dengan identitas keagamaan mereka.

Pengalaman itu kemudian ikut masuk ke dalam karya. Dalam “God, Allow Me [Please] to Play Music”, misalnya, Marsya menjelaskan bahwa mereka ingin menggunakan hak berekspresi untuk menjawab orang-orang yang menganggap musik mereka sebagai sesuatu yang buruk atau tidak pantas bagi perempuan Muslim. Dalam wawancara yang sama, ia mengatakan bahwa mereka menulis tentang isu perempuan, kemanusiaan, lingkungan, dan berbagai hal yang mereka pedulikan karena semuanya terjadi di sekitar mereka. 

Maka “berisik” bagi Voice of Baceprot mempunyai makna yang menarik. Berisik tak selalu berarti membuat kegaduhan tanpa tujuan. Ada saat ketika berisik adalah cara memastikan sebuah persoalan tidak disapu ke bawah karpet. Ada keadaan ketika suara memang perlu dinaikkan karena suara yang lebih pelan sudah terlalu mudah dilewatkan.

Musik mempunyai sejarah panjang sebagai ruang semacam itu. Kekuasaan dapat mengabaikan laporan. Publik dapat bosan membaca berita. Sebuah isu dapat tenggelam oleh isu lain hanya dalam beberapa hari. Namun lagu bekerja dengan cara yang aneh. Ia bisa kembali diputar bertahun-tahun kemudian dan tiba-tiba terasa relevan lagi.

Itulah sebabnya lagu-lagu protes sering mempunyai umur yang lebih panjang daripada peristiwa yang melahirkannya. Bukan karena persoalan di dalamnya selalu sama persis, melainkan karena manusia terus menemukan bentuk baru dari persoalan lama: ketidakadilan, keserakahan, kekerasan, diskriminasi, penyalahgunaan kekuasaan, atau kebebasan yang harus diperjuangkan kembali.

Di titik itu, saya merasa penting untuk tidak menuntut musisi selalu bersikap politis. Musik juga berhak menjadi kesenangan. Sebuah lagu boleh hanya ingin membuat orang menari, jatuh cinta, mengenang seseorang, atau menemani perjalanan pulang. Seniman tidak memiliki kewajiban untuk mengubah setiap karya menjadi manifesto.

Namun kita juga tidak seharusnya meminta musik diam ketika penciptanya memang mempunyai sesuatu yang ingin disampaikan. Sebab seni kehilangan sebagian kekuatannya ketika hanya diperbolehkan menjadi indah.

Voice of Baceprot sendiri pernah menyatakan bahwa karya seni bagi mereka tidak semata-mata soal estetika. Dalam penjelasan mengenai “Put The Gun Down”, mereka berbicara tentang tanggung jawab moral karya untuk berpihak kepada kemanusiaan. Pernyataan itu membantu menjelaskan mengapa kritik sosial terus muncul dalam perjalanan musik mereka. 

Mungkin “Garong” hanya menjadi pengingat terbaru tentang tradisi tersebut. Sebuah lagu lahir, suara gitar kembali dinaikkan, drum dipukul lebih keras, dan sesuatu yang mengganggu pikiran penciptanya memperoleh bentuk yang dapat didengar orang lain. Sebagian orang mungkin setuju dengan pesannya, sebagian tidak. Itu wajar, karena seni yang berbicara tentang keadaan sosial memang tidak harus menghasilkan kesepakatan. Yang lebih penting adalah ruang percakapannya tetap ada.

Kita sering mengatakan bahwa musik adalah bahasa universal. Saya tidak sepenuhnya yakin. Selera musik saja sudah cukup untuk membuat manusia berdebat panjang. Namun mungkin ada satu hal yang memang universal dari musik: manusia selalu menggunakannya untuk mengatakan sesuatu yang sulit disimpan sendirian.

Ada lagu ketika kita jatuh cinta. Ada lagu ketika kehilangan seseorang. Ada lagu ketika ingin merayakan kehidupan. Maka tidak mengherankan jika ada pula lagu ketika manusia sedang marah kepada keadaan.

Selama masih ada ketidakadilan yang membuat seseorang gelisah, selama ada kekuasaan yang perlu dipertanyakan, selama ada kelompok yang merasa suaranya tidak didengar, musik akan terus menemukan alasan untuk menjadi berisik.

Voice of Baceprot kebetulan memilih metal sebagai pengeras suaranya.

Dan mungkin nama mereka sejak awal sudah mengatakan semuanya. Ada masa ketika dunia memang membutuhkan orang-orang yang bersedia baceprot. Bukan karena mereka menikmati kebisingan, melainkan karena diam terkadang justru menjadi cara paling mudah untuk membiarkan sesuatu yang keliru terus berlangsung.

“Garong” datang sebagai lagu baru. Namun alasan yang membuat musik seperti itu terus lahir sebenarnya sudah sangat tua: ketika manusia mempunyai sesuatu yang dianggap penting untuk dikatakan, seni hampir tidak pernah benar-benar bisa disuruh diam. []

Bandung, 19 Agustus 2026