Leher pegal diberi kompres hangat. Pergelangan kaki yang baru terkilir diberi dingin. Keduanya bisa meredakan nyeri, tetapi bekerja dengan cara yang berbeda.
Ketika bagian tubuh terasa sakit, salah satu pertolongan rumahan yang paling mudah dilakukan adalah mengambil sesuatu dari kulkas atau menyiapkan air hangat. Masalahnya muncul beberapa detik kemudian. Harus dingin atau hangat?
Kebingungan itu masuk akal karena keduanya memang dapat membuat tubuh terasa lebih nyaman. Kompres dingin dapat mengurangi rasa sakit, sementara hangat juga dapat membantu meredakan nyeri dan kekakuan. Pilihannya lebih mudah dipahami jika kita tidak hanya melihat 'sakitnya', tetapi juga memperhatikan apa yang sedang terjadi pada bagian tubuh tersebut.
Karena itu, pertanyaan yang lebih berguna bukan sekadar 'mana yang lebih bagus?' Kita perlu melihat apakah keluhannya baru terjadi dan disertai bengkak, atau justru berupa otot yang kaku dan tegang. Waktu terjadinya keluhan juga dapat mengubah pilihan.
Baca Juga: Yang Membuat Pusing Tidak Selalu Ada di Kepala
Dingin Lebih Berguna ketika Tubuh Sedang Bereaksi terhadap Cedera Baru
Bayangkan pergelangan kaki terkilir ketika turun tangga. Tidak lama kemudian muncul nyeri dan pembengkakan. Dalam situasi cedera akut seperti ini, kompres dingin biasanya menjadi pilihan awal untuk membantu mengurangi nyeri dan pembengkakan.
Johns Hopkins Medicine menjelaskan bahwa terapi dingin menurunkan suhu kulit, mengurangi aktivitas saraf, serta dapat membantu mengurangi nyeri dan pembengkakan. Efek dingin juga menyebabkan pembuluh darah menyempit sementara. Karena itu, terapi ini terutama berguna ketika keluhan disertai pembengkakan, termasuk pada area sekitar sendi atau tendon.
Mayo Clinic memberikan anjuran serupa pada cedera otot. Untuk muscle strain, es yang dibungkus kain dapat digunakan sekitar 15–20 menit setiap kali pemberian pada beberapa hari pertama setelah cedera. Lapisan kain penting karena suhu yang sangat dingin tidak seharusnya bersentuhan langsung dengan kulit dalam waktu lama.
Inilah sebabnya memberi kompres hangat segera pada pergelangan kaki yang baru terkilir dan membengkak bukan selalu pilihan tepat. Panas meningkatkan aliran darah pada area yang diberikan terapi dan pada fase awal cedera dapat memperburuk pembengkakan. Johns Hopkins menyarankan panas tidak digunakan selama 48 jam pertama pada cedera akut.
Namun 'dingin' juga bukan berarti menempelkan es batu langsung pada kulit sampai bagian tersebut mati rasa. Cleveland Clinic mengingatkan penggunaan es terlalu lama dapat menyebabkan kerusakan jaringan. Untuk cedera ringan, dokter keluarga John Hanicak menyebut anjuran tradisional sekitar 10–20 menit setiap kali pemberian selama 24–48 jam pertama.
Baca Juga: Mengapa Kita Masih Percaya Resep Rumahan yang Diturunkan dari Orangtua?
Hangat Lebih Bersahabat dengan Otot yang Kaku dan Tegang
Situasinya berbeda ketika seseorang bangun setelah lama bekerja di depan komputer dan lehernya terasa kaku. Tidak ada benturan baru atau pembengkakan yang jelas, tetapi otot terasa tegang dan tidak nyaman ketika digerakkan. Dalam keadaan seperti ini, kehangatan sering terasa lebih membantu.
Cleveland Clinic menjelaskan bahwa terapi panas dapat membantu cedera yang lebih lama, ketegangan umum, dan kekakuan dengan merelaksasi otot serta mendorong aliran darah. Panas juga dapat membantu meningkatkan fleksibilitas sehingga bagian tubuh yang kaku terasa lebih nyaman digerakkan.
Itu pula yang menjelaskan mengapa mandi air hangat terasa menyenangkan setelah tubuh kaku atau seharian berada dalam posisi yang sama. Tujuannya bukan 'menghilangkan peradangan' dengan panas, melainkan membantu jaringan yang tegang menjadi lebih rileks. Kompres hangat, heating pad, mandi, atau berendam air hangat dapat memberikan efek serupa.
Pilihan bahkan dapat berubah selama proses pemulihan. Cedera yang pada awalnya membutuhkan dingin karena masih nyeri dan membengkak dapat beberapa hari kemudian meninggalkan rasa kaku. Cleveland Clinic menyebut setelah sekitar 48 jam, panas dapat mulai digunakan pada sejumlah cedera ringan untuk membantu mengatasi kekakuan yang muncul.
Jadi, satu keluhan tidak selalu mempunyai jawaban 'hangat' atau 'dingin' untuk selamanya. Kondisi jaringan dan fase pemulihannya dapat berubah. Bahkan pada beberapa keluhan kronis, orang dapat merasa terbantu oleh kombinasi keduanya sesuai gejala yang sedang dominan.
Keduanya juga tetap membutuhkan kehati-hatian. Sumber panas yang terlalu tinggi dapat menyebabkan luka bakar, sementara es yang ditempelkan terlalu lama dapat merusak kulit dan jaringan. Orang yang memiliki gangguan sensasi atau kondisi tertentu seperti diabetes juga perlu lebih berhati-hati karena mungkin tidak cepat menyadari terjadinya kerusakan akibat suhu.
Kompres pun bukan alat untuk menutupi setiap jenis nyeri. Cedera berat, bentuk anggota tubuh yang berubah, kesulitan menggerakkan atau menumpu bagian tubuh, mati rasa, pembengkakan berat, atau keluhan yang tidak membaik perlu dinilai tenaga kesehatan. Cedera kepala yang disertai pusing, muntah, sakit kepala, atau kebingungan juga memerlukan pertolongan medis segera.
Mungkin kita sering tertukar karena selama ini hanya mengingat dua benda: es untuk dingin dan air untuk hangat. Padahal yang lebih penting adalah membaca keadaan tubuh. Jika keluhannya baru dan membengkak, dingin sering lebih berguna; ketika masalahnya dominan berupa kaku dan tegang, kehangatan dapat lebih nyaman.
Dengan memahami logikanya, memilih kompres tidak lagi sekadar mengikuti kebiasaan orang rumah. Hangat dan dingin sama-sama dapat berguna, tetapi bukan karena keduanya melakukan pekerjaan yang sama. Yang menentukan pilihan adalah apa yang sedang terjadi pada tubuh ketika rasa sakit itu muncul. [][Adrian Damar/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.