Oleh Eva Evilia
Setiap kali sebuah berita besar muncul, hampir selalu ada pertanyaan yang menyusul: ini pengalihan isu dari persoalan apa?
Belakangan, ketika kasus dugaan penyadapan menjadi perbincangan, kecurigaan serupa kembali terdengar. Sebagian orang mempertanyakan apakah perhatian masyarakat sedang sengaja dialihkan dari persoalan lain yang belum selesai. Kecurigaan tersebut boleh saja muncul, tetapi apakah kemunculan sebuah isu baru cukup untuk membuktikan adanya pengalihan yang direncanakan?
Saya tertarik pada pertanyaan itu karena istilah pengalihan isu semakin mudah digunakan dalam percakapan publik. Berita yang tiba-tiba ramai dianggap mencurigakan, terutama ketika muncul bersamaan dengan persoalan politik yang belum memperoleh penyelesaian. Padahal, dua peristiwa yang terjadi berdekatan tidak otomatis memiliki hubungan sebab-akibat.
Sebaliknya, menganggap semua perubahan perhatian sebagai sesuatu yang alamiah juga terlalu menyederhanakan persoalan. Pemerintah, kelompok kepentingan, perusahaan, dan pelaku komunikasi politik memang dapat berusaha memengaruhi perhatian masyarakat. Hanya saja, kemungkinan adanya kepentingan tidak sama dengan bukti bahwa sebuah peristiwa sengaja diciptakan untuk menutupi peristiwa lainnya.
Di sinilah saya ingin membedakan dua hal: perhatian yang sengaja dialihkan dan perhatian yang memang mudah teralihkan. Keduanya dapat menghasilkan keadaan yang tampak serupa, yakni sebuah persoalan menghilang dari percakapan ketika persoalan baru menjadi pusat perhatian. Tetapi mekanisme yang bekerja di baliknya belum tentu sama.
Baca Juga: Akar Kabar #001: Yang Mengarahkan Percakapan Kita, Siapa?
Ketika Perhatian Publik Menjadi Sesuatu yang Diperebutkan
Pada 1972, Maxwell McCombs dan Donald Shaw menerbitkan penelitian berjudul The Agenda-Setting Function of Mass Media dalam jurnal Public Opinion Quarterly. Penelitian tersebut memperlihatkan hubungan antara penonjolan isu oleh media dan persoalan yang dianggap penting oleh masyarakat dalam konteks pemilihan presiden Amerika Serikat. Dari sinilah teori agenda-setting memperoleh salah satu landasan empiris yang berpengaruh dalam kajian komunikasi.
Gagasan utamanya bukan bahwa media selalu mampu menentukan apa yang harus dipikirkan masyarakat. Media dapat memengaruhi persoalan apa yang memperoleh perhatian dan dianggap penting. Semakin menonjol sebuah isu dalam pemberitaan, semakin besar kemungkinan isu tersebut memperoleh tempat dalam agenda publik, meskipun pengaruhnya tidak selalu sama pada setiap situasi.
Tetapi agenda-setting bukan bukti bahwa setiap perubahan agenda merupakan hasil rekayasa. Media dapat meningkatkan perhatian terhadap sebuah peristiwa karena nilai beritanya, dampaknya terhadap masyarakat, atau adanya perkembangan penting. Dalam waktu bersamaan, pihak yang mempunyai kepentingan tertentu juga dapat berusaha mendorong isu pilihan mereka agar memperoleh sorotan lebih besar.
Persoalan menjadi lebih rumit ketika kita mempertimbangkan framing. Robert M. Entman, melalui artikelnya dalam Journal of Communication pada 1993, menjelaskan bagaimana pemilihan dan penonjolan aspek tertentu dari sebuah peristiwa dapat memengaruhi cara persoalan didefinisikan, penyebabnya dipahami, serta penyelesaian yang dianggap tepat. Dengan kata lain, bukan hanya isu yang dipilih, melainkan juga cara isu tersebut diceritakan.
Sebuah demonstrasi, misalnya, dapat diberitakan dengan menonjolkan tuntutan masyarakat, tindakan aparat, kerusakan fasilitas, atau gangguan lalu lintas. Semua unsur itu mungkin benar-benar terjadi, tetapi penonjolan yang berbeda dapat menghasilkan pemahaman yang berbeda pula. Pembaca perlu memperhatikan bukan hanya apa yang diberitakan, melainkan juga bagian mana yang memperoleh ruang paling besar.
Di era media sosial, proses tersebut semakin kompleks. Redaksi media bukan lagi satu-satunya pihak yang menentukan isu mana yang memperoleh perhatian. Pembuat konten, akun berpengaruh, percakapan warganet, dan sistem rekomendasi platform ikut menentukan informasi yang muncul berulang kali di hadapan pengguna.
Artinya, perhatian publik dapat berubah melalui banyak jalur. Ada keputusan editorial, strategi komunikasi, respons spontan masyarakat, serta sistem distribusi informasi yang tidak selalu terlihat oleh pengguna. Karena itu, menyebut suatu berita sebagai pengalihan isu membutuhkan pemeriksaan lebih jauh daripada sekadar menemukan bahwa berita tersebut sedang ramai.
Jika ada dugaan pengalihan yang disengaja, pertanyaan yang relevan adalah siapa yang melakukannya, tindakan apa yang digunakan, dan bukti apa yang menunjukkan tujuan tersebut. Tanpa pemeriksaan itu, istilah pengalihan isu berisiko berubah menjadi penjelasan serbaguna untuk setiap peristiwa yang tidak sesuai dengan dugaan kita. Kecurigaan yang semula dimaksudkan sebagai sikap kritis justru dapat membuat kita berhenti memeriksa fakta.
Baca Juga: Akar Kabar #001: Yang Mengarahkan Percakapan Kita, Siapa?
Kita Tidak Selalu Dialihkan, Kadang Kita Sendiri yang Beralih
Ada teori lain yang menurut saya lebih dekat dengan kebiasaan masyarakat mengikuti berita. Pada 1972, Anthony Downs memperkenalkan konsep issue-attention cycle melalui tulisan Up and Down with Ecology—The “Issue-Attention Cycle” dalam jurnal The Public Interest. Downs menjelaskan bagaimana perhatian masyarakat terhadap persoalan penting dapat meningkat dengan cepat, kemudian berangsur menurun meskipun persoalan tersebut belum terselesaikan.
Sebuah masalah mula-mula memperoleh perhatian karena dianggap mendesak. Masyarakat membicarakannya, media memberitakannya, dan muncul harapan bahwa penyelesaian akan segera ditemukan. Tetapi ketika persoalannya ternyata rumit, membutuhkan waktu, atau menuntut perubahan yang tidak mudah, perhatian dapat mulai berkurang.
Teori Downs tidak berarti setiap isu pasti mengikuti pola yang sama. Ada persoalan yang terus memperoleh perhatian, ada pula yang kembali muncul setelah sempat mereda. Meski begitu, konsep tersebut membantu menjelaskan mengapa sebuah masalah dapat kehilangan sorotan tanpa harus ada pihak yang sengaja menyingkirkannya.
Saya melihat gejala serupa dalam kebiasaan mengikuti berita melalui media sosial. Hari ini kita marah terhadap dugaan penyalahgunaan kewenangan, besok membicarakan kontroversi seorang tokoh, dan lusa mengikuti kasus baru yang lebih mengejutkan. Perhatian berpindah lebih cepat daripada proses pemeriksaan, penyidikan, atau penyelesaian persoalan yang sebelumnya kita tuntut.
Tentu tidak adil jika seluruh tanggung jawab dibebankan kepada masyarakat. Manusia mempunyai keterbatasan perhatian, sementara informasi baru terus bermunculan. Platform digital juga mempunyai mekanisme distribusi yang dapat membuat konten tertentu lebih mudah ditemukan daripada perkembangan sebuah perkara yang berlangsung lambat.
Tetapi kita tetap mempunyai peran dalam menentukan bagaimana perhatian itu digunakan. Kita sering lebih tertarik pada awal sebuah kontroversi daripada perkembangan penyelesaiannya. Tuduhan yang mengejutkan memperoleh banyak tanggapan, sedangkan hasil pemeriksaan beberapa minggu kemudian belum tentu mendapat perhatian yang sebanding.
Di sinilah pengalihan isu dapat terjadi sebagai akibat, meskipun tidak selalu sebagai rencana. Sebuah persoalan baru menyita perhatian, lalu persoalan sebelumnya kehilangan tekanan publik. Pihak tertentu mungkin memperoleh keuntungan dari perubahan itu, tetapi keuntungan tersebut belum membuktikan bahwa mereka merancang penyebabnya.
Sebaliknya, keterbatasan perhatian masyarakat juga dapat dimanfaatkan secara sengaja. Strategi komunikasi dapat disusun untuk menonjolkan pesan tertentu, mengubah arah pembicaraan, atau mengurangi sorotan terhadap persoalan yang merugikan suatu pihak. Kemungkinan ini tetap perlu diawasi, dengan tuntutan pembuktian yang sama seperti ketika kita menilai tuduhan lainnya.
Saya juga khawatir ketika kecurigaan terhadap pengalihan isu membuat masyarakat meremehkan persoalan baru. Sebuah kasus penyadapan, misalnya, tetap layak diperiksa berdasarkan fakta dan dampaknya, terlepas dari apakah kemunculannya dianggap menguntungkan pihak tertentu. Menyebutnya pengalihan isu tanpa bukti dapat membuat kita mengabaikan persoalan yang sebenarnya juga penting.
Barangkali yang perlu diubah bukan kebiasaan mencurigai kekuasaan, melainkan cara kita mengelola kecurigaan tersebut. Kita dapat mempertanyakan mengapa sebuah isu mendadak memperoleh sorotan tanpa langsung menyimpulkan adanya rekayasa. Kita juga dapat mengikuti perkembangan baru sambil tetap meminta penjelasan mengenai persoalan lama.
Media mempunyai tanggung jawab dalam hal ini. Pemberitaan tidak seharusnya berhenti ketika sebuah kontroversi kehilangan daya tarik. Perkembangan penyelidikan, pelaksanaan janji pemerintah, dan hasil kebijakan tetap penting diberitakan meskipun tidak lagi menghasilkan percakapan yang ramai.
Sebagai pembaca, kita pun dapat mulai membedakan antara mengikuti berita dan mengikuti penyelesaian masalah. Yang pertama sering berlangsung cepat, dipenuhi reaksi, dan mudah berpindah. Yang kedua membutuhkan kesabaran, ingatan, serta kesediaan kembali pada persoalan yang mungkin sudah tidak menarik perhatian banyak orang.
Saya tidak tahu apakah setiap tuduhan pengalihan isu yang beredar belakangan mempunyai dasar. Sebagian mungkin lahir dari pengamatan yang layak ditelusuri, sementara sebagian lainnya bisa jadi hanya dugaan yang terbentuk karena dua peristiwa muncul berdekatan. Yang jelas, teori komunikasi tidak dapat menggantikan bukti mengenai siapa yang melakukan sesuatu dan untuk tujuan apa.
Masyarakat yang kritis bukan masyarakat yang menganggap semua berita sebagai pengalihan isu, melainkan masyarakat yang mampu mengikuti isu baru tanpa melupakan pertanyaan lama yang belum dijawab.
Sebab mungkin persoalan terbesar bukan selalu siapa yang berhasil membuat kita melupakan suatu isu. Bisa jadi, persoalannya adalah betapa jarangnya kita kembali bertanya apakah masalah yang kemarin membuat kita marah sudah benar-benar diselesaikan. []
Bandung, 04 November 2026