Sebuah pesan tidak dibalas. Candaan terasa menyakitkan. Komentar sederhana membuat pikiran sibuk sepanjang malam. Mengapa sesuatu yang tampak kecil bisa mengganggu perasaan begitu dalam?
Dalam percakapan sehari-hari, istilah baper atau terbawa perasaan sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang dianggap terlalu sensitif. Orang yang mudah tersinggung, cepat kecewa, atau terlalu memikirkan perkataan orang lain kerap mendapat label tersebut. Seolah-olah masalahnya hanya terletak pada ketidakmampuan seseorang mengendalikan emosi.
Padahal, respons emosional manusia tidak sesederhana itu. Dua orang dapat mendengar kalimat yang sama, tetapi memberikan makna yang berbeda terhadapnya. Bagi seseorang, komentar tersebut mungkin terdengar seperti candaan biasa, sementara bagi orang lain terasa sebagai bentuk penolakan atau penghinaan.
Perbedaan itu mengundang pertanyaan yang lebih penting daripada sekadar bagaimana cara berhenti baper. Apa sebenarnya yang membuat sebuah perkataan terasa begitu personal, bahkan ketika orang yang mengucapkannya mungkin tidak memiliki maksud buruk? Jawabannya berkaitan dengan cara manusia menafsirkan pengalaman, memandang dirinya sendiri, dan membangun rasa aman dalam hubungan sosial.
Baca Juga: Anak Terlihat Baik-Baik Saja, Bagaimana Kita Tahu ketika Ia Sebenarnya Sedang Tidak Baik?
Mengapa Perkataan Sederhana Bisa Terasa Seperti Serangan Pribadi?
Dalam psikologi, emosi tidak hanya dipengaruhi oleh peristiwa yang terjadi, tetapi juga oleh bagaimana seseorang menilai peristiwa tersebut. Psikolog Richard Lazarus mengembangkan pendekatan cognitive appraisal yang menempatkan proses penilaian sebagai bagian penting dalam munculnya respons emosional. Artinya, perasaan seseorang berkaitan dengan makna yang diberikan terhadap suatu kejadian, bukan semata-mata kejadian itu sendiri.
Bayangkan seorang karyawan menerima pesan singkat dari atasannya yang berbunyi, “Besok kita bicara.” Kalimat tersebut sebenarnya belum menjelaskan apakah pembicaraan akan berkaitan dengan kesalahan, pekerjaan baru, atau urusan rutin. Meski begitu, seseorang yang sedang merasa tidak percaya diri mungkin langsung membayangkan bahwa dirinya telah melakukan kesalahan besar.
Kecemasan kemudian muncul bukan karena isi pesan sudah membuktikan adanya masalah, melainkan karena pikiran lebih dahulu mengisi kekosongan informasi dengan kemungkinan yang mengancam. Pengalaman sebelumnya dapat ikut memengaruhi penafsiran tersebut. Seseorang yang pernah menerima kritik keras dalam situasi serupa mungkin menjadi lebih waspada ketika menghadapi pesan yang ambigu.
Mekanisme ini membantu menjelaskan mengapa perasaan mudah tersinggung tidak selalu berkaitan dengan besarnya persoalan yang sedang dihadapi. Kadang-kadang, suatu peristiwa menyentuh kekhawatiran yang sudah lebih dahulu dimiliki seseorang. Kekhawatiran itu dapat berkaitan dengan penolakan, kegagalan, rasa tidak dihargai, atau ketakutan kehilangan hubungan.
Psikolog Geraldine Downey dan Scott Feldman membahas konsep rejection sensitivity dalam penelitian yang diterbitkan Journal of Personality and Social Psychology pada 1996. Konsep tersebut menggambarkan kecenderungan seseorang untuk mengharapkan penolakan dengan cemas, mudah menangkap tanda-tandanya, dan bereaksi kuat ketika merasa ditolak. Dalam kondisi tertentu, perilaku orang lain yang sebenarnya ambigu dapat ditafsirkan sebagai bukti bahwa dirinya tidak diterima.
Misalnya, seseorang merasa kecewa karena temannya tidak mengajaknya menghadiri sebuah acara. Ia mungkin segera menyimpulkan bahwa persahabatan mereka tidak lagi penting, padahal ada berbagai kemungkinan lain yang belum diketahui. Apabila kesimpulan tersebut dianggap sebagai fakta, rasa sedih dapat berkembang menjadi kemarahan atau keinginan menjauh.
Meski demikian, tidak setiap orang yang mudah tersinggung memiliki sensitivitas terhadap penolakan yang tinggi. Kelelahan, tekanan pekerjaan, kurang tidur, konflik yang belum terselesaikan, dan kondisi emosional sesaat juga dapat memengaruhi kemampuan seseorang menghadapi situasi sosial. Respons yang lebih kuat pada hari tertentu tidak otomatis menunjukkan adanya persoalan psikologis yang menetap.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kebiasaan masyarakat menggunakan kata baper untuk menutup percakapan. Seseorang yang menyampaikan keberatan terhadap candaan menyakitkan kadang justru diminta agar tidak terlalu sensitif. Padahal, keberatan tersebut mungkin merupakan cara yang wajar untuk menyampaikan bahwa sebuah batas pribadi telah dilanggar.
Di sinilah pentingnya membedakan perasaan dengan kesimpulan. Perasaan terluka merupakan pengalaman yang nyata bagi orang yang mengalaminya, tetapi dugaan mengenai niat orang lain masih perlu diperiksa. Sebaliknya, kenyataan bahwa seseorang mungkin tidak bermaksud menyakiti juga tidak otomatis menghapus dampak dari perkataannya.
Baca Juga: Orangtua Sekarang Lebih Lembek kepada Anak, atau Kita Sedang Melihat Cara Mendidik yang Berbeda?
Bagaimana Mengelola Perasaan Tanpa Harus Menyangkalnya?
Ketika seseorang merasa tersinggung, respons pertama yang muncul sering berupa dorongan untuk membalas, menarik diri, atau terus memikirkan kejadian tersebut. Dorongan itu dapat terasa mendesak, seakan harus segera ditindaklanjuti. Padahal, memberi sedikit waktu sebelum bereaksi dapat membantu seseorang memahami apa yang sebenarnya sedang dirasakannya.
Psikolog James J. Gross, melalui kajiannya tentang emotion regulation yang diterbitkan dalam Journal of Personality and Social Psychology pada 1998, meneliti berbagai cara manusia mengatur respons emosional. Salah satu pendekatan yang dibahas adalah cognitive reappraisal, yakni meninjau kembali cara memaknai situasi yang memicu emosi. Strategi ini berbeda dari sekadar menekan ekspresi perasaan agar orang lain tidak mengetahuinya.
Dalam praktik sehari-hari, seseorang dapat memulai dengan membedakan apa yang benar-benar terjadi dan apa yang baru menjadi dugaan. Fakta bahwa pesan belum dibalas, misalnya, tidak sama dengan kesimpulan bahwa pengirimnya sengaja diabaikan. Mempertimbangkan penjelasan alternatif tidak berarti harus selalu berpikir positif, melainkan memberi kesempatan bagi penilaian yang lebih akurat.
Langkah berikutnya adalah mengenali kebutuhan emosional di balik rasa tersinggung. Apakah seseorang merasa tidak dihargai, takut ditinggalkan, malu karena dikritik, atau kecewa karena harapannya tidak terpenuhi? Mengenali kebutuhan tersebut dapat membantu menentukan respons yang lebih tepat daripada langsung menyalahkan diri sendiri atau orang lain.
Ada kalanya respons terbaik justru berupa percakapan yang jelas. Seseorang dapat menyampaikan bahwa candaan tertentu membuatnya tidak nyaman tanpa harus menuduh orang lain sengaja menyakiti. Cara ini membuka kesempatan untuk memperbaiki komunikasi sekaligus menjaga batas pribadi.
Tentu saja, tidak setiap situasi dapat diselesaikan hanya dengan mengubah cara berpikir. Apabila seseorang terus-menerus menerima penghinaan, diremehkan, atau diperlakukan tidak adil, masalahnya mungkin memang terletak pada perilaku orang lain. Dalam keadaan seperti itu, kemampuan mengelola emosi perlu berjalan bersama keberanian menetapkan batas dan mencari dukungan.
Psikolog Kristin Neff, melalui penelitian mengenai self-compassion yang diterbitkan dalam jurnal Self and Identity pada 2003, mengembangkan pendekatan untuk memperlakukan diri sendiri dengan pengertian ketika menghadapi kesulitan atau kegagalan. Pendekatan tersebut tidak berarti membenarkan semua tindakan pribadi atau menghindari tanggung jawab. Sebaliknya, seseorang diajak mengakui pengalaman sulit tanpa terus-menerus menghakimi dirinya.
Sikap semacam ini relevan ketika seseorang merasa malu karena dianggap terlalu baper. Daripada menambah penderitaan dengan menyebut diri lemah atau berlebihan, ia dapat mencoba memahami apa yang membuat situasi tertentu begitu mengganggu. Pemahaman tersebut menjadi langkah awal untuk menentukan apakah yang diperlukan adalah perubahan penafsiran, komunikasi yang lebih baik, atau perlindungan terhadap batas pribadi.
Apabila reaksi emosional terus berulang hingga mengganggu tidur, pekerjaan, atau hubungan sosial, bantuan psikolog dapat menjadi pilihan yang bermanfaat. Pendampingan profesional dapat membantu seseorang mengenali pola pikir dan respons yang sulit diubah sendiri. Mencari bantuan bukan berarti seseorang telah gagal mengendalikan perasaannya.
Menjadi lebih matang secara emosional bukan berarti berhenti merasa sedih, kecewa, atau tersinggung. Kedewasaan justru terlihat dari kemampuan mengenali perasaan tanpa selalu membiarkannya menentukan tindakan. Ada saatnya seseorang perlu memeriksa kembali kesimpulannya, dan ada pula saatnya ia perlu mengakui bahwa perlakuan orang lain memang tidak pantas diterima.
Barangkali pertanyaan yang lebih berguna bukan lagi mengapa seseorang terlalu mudah baper, melainkan apa yang sedang berusaha dilindungi oleh perasaannya. Dengan memahami sumber respons tersebut, seseorang dapat belajar membedakan ancaman yang nyata dari ketakutan yang dibentuk oleh penafsirannya sendiri. Tujuannya bukan menjadi manusia yang tidak mudah terluka, melainkan manusia yang semakin memahami perasaannya tanpa harus terus-menerus dikuasai olehnya. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.