Air hujan di wilayah terpencil ternyata dapat membawa jejak bahan kimia industri. Temuan ini menunjukkan bahwa pencemaran tidak selalu berhenti di tempat asalnya.

Hujan sering dianggap sebagai bagian dari alam yang masih bersih, terutama ketika turun di pegunungan atau kawasan yang jauh dari aktivitas industri. Air yang berasal dari langit terasa berbeda dari sungai yang keruh atau saluran air yang dipenuhi limbah. Tetapi penelitian mengenai pencemaran kimia menunjukkan bahwa jarak dari kawasan industri ternyata tidak selalu menjamin lingkungan terbebas dari zat pencemar.

Pada Agustus 2022, sekelompok peneliti dari Stockholm University di Swedia dan ETH Zurich di Swiss menerbitkan kajian dalam jurnal Environmental Science & Technology mengenai penyebaran bahan kimia PFAS di lingkungan global. Mereka menunjukkan bahwa konsentrasi beberapa jenis PFAS dalam air hujan di banyak wilayah melampaui nilai panduan kesehatan air minum yang sangat ketat. Bahkan kawasan terpencil seperti Antartika dan Dataran Tinggi Tibet tidak sepenuhnya terbebas dari jejak pencemaran tersebut.

Temuan itu kembali menarik perhatian setelah beredar melalui unggahan media sosial yang membahas keberadaan bahan kimia industri dalam air hujan. Persoalannya bukan berarti setiap tetes hujan berbahaya jika mengenai kulit atau seluruh air hujan di dunia memiliki tingkat pencemaran yang sama. Penelitian tersebut justru mengungkap persoalan lingkungan yang lebih besar, yakni bagaimana zat buatan manusia dapat bertahan dan berpindah melalui sistem alam dalam waktu sangat panjang.

Baca Juga: Bupati Annisa Cabut Bibit Sawit, Siapa yang Harus Bertanggung Jawab atas Lahan Bekas Karhutla?

Bagaimana Bahan Kimia Industri Bisa Sampai ke Air Hujan?

PFAS merupakan singkatan dari per- and polyfluoroalkyl substances, kelompok besar bahan kimia sintetis yang digunakan dalam berbagai kegiatan industri dan produk konsumen. Sebagian digunakan karena sifatnya yang mampu menahan air, minyak, atau panas, sehingga ditemukan dalam aplikasi seperti pelapis antilengket, tekstil tahan air, kemasan tertentu, dan busa pemadam kebakaran. Sejumlah senyawa PFAS sangat sulit terurai di lingkungan, sehingga kelompok bahan kimia tersebut sering dijuluki forever chemicals atau bahan kimia abadi.

Ketika PFAS dilepaskan ke lingkungan, perjalanannya tidak selalu berakhir di tanah atau perairan sekitar sumber pencemar. Beberapa senyawa dapat berpindah melalui atmosfer, sementara PFAS yang sudah mencapai lautan dapat kembali terbawa ke udara melalui percikan air laut yang membentuk aerosol. Partikel atau senyawa tersebut kemudian dapat mengalami deposisi kembali ke permukaan bumi, termasuk melalui hujan.

Ian T. Cousins, profesor ilmu lingkungan dari Stockholm University yang memimpin kajian tersebut, menjelaskan bahwa nilai panduan kesehatan untuk beberapa PFAS telah diturunkan secara drastis seiring bertambahnya pemahaman tentang potensi bahayanya. Dalam publikasi universitasnya pada 2022, Cousins menyampaikan bahwa berdasarkan nilai panduan Amerika Serikat yang digunakan saat itu, air hujan di banyak wilayah akan dinilai tidak memenuhi kriteria untuk langsung dijadikan air minum. Pernyataan tersebut menunjukkan besarnya persoalan pencemaran persisten, tetapi tidak dapat diartikan bahwa semua air hujan memiliki risiko kesehatan yang identik.

Kajian Cousins bersama Jana H. Johansson, Matthew E. Salter, Bo Sha, dan Martin Scheringer membandingkan data empat senyawa PFAS dengan berbagai ambang lingkungan dan kesehatan. Para peneliti mengemukakan bahwa penyebaran global senyawa-senyawa tersebut telah melampaui batas aman planet yang mereka usulkan untuk pencemaran PFAS. Kesimpulan itu merupakan penilaian ilmiah berdasarkan data serta batas pembanding tertentu, bukan bukti bahwa seluruh lokasi di bumi telah diuji secara langsung.

Baca Juga: Bagi Warga Palangka Raya yang Bukan Perokok, Udara yang Mereka Hirup Saat Ini Disebut Setara Belasan Batang Rokok

Ketika Pencemaran Menjadi Masalah Bersama

Bertahannya PFAS di lingkungan menimbulkan persoalan karena paparan terhadap beberapa senyawa telah dikaitkan dengan dampak kesehatan tertentu. Menurut Agency for Toxic Substances and Disease Registry [ATSDR] Amerika Serikat, penelitian menemukan hubungan antara paparan PFAS tertentu dengan peningkatan kolesterol, penurunan respons antibodi terhadap beberapa vaksin, perubahan enzim hati, serta peningkatan risiko kanker ginjal. Hubungan tersebut tidak berarti setiap orang yang terpapar pasti mengalami penyakit, sebab risiko dipengaruhi jenis senyawa, jumlah paparan, frekuensi, durasi, dan kondisi kesehatan individu.

Temuan mengenai air hujan juga perlu dibedakan dari keamanan air minum yang dikonsumsi masyarakat. Air hujan yang langsung ditampung belum tentu memenuhi syarat air minum karena selain kemungkinan cemaran kimia, masih terdapat risiko mikroorganisme dan kontaminan lain dari udara, atap, maupun tempat penyimpanannya. Air yang telah melalui pengolahan dan pengawasan kualitas tentu tidak dapat disamakan begitu saja dengan air hujan mentah.

Ada pula kesalahpahaman mengenai cara menghilangkan PFAS dari air. Memasak air hingga mendidih dapat membantu mengatasi sebagian risiko mikrobiologis, tetapi tidak menghilangkan PFAS secara andal. Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat [EPA] menyebut sistem penyaringan tertentu dengan karbon aktif atau reverse osmosis dapat menurunkan konsentrasi PFAS apabila dirancang untuk tujuan tersebut dan dirawat sesuai petunjuk.

Persoalannya, upaya mengurangi pencemaran tidak mungkin sepenuhnya dibebankan kepada rumah tangga. Penyaring air dapat membantu mengurangi paparan pada kondisi tertentu, tetapi tidak menghentikan pelepasan zat pencemar ke sungai, tanah, dan atmosfer. Pengawasan bahan kimia, pengendalian limbah industri, pemantauan kualitas lingkungan, serta pengurangan penggunaan senyawa yang berisiko tetap dibutuhkan untuk mengatasi sumber persoalannya.

Penelitian tahun 2022 tersebut memberikan gambaran tentang satu kenyataan yang kerap terlupakan ketika membicarakan pencemaran lingkungan. Limbah yang dilepaskan di suatu tempat dapat bergerak melampaui batas kota, negara, bahkan benua, sementara masyarakat yang jauh dari sumber pencemar belum tentu memiliki kemampuan untuk mencegah paparan. Karena itu, keberadaan PFAS di air hujan seharusnya tidak dijadikan alasan untuk takut setiap kali langit mendung, melainkan pengingat bahwa perlindungan lingkungan membutuhkan tanggung jawab yang jauh lebih luas daripada tindakan individu. Ketika bahan kimia industri telah mengikuti perjalanan air di planet ini, persoalannya bukan lagi sekadar siapa yang mencemari, tetapi juga siapa yang bertanggung jawab menghentikan pencemaran agar tidak terus diwariskan kepada generasi berikutnya. [][Rommy Rimbarawa/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.