Produk kecantikan dahulu banyak berangkat dari segmentasi pasar. Kini AI membuka kemungkinan lain. Kulit, kebiasaan, hingga percakapan konsumen dapat ikut dibaca sebagai data.

Industri kecantikan sebenarnya sudah lama menggunakan data untuk memahami konsumennya. Survei, penjualan, riset pasar, kelompok usia, hingga tren bahan aktif membantu brand menentukan produk yang akan dikembangkan. Namun kecerdasan buatan [AI] membuat jumlah dan jenis informasi yang dapat dianalisis menjadi jauh lebih luas.

Perubahan tersebut akan menjadi salah satu pembahasan dalam The AI Beauty Revolution, sesi yang dihadirkan Cosmobeauté Indonesia bersama LABCOS pada Sabtu, 3 Oktober 2026 di BeautéSpot Hall 9, ICE BSD City. Pembahasannya bergerak dari AI skin analysis dan wellness intelligence menuju social and marketplace intelligence serta data-driven product innovation.

Menariknya, persoalan yang muncul bukan lagi sekadar apakah AI dapat menganalisis wajah melalui kamera. Pertanyaan yang lebih besar adalah apa yang terjadi ketika data tentang kulit dipertemukan dengan kebiasaan, kebutuhan konsumen, percakapan di media sosial, dan perilaku di marketplace. Produk kosmetik berpotensi dikembangkan dari gambaran konsumen yang semakin terperinci.

Baca Juga: Skincare Sudah Semakin Personal, Kenapa Kita Masih Mudah Mengikuti Rutinitas Orang Lain?

Dari Membaca Kulit hingga Membaca Apa yang Dicari Konsumen

Skin analysis merupakan bagian AI dalam kecantikan yang paling mudah terlihat oleh konsumen. Foto atau citra wajah dapat dianalisis untuk mengenali sejumlah karakteristik kulit, kemudian sistem membantu memberikan informasi atau rekomendasi yang lebih personal. Teknologi serupa telah digunakan dalam industri kecantikan untuk menghadirkan diagnosis kulit digital, rekomendasi produk, hingga pengalaman virtual try-on. 

Namun, data kulit hanya menceritakan satu bagian dari manusia. Konsumen yang mempunyai karakteristik kulit serupa belum tentu memiliki kebiasaan, lingkungan, preferensi produk, daya beli, atau persoalan yang sama. Karena itulah perkembangan AI dalam industri kecantikan mulai bergerak menuju penggabungan lebih banyak sumber informasi.

McKinsey melihat AI generatif berpotensi digunakan industri kecantikan untuk membaca kumpulan data konsumen, membentuk segmentasi yang semakin spesifik, menyintesis ulasan produk, serta mendukung pengembangan produk. Dikutip dari McKinsey & Company, dengan kata lain, informasi yang sebelumnya tersebar dapat diolah untuk membantu perusahaan menemukan pola yang sulit terlihat jika dibaca satu per satu.

Gagasan serupa pernah dibahas Wendra Wilendra, M.MT. bersama Reny Nadlifatin dan Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm.  dalam penelitian mengenai AI dan strategi pemasaran industri kosmetik Indonesia. Kajian yang terbit di Procedia Computer Science tersebut melihat potensi AI untuk membantu customer targeting, segmentasi pasar, strategi harga dan promosi, personalisasi pemasaran, hingga pengembangan produk. Penelitian itu sekaligus mengingatkan adanya persoalan etis yang tetap perlu diperhatikan ketika teknologi tersebut semakin luas digunakan. 

Wendra akan membawa perspektif brand, consumer, dan bisnis dalam The AI Beauty Revolution. Ia akan berbagi panggung dengan apt. Yokanizia Rindantika N., S.Farm. dari perspektif beauty dan ilmu kosmetik serta Yusep Maulana, S.Kom., M.Kom. dari perspektif AI, data, dan teknologi. Pertemuan ketiga perspektif tersebut penting karena produk kosmetik tidak dapat dibangun hanya dari apa yang sedang ramai dibicarakan konsumen.

Baca Juga: Sudah Pakai Skincare, Tapi Flek Tetap Membandel. Apa yang Mungkin Terjadi?

Lebih Banyak Data Belum Tentu Berarti Lebih Memahami Manusia

Bayangkan sebuah brand menemukan ribuan percakapan mengenai kulit kusam di media sosial. Penjualan produk pencerah sedang meningkat, pencarian kata tertentu melonjak di marketplace, sementara analisis kulit memperlihatkan pola tertentu pada kelompok konsumennya. AI dapat membantu mempertemukan berbagai sinyal tersebut sehingga perusahaan mempunyai dasar lebih kaya untuk menentukan persoalan yang layak diteliti.

Tetapi keputusan berikutnya tetap membutuhkan manusia. Percakapan yang ramai belum membuktikan bahwa sebuah kebutuhan berlaku untuk semua konsumen, sementara tren penjualan tidak otomatis menunjukkan produk seperti apa yang aman dan tepat untuk dikembangkan. Ilmu formulasi, keamanan, stabilitas, regulasi, kelayakan produksi, dan pemahaman terhadap konsumen tetap harus bekerja bersama data.

Ada pula persoalan representasi. PwC mengingatkan bahwa penggunaan AI dalam kecantikan menghadapi tantangan ketika teknologi tidak cukup merepresentasikan keragaman konsumen, termasuk variasi warna dan kondisi kulit. Personalisasi akan kehilangan maknanya apabila data yang digunakan untuk membangunnya justru tidak cukup menggambarkan orang-orang yang ingin dilayani. 

Di sinilah kalimat from insight, to intelligence, to innovation yang dibawa The AI Beauty Revolution jadi menarik. Data mentah belum menjadi pengetahuan hanya karena jumlahnya besar. Ia perlu dibaca, diuji, dipertemukan dengan ilmu kosmetik dan konteks manusia, baru kemudian diterjemahkan menjadi keputusan pengembangan produk.

Sesi The AI Beauty Revolution akan berlangsung pukul 11.00–11.45 WIB dan terbuka secara gratis melalui registrasi yang disediakan Cosmobeauté Indonesia. Empat pembahasan utamanya mencakup AI Skin Analysis, Wellness Intelligence, Social & Marketplace Intelligence, serta Data-Driven Product Innovation.

Mungkin perubahan terpenting yang dibawa AI ke industri kecantikan bukan kemampuan mesin mengatakan produk apa yang harus dibuat. Teknologi ini justru memperbesar kemampuan manusia untuk melihat sinyal yang sebelumnya terpisah dan mengajukan pertanyaan yang lebih tepat sebelum sebuah produk dikembangkan. Sebab meninggalkan asumsi bukan berarti menyerahkan keputusan kepada algoritma, melainkan mempunyai dasar yang lebih baik untuk memahami siapa yang sebenarnya ingin dilayani. [][Eva Evilia/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.