Kulit setiap orang tidak benar-benar sama. Namun ketika sebuah rutinitas terlihat berhasil pada orang lain, keinginan untuk menirunya sering datang lebih cepat daripada mengenali kulit sendiri.
Satu video berdurasi kurang dari semenit bisa mengubah isi meja rias. Seorang kreator menunjukkan wajahnya sebelum dan sesudah menjalani rutinitas tertentu, kemudian menyebut pembersih, toner, serum, pelembap, hingga produk eksfoliasi yang digunakan. Tidak lama kemudian, kolom komentar dipenuhi pertanyaan tentang nama produk dan tempat membelinya.
Keinginan meniru sebenarnya mudah dipahami. Ketika seseorang memperlihatkan kulit yang tampak sehat dan mengatakan bahwa beberapa produk membantunya mendapatkan kondisi tersebut, rutinitasnya terlihat seperti jalan pintas yang sudah teruji. Persoalannya, yang terlihat di layar hanyalah hasil, sementara kondisi kulit, lingkungan, kebiasaan, riwayat penggunaan produk, dan berbagai faktor lain tidak ikut berpindah ke orang yang menontonnya.
Industri kecantikan sendiri justru bergerak menuju pendekatan yang semakin personal. Jenis kulit, toleransi, kondisi skin barrier, usia, lingkungan, gaya hidup, hingga tujuan penggunaan semakin diperhitungkan ketika menyusun perawatan. Di tengah perkembangan itu, ada ironi kecil ketika konsumennya justru semakin mudah membawa pulang rutinitas orang lain secara utuh.
Baca Juga: Sudah Pakai Skincare, Tapi Flek Tetap Membandel. Apa yang Mungkin Terjadi?
Produk yang Sama Tidak Bertemu dengan Kulit yang Sama
Bayangkan dua orang membeli serum yang sama setelah melihat rekomendasi di media sosial. Orang pertama menggunakannya dan merasa tekstur kulitnya membaik setelah beberapa minggu. Orang kedua mengikuti jumlah, frekuensi, bahkan urutan pemakaian yang sama, tetapi beberapa hari kemudian kulitnya justru terasa kering dan tidak nyaman.
Kejadian semacam itu tidak otomatis berarti produknya buruk atau rekomendasinya menyesatkan. Produk yang sama memang dapat bertemu dengan kondisi biologis dan rutinitas yang berbeda. Sesuatu yang dapat ditoleransi dengan baik oleh satu kulit belum tentu membutuhkan frekuensi atau kombinasi serupa pada kulit lainnya.
Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., formulator dan tenaga ahli industri kosmetik yang juga tercatat sebagai staf dosen tamu Program Studi Rekayasa Kosmetika Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, menggunakan pendekatan yang menarik dalam melihat persoalan tersebut. Dalam perspektif formulasinya, efektivitas tidak dapat dipisahkan dari stabilitas, keamanan, kenyamanan, dan kapasitas adaptasi biologis kulit.
Pandangan tersebut membuat angka besar pada konsentrasi bahan aktif tidak otomatis berarti pilihan yang lebih baik. Cahya menekankan bahwa tidak semua kulit membutuhkan dorongan maksimal, karena formula juga perlu mempertimbangkan seberapa jauh kulit perlu didorong dan seberapa baik sistem tersebut dapat ditoleransi. Dalam pendekatan pengembangan kosmetik untuk kondisi kulit tertentu, ia bahkan menempatkan profil pengguna, potensi iritasi, stabilitas formula, interaksi bahan aktif, serta kondisi barrier sebagai bagian dari evaluasi risiko.
Cara berpikir itu menjadi relevan ketika rutinitas orang lain ditiru tanpa penyesuaian. Seseorang mungkin tidak hanya menyalin satu produk, tetapi sekaligus beberapa bahan aktif, frekuensi eksfoliasi, dan urutan penggunaannya. Kulit kemudian menerima sebuah sistem perawatan yang sebenarnya dirancang oleh pengalaman orang lain, bukan oleh kebutuhan dirinya sendiri.
Cahya juga menyoroti pentingnya ritme dalam perawatan kulit. Terlalu cepat mengganti atau menambahkan produk dapat membuat respons kulit sulit dibaca karena pengguna tidak lagi mengetahui produk mana yang membantu dan mana yang justru mengganggu. Konsistensi yang masuk akal, batas penggunaan yang jelas, dan kesempatan mengamati respons kulit menjadi lebih penting daripada terus memberikan kejutan baru.
Baca Juga: Kulit Terasa Lebih Kering Saat Musim Kemarau. Apa yang Sebenarnya Berubah?
Inspirasi Boleh Datang dari Orang Lain, Rutinitas Tetap Perlu Mengenali Pemilik Kulitnya
Pendekatan serupa dapat ditemukan dalam literatur dermatologi internasional. Dermatolog asal Amerika Serikat Zoe Diana Draelos, MD, yang banyak menulis mengenai kosmetik dan perawatan kulit, menempatkan identifikasi jenis kulit sebagai salah satu langkah penting sebelum menentukan produk. Rekomendasi pelembap dan produk lain perlu mempertimbangkan apakah kulit sangat berminyak, berminyak, kombinasi, normal, kering, atau sangat kering.
Draelos juga mengembangkan kerangka Skin Health and Beauty Pyramid untuk membantu menata pemilihan perawatan topikal berdasarkan kebutuhan kulit. Kerangka tersebut memperlihatkan bahwa perawatan kulit bukan sekadar mengumpulkan sebanyak mungkin bahan aktif populer, melainkan mengorganisasikan kebutuhan mulai dari perlindungan dan pencegahan hingga upaya memperbaiki tanda perubahan kulit. Pendekatan terstruktur seperti ini terasa sangat berbeda dengan kebiasaan membeli produk hanya karena sedang muncul berulang kali di linimasa.
Masalahnya bukan berarti rekomendasi teman, kreator konten, atau figur publik tidak pernah berguna. Pengalaman mereka dapat menjadi pintu untuk mengenal produk, menemukan bahan tertentu, atau memahami pilihan yang sebelumnya tidak diketahui. Yang perlu dibedakan adalah menggunakan pengalaman orang lain sebagai referensi dengan menganggap pengalaman tersebut sebagai resep.
Perbedaannya terlihat sederhana, tetapi dampaknya cukup besar. Referensi membuat seseorang bertanya apakah produk tersebut cocok dengan kebutuhan kulitnya, sedangkan resep mendorong seseorang meniru karena hasil pada orang lain terlihat meyakinkan. Yang pertama masih menyediakan ruang untuk mengenali diri, sementara yang kedua mudah membuat kulit orang lain menjadi standar.
Media sosial membuat godaan tersebut semakin kuat karena hasil jauh lebih mudah divisualisasikan daripada proses. Kulit yang terlihat cerah dapat ditampilkan dalam beberapa detik, tetapi kamera tidak selalu menceritakan pencahayaan, kondisi awal kulit, penggunaan produk lain, perawatan profesional, pola tidur, paparan matahari, maupun berapa banyak percobaan yang terjadi sebelumnya. Rutinitas yang tampak sederhana di layar bisa mempunyai cerita jauh lebih panjang di belakangnya.
Personalisasi perawatan kulit karena itu tidak harus berarti menggunakan teknologi mahal atau memiliki formula yang dibuat khusus untuk setiap individu. Langkah paling dasar justru bisa dimulai dengan mengenali kondisi kulit, menentukan persoalan yang ingin ditangani, memperkenalkan produk secara bertahap, dan memperhatikan respons setelah digunakan. Ketika muncul masalah yang menetap atau kondisi kulit tertentu, konsultasi dengan tenaga profesional juga lebih masuk akal daripada terus mengganti rutinitas berdasarkan rekomendasi berikutnya.
Skincare akan terus menghasilkan tren baru, bahan aktif baru, tekstur baru, dan rutinitas yang terlihat menarik untuk dicoba. Tidak ada yang keliru dengan rasa penasaran terhadap perkembangan tersebut, selama rasa penasaran tidak membuat seluruh isi rak orang lain pindah begitu saja ke rak sendiri. Kulit boleh mendapatkan inspirasi dari mana saja, tetapi keputusan tentang apa yang dipakainya tetap perlu dimulai dari satu tempat yang paling dekat: kulit itu sendiri. [][Eva Evilia/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.