Minyak alami sering dipuji karena kandungannya. Sacha Inchi pun demikian. Tetapi, ketika minyak dari bijinya diolah menjadi serum wajah, apakah manfaat yang dijanjikan benar-benar sudah terbukti?
Dalam industri kecantikan, nama bahan aktif sering menjadi daya tarik utama sebuah produk. Kandungan omega-3, antioksidan, atau senyawa alami lainnya dapat membuat konsumen percaya bahwa suatu kosmetik memiliki manfaat tertentu. Padahal, mengetahui komposisi bahan baru merupakan langkah awal untuk memahami bagaimana bahan tersebut bekerja ketika diformulasikan.
Persoalan inilah yang menarik dari penelitian Sacha Inchi oleh tim Universitas Padjadjaran. Alih-alih berhenti pada potensi minyak biji tanaman Plukenetia volubilis, para peneliti melanjutkan kajiannya hingga pengembangan serum wajah. Dua publikasi ilmiah pada 2023 dan 2024 memperlihatkan tahapan yang diperlukan sebelum sebuah bahan dapat dinilai lebih jauh sebagai kandidat kosmetik antipenuaan.
Baca Juga: Kapan Pengetahuan Berubah Jadi Klaim yang Terlalu Sederhana?
Dari Kandungan Minyak ke Pengujian Formula
Sacha Inchi merupakan tanaman asal kawasan Amazon yang bijinya menghasilkan minyak kaya asam lemak tidak jenuh. Minyak tersebut menarik perhatian peneliti kosmetik karena kandungan omega-3, omega-6, dan omega-9, serta potensi aktivitas antioksidannya. Meski begitu, komposisi yang menjanjikan tidak otomatis membuktikan efektivitasnya ketika digunakan pada kulit.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Cosmetics pada Desember 2023 mengkaji karakteristik fisikokimia, profil asam lemak, dan aktivitas antioksidan minyak biji Sacha Inchi asal Indonesia. Tim penelitinya mencakup Ira Maya, Prof. Dr. apt. Sriwidodo, M.Si., dan apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., bersama sejumlah peneliti lainnya. Penelitian ini menjadi landasan untuk memahami karakter bahan sebelum dikembangkan menjadi sediaan kosmetik.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa sampel minyak yang diteliti memiliki kandungan omega-3 sekitar 48,5 persen, omega-6 sekitar 34,8 persen, dan omega-9 sekitar 7,7 persen. Komposisi tersebut memperlihatkan potensi minyak Sacha Inchi sebagai sumber asam lemak untuk pengembangan kosmetik. Akan tetapi, angka itu menggambarkan sampel penelitian dan tidak dapat dianggap sebagai komposisi pasti seluruh minyak Sacha Inchi yang beredar.
Dari perspektif teknologi formulasi yang menjadi bidang keahlian Prof. Sriwidodo, karakter bahan merupakan dasar untuk menentukan bagaimana minyak dapat dikembangkan menjadi produk. Minyak perlu dipadukan dengan bahan lain agar menghasilkan sediaan yang memiliki konsistensi, kestabilan, dan karakteristik penggunaan yang sesuai. Dengan demikian, kualitas sebuah serum tidak dapat dinilai hanya dari kandungan minyak utamanya.
Penelitian lanjutan yang diterbitkan jurnal Cosmetics pada Desember 2024 kemudian mengembangkan tiga formula serum wajah. Masing-masing mengandung minyak Sacha Inchi dengan konsentrasi 5 persen, 7,5 persen, dan 10 persen. Ketiga formula tersebut menjalani serangkaian pengujian untuk mengetahui karakteristik dan potensi aktivitasnya.
Salah satu pengujian penting berkaitan dengan stabilitas formula. Para peneliti mengevaluasi perubahan warna, aroma, homogenitas, kekentalan, daya sebar, dan tingkat keasaman selama tiga bulan dalam kondisi penyimpanan dipercepat. Pengujian juga mencakup cemaran mikroba dan logam berat sebagai bagian dari penilaian mutu sediaan.
Hasilnya menunjukkan bahwa ketiga formula mempertahankan karakteristik fisik yang dinilai baik selama pengujian tersebut. Temuan ini penting karena bahan dengan potensi biologis menarik tetap membutuhkan sistem formulasi yang mampu mempertahankan kualitas produk. Serum yang tidak stabil dapat mengalami perubahan karakteristik sebelum manfaat yang diharapkan sempat diperoleh konsumen.
Baca Juga: Bahan Alami dari Cianjur Ini Punya Aktivitas Antioksidan. Benarkah Berpotensi Melawan Penuaan Kulit?
Ketika Hasil Laboratorium Belum Sama dengan Hasil pada Kulit
Bagian menarik berikutnya adalah pengujian aktivitas antipenuaan. Peneliti mengevaluasi kemampuan formula menghambat dua enzim, yaitu elastase dan kolagenase, yang berkaitan dengan pemecahan komponen struktural kulit. Aktivitas tersebut diuji melalui metode in vitro, bukan melalui pengamatan langsung terhadap berkurangnya kerutan pada wajah pengguna.
Pada pengujian penghambatan elastase, formula dengan konsentrasi minyak 10 persen menunjukkan aktivitas sebesar 71,96 persen. Formula yang sama juga menunjukkan penghambatan kolagenase sebesar 66,67 persen. Hasil tersebut lebih tinggi daripada dua formula berkonsentrasi lebih rendah dalam pengujian yang dilakukan.
Angka-angka itu memberikan petunjuk bahwa peningkatan konsentrasi minyak Sacha Inchi dalam formula yang diteliti berkaitan dengan peningkatan aktivitas penghambatan enzim. Kendati demikian, hasil pengujian laboratorium belum dapat diterjemahkan menjadi persentase pengurangan kerutan pada manusia. Efektivitas produk dalam pemakaian nyata memerlukan pengujian klinis dengan parameter yang sesuai.
Selain aktivitas biologis, penelitian tersebut turut mengevaluasi potensi iritasi. Pengujian tempel pada 20 sukarelawan yang dilaporkan dalam bagian hasil penelitian tidak menemukan tanda iritasi selama periode pengamatan 48 jam. Temuan ini mendukung penilaian tolerabilitas awal formula yang diuji, tetapi tidak berarti produk pasti aman bagi setiap orang atau bebas dari kemungkinan reaksi alergi.
Di sinilah perspektif apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., menjadi relevan. Sebagai praktisi pengembangan kosmetik yang juga terlibat dalam kedua publikasi tersebut, Cahya membawa pengalaman mengenai kebutuhan formulasi, pengujian, dan penerapan bahan dalam industri. Perjalanan minyak Sacha Inchi dari karakterisasi hingga menjadi serum memperlihatkan pentingnya menghubungkan temuan akademik dengan persyaratan produk yang dapat dikembangkan secara nyata.
Kolaborasi antara peneliti dan praktisi industri juga membantu menjelaskan mengapa inovasi kosmetik tidak cukup hanya berangkat dari popularitas suatu bahan. Komposisi minyak perlu dipahami, formula harus dievaluasi, dan klaim manfaat mesti disesuaikan dengan hasil pengujian. Setiap tahapan menjawab pertanyaan berbeda yang tidak dapat digantikan hanya oleh satu hasil penelitian.
Bagi konsumen, penelitian Sacha Inchi memberikan pelajaran tentang cara membaca informasi kosmetik secara lebih kritis. Kandungan omega-3 dapat menjadi alasan ilmiah untuk meneliti suatu bahan, sedangkan hasil penghambatan enzim dapat menunjukkan potensi aktivitasnya. Keduanya belum sama dengan bukti bahwa produk mampu mengurangi tanda penuaan secara nyata setelah digunakan selama beberapa minggu.
Penelitian Prof. Sriwidodo, Cahya, dan tim menunjukkan bahwa minyak Sacha Inchi asal Indonesia memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi serum wajah dengan karakteristik yang menjanjikan. Hasil stabilitas, aktivitas enzim, dan pengujian iritasi awal memberikan dasar bagi penelitian berikutnya, terutama pengujian efektivitas pada pengguna. Sebab dalam dunia kecantikan, bahan yang menjanjikan baru menjadi awal cerita; manfaat yang benar-benar terbukti membutuhkan perjalanan penelitian yang lebih panjang. [][Eva Evilia/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.