Masakan di rumah bisa lebih enak dan lebih hemat. Namun kita tetap pergi ke restoran. Rupanya, yang dicari tidak selalu berhenti pada rasa.

Ada hari ketika makanan sudah tersedia di rumah, tetapi seseorang tetap mengajak keluarganya keluar untuk makan. Bukan karena masakannya tidak enak. Kadang jawabannya sesederhana, "Pengin keluar saja."

Kalimat itu sebenarnya menyimpan banyak hal. Makan di luar dapat menjadi kesempatan bertemu teman, merayakan sesuatu, berganti suasana, mencoba makanan berbeda, atau sekadar terbebas sebentar dari rutinitas. Restoran menjual makanan, tetapi pengalaman yang dibeli konsumen seringkali jauh lebih luas daripada isi piring.

Itulah sebabnya membandingkan masakan rumah dengan restoran hanya berdasarkan rasa sering tidak cukup menjelaskan perilaku kita. Bahkan ketika rendang buatan ibu lebih disukai daripada rendang restoran, seseorang masih mungkin memesan rendang di luar rumah. Bukan selalu karena mencari rendang yang lebih enak, melainkan karena ia sedang mencari pengalaman makan yang berbeda.

Baca Juga: Makanannya Enak, Tapi Kenapa Kita Enggan Datang Lagi?

Kadang Kita Pergi Bukan karena Lapar

Penelitian mengenai pilihan restoran menunjukkan bahwa alasan seseorang makan di luar berubah sesuai situasinya. Ada yang membutuhkan makanan cepat dan praktis, ada yang sedang bertemu secara sosial, melakukan urusan bisnis, atau merayakan sesuatu. Faktor yang dianggap penting ketika memilih restoran pun berubah mengikuti tujuan tersebut.

Artinya, pertanyaan "restoran mana yang makanannya paling enak?" bukan satu-satunya pertimbangan. Untuk makan cepat, lokasi dan kemudahan dapat menjadi penting. Ketika berkencan, suasana dan pelayanan bisa mendapat perhatian lebih besar, sementara dalam sebuah perayaan, pengalaman bersama orang-orang yang hadir dapat menjadi bagian utama dari acara.

Penelitian lain mengenai kebiasaan makan di luar juga menemukan unsur sosial yang kuat dalam kegiatan tersebut. Makan di luar dapat membantu seseorang keluar dari rutinitas kehidupan sehari-hari, baik rutinitas di rumah maupun di tempat kerja. Dengan demikian, restoran menawarkan perubahan konteks, bukan hanya perubahan menu.

Coba bayangkan keluarga yang setiap malam makan bersama di meja yang sama. Pada Sabtu malam, mereka pergi ke restoran dan memesan makanan yang sebenarnya juga bisa dibuat di rumah. Anak-anak memilih minuman, orang tua tidak perlu membereskan meja, kemudian semuanya berjalan-jalan setelah makan.

Jika hanya menghitung kualitas makanannya, keputusan tersebut mungkin terlihat tidak efisien. Namun keluarga itu sebenarnya sedang membeli satu malam yang berbeda dari enam malam sebelumnya. Makanan menjadi alasan untuk keluar, sedangkan perubahan suasana menjadi bagian dari apa yang mereka nikmati.

Baca Juga: Masakan Ibu Tak Selalu Paling Mewah, Tapi Mengapa Rasanya Sulit Tergantikan?

Meja Makan Juga Merupakan Tempat Bersosialisasi

Ada alasan lain mengapa makanan mempunyai posisi unik dibandingkan banyak kebutuhan manusia. Kita memang makan untuk memperoleh energi, tetapi manusia juga menggunakan kegiatan makan untuk berkumpul. Ulang tahun, reuni, pertemuan keluarga, kencan, pertemuan bisnis, bahkan obrolan setelah bekerja sangat sering ditemani makanan.

Robin Dunbar dari University of Oxford pernah meneliti fungsi sosial dari makan bersama. Penelitiannya menemukan hubungan antara frekuensi makan bersama orang lain dengan perasaan bahagia, kepuasan hidup, kepercayaan, keterlibatan sosial, dan jumlah teman yang dapat diandalkan. Dunbar melihat makan bersama sebagai salah satu mekanisme yang dapat membantu membangun ikatan sosial.

Karena itu, ketika seseorang berkata, "Yuk, makan di luar," tujuan sebenarnya mungkin bukan makan. Ia bisa sedang mengatakan, "Kita sudah lama tidak pergi bersama," tanpa mengatakannya secara langsung. Restoran menyediakan tempat dan aktivitas yang membuat pertemuan mempunyai struktur.

Makan di luar juga memberikan sesuatu yang sulit diperoleh ketika selalu menyantap makanan sendiri: variasi. Penelitian tentang motivasi konsumen menunjukkan bahwa makan di luar dapat membawa nilai praktis seperti efisiensi, sekaligus nilai yang bersifat menyenangkan seperti rasa, pengalaman, dan interaksi sosial. Bahkan pada restoran yang menonjolkan pengalaman, konsumen tidak sekadar mencari makanan yang mengenyangkan, tetapi juga pengalaman yang menyenangkan dan mudah diingat.

Tentu ada sisi praktis yang jauh lebih sederhana. Seseorang yang pulang terlambat mungkin memilih restoran karena tidak ingin memasak dan mencuci peralatan. Penelitian terhadap konsumen makanan cepat saji, misalnya, menemukan kecepatan dan kemudahan akses sebagai dua alasan yang sangat sering disebut ketika orang memilih makan di luar.

Menariknya, semua alasan itu dapat hidup berdampingan dengan kecintaan terhadap masakan rumah. Menikmati restoran tidak berarti masakan pasangan, ibu, ayah, atau anggota keluarga lainnya kalah enak. Kita dapat mempunyai makanan favorit di rumah sekaligus tetap penasaran terhadap warung baru di ujung jalan.

Mungkin karena makanan memang tidak pernah hanya mempunyai satu pekerjaan. Ia bisa mengenyangkan, menghibur, mempertemukan orang, memberikan pengalaman baru, bahkan menjadi alasan untuk meninggalkan rumah selama beberapa jam. Piringnya memang penting, tetapi apa yang terjadi di sekeliling piring sering sama berharganya.

Jadi, ketika makanan di rumah sudah tersedia tetapi kita masih ingin keluar, belum tentu ada yang kurang dari masakannya. Bisa jadi justru kebutuhan lain yang sedang mencari tempat: bertemu, mencoba, beristirahat, merayakan, atau sekadar melihat suasana berbeda. Kadang kita datang ke restoran untuk mencari makanan, tetapi kadang makanan hanyalah cara paling menyenangkan untuk mencari pengalaman. [][Rommy Rimbarawa/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.