Banyak restoran menyajikan hidangan dengan bahan premium, teknik memasak modern, dan tampilan yang memikat. Namun, bagi banyak orang, semangkuk sayur bening, tempe goreng, atau sambal buatan ibu tetap memiliki tempat yang sulit digantikan. Apa yang membuatnya begitu istimewa?
Setiap keluarga memiliki masakan yang berbeda.
Ada yang tumbuh dengan aroma opor ayam setiap Lebaran. Ada yang selalu merindukan sayur asem buatan ibu, meski resepnya terlihat sederhana. Ada pula yang merasa tidak ada sambal yang bisa menandingi racikan di dapur rumah.
Menariknya, hidangan-hidangan itu belum tentu menggunakan bahan yang mahal. Cara penyajiannya pun mungkin jauh dari kesan mewah.
Namun, ketika seseorang tinggal jauh dari rumah, masakan itulah yang sering paling dirindukan.
Rasa lapar memang bisa diatasi di mana saja. Tetapi rasa rindu terhadap masakan ibu sering kali tidak semudah itu dipenuhi.
Baca Juga: Yang Membuat Mangut Kepala Manyung Sulit Dilupakan, Bukan Hanya Pedasnya
Lidah Tidak Hanya Mengingat Rasa, tetapi Juga Pengalaman
Para ilmuwan telah lama mengetahui bahwa pengalaman makan tidak hanya melibatkan indera pengecap. Aroma, suasana, hingga emosi ikut membentuk bagaimana otak menyimpan sebuah pengalaman kuliner.
Ahli saraf Prof. Gordon M. Shepherd, penulis Neurogastronomy [2012], menjelaskan bahwa rasa makanan merupakan hasil kerja sama berbagai indera dan pusat memori di otak. Karena hubungan inilah, aroma atau rasa tertentu mampu memunculkan kembali kenangan yang sudah lama tidak kita pikirkan.
Tidak heran jika semangkuk sup sederhana dapat mengingatkan seseorang pada masa kecilnya. Atau, sepiring nasi goreng buatan ibu mampu menghadirkan rasa hangat yang sulit dijelaskan, meski bahan dan bumbunya sebenarnya bisa ditiru.
Yang dirasakan bukan hanya rasa makanan, melainkan seluruh cerita yang pernah menyertainya. Ada kebersamaan di meja makan. Ada suara anggota keluarga yang saling berbincang. Ada perhatian yang terasa hadir dalam setiap hidangan yang disiapkan tanpa tergesa-gesa.
Semua itu menjadi bagian dari pengalaman yang ikut 'tersaji' setiap kali makanan tersebut disantap.
Yang Dirindukan Sering Kali Bukan Masakannya, Melainkan Orang yang Memasaknya
Masakan rumahan memiliki satu hal yang sulit disalin oleh resep mana pun, yaitu hubungan emosional.
Antropolog makanan Prof. Sidney W. Mintz, penulis Tasting Food, Tasting Freedom [1996], menjelaskan bahwa makanan bukan sekadar pemenuh kebutuhan biologis. Dalam banyak budaya, makanan juga menjadi cara manusia membangun ikatan, menunjukkan perhatian, dan mewariskan nilai-nilai keluarga.
Karena itu, ketika seseorang berkata, 'Masakan ibu tidak ada yang bisa menandingi,' belum tentu yang dimaksud adalah komposisi bumbunya.
Bisa jadi yang sebenarnya dirindukan adalah suasana pulang ke rumah, seseorang yang selalu bertanya apakah kita sudah makan, atau perasaan diterima tanpa syarat yang dulu hadir di meja makan.
Mungkin itulah sebabnya banyak orang mencoba meniru resep ibunya, tetapi tetap merasa ada sesuatu yang berbeda. Takaran garam bisa sama. Cara memasaknya bisa dipelajari. Bahkan bahan-bahannya mungkin berasal dari tempat yang sama. Namun, kenangan tidak pernah bisa diukur dengan sendok atau timbangan.
Karena itulah, masakan ibu tidak selalu menjadi hidangan yang paling mewah. Nilainya tumbuh dari waktu, kebersamaan, dan kasih sayang yang menyertainya selama bertahun-tahun. Dan ketika semua itu berpadu dalam satu suapan, yang kita nikmati bukan hanya makanan, melainkan sepotong rumah yang selalu berhasil menemukan jalan untuk kembali ke hati. [][Rommy Rimbarawa/KK]
Penulisan dan riset artikel ini dibantu AI serta telah melalui proses kurasi Redaksi.