Air ada di mana-mana, tetapi tidak semuanya bisa diminum. Di posko pengungsian, kebutuhan itu terasa semakin mendesak. Bagaimana menjernihkannya?

Ketika banjir bandang melanda, seluruh ritme hidup berubah dalam hitungan menit. Rumah-rumah hilang, jalan terputus, dan sumber air bersih pun ikut terkontaminasi lumpur, limbah, atau serpihan material lain. Di posko sementara, pengungsi tidak hanya kehilangan tempat tinggal, tetapi juga akses pada air bersih yang sangat dibutuhkan untuk minum, memasak, hingga membersihkan diri.

Bagi orang luar, air mungkin terlihat berlimpah di lokasi bencana. Namun bagi mereka yang berada di dalamnya, setiap tetes air bersih adalah harapan baru. Banyak pengungsi yang terpaksa meminum air seadanya karena keterbatasan waktu dan bantuan. Padahal, air yang tidak ditangani dengan benar dapat membawa penyakit seperti diare, kolera, hingga infeksi kulit. Inilah alasan mengapa upaya menjernihkan air menjadi hal mendesak di hari-hari pertama setelah banjir.

Ketika krisis datang, masyarakat sering memanfaatkan apa pun yang tersedia: ember, galon kosong, kain bersih, arang, atau tablet penjernih yang diberikan relawan. Namun, tidak semua orang tahu bahwa air yang tampak jernih sekalipun belum tentu aman diminum. Ada proses yang perlu dilakukan dengan penuh perhatian agar air yang dikonsumsi benar-benar layak.

Di sinilah pentingnya memahami langkah-langkah sederhana untuk menjernihkan air—metode yang bisa dilakukan siapa pun, kapan pun, bahkan hanya dengan peralatan darurat.

Baca Juga: Akar Wangi, Si Penahan Erosi dan Mengurangi Risiko Longsor

Metode Paling Sederhana: Dari Mengendapkan hingga Menyaring

Langkah pertama untuk menjernihkan air adalah membiarkan kotoran berat mengendap. Air keruh biasanya mengandung lumpur dan tanah halus yang bisa turun ke dasar wadah dalam beberapa jam. Cara ini sederhana, namun sering diabaikan karena banyak orang terburu-buru memerlukan air. Padahal, mengendapkan air dapat mengurangi tingkat kekeruhan secara drastis.

Setelah mengendap, penyaringan menjadi proses berikutnya. Kain bersih, kapas, atau kain kasa dapat membantu menyaring kotoran halus. Beberapa relawan bahkan membuat penyaring darurat menggunakan pasir, arang, dan kerikil—mirip konsep slow sand filter yang biasa digunakan dalam pengolahan air sederhana. Meski hasilnya tidak sempurna, cara ini cukup membantu ketika sumber daya terbatas.

Dalam situasi tertentu, tablet klorin atau water purification tablets sering dibagikan oleh BNPB atau organisasi kemanusiaan. Tablet ini bekerja membunuh bakteri dan virus dalam waktu sekitar 30 menit. Air yang sudah disaring dan diendapkan akan lebih aman bila dipadukan dengan tablet penjernih. Namun, masyarakat harus memastikan dosis penggunaannya sesuai petunjuk agar tidak menimbulkan iritasi atau gangguan pencernaan.

Baca Juga: Berapa Lama Lingkungan Bisa Pulih Setelah Bencana Besar?

Memasak, Mendisinfeksi, dan Cara-cara Wajib untuk Air Aman Dikonsumsi

Meski metode penyaringan membantu mengurangi kotoran, langkah paling aman untuk memastikan air benar-benar layak diminum adalah dengan merebusnya. Memasak air hingga mendidih selama satu menit—atau tiga menit bila berada di dataran tinggi—mampu mematikan hampir semua mikroorganisme berbahaya. Cara ini adalah metode paling mudah dan dapat dilakukan menggunakan kompor gas, tungku darurat, atau perlengkapan dapur relawan.

Apabila kompor tidak tersedia, Anda dapat memanfaatkan cairan klorin rumah tangga yang tidak mengandung pewangi. Dua tetes klorin untuk satu liter air cukup untuk mendisinfeksi air dalam keadaan darurat. Namun metode ini harus dilakukan dengan hati-hati, terutama bila sumber air sangat keruh. Penyaringan tetap diperlukan sebelum pemberian klorin.

Air untuk mandi atau mencuci tidak harus melalui proses seketat air minum. Namun tetap saja, air yang terlalu kotor dapat memicu penyakit kulit, terutama bagi anak-anak. Menggunakan sabun antibakteri dan mengeringkan tubuh dengan benar bisa membantu mengurangi risiko iritasi atau infeksi setelah kontak dengan air banjir.

Pada akhirnya, air bersih bukan hanya soal kebutuhan fisik. Di lokasi pengungsian, air yang layak pakai membantu memulihkan rasa aman, menjaga kesehatan keluarga, dan memberi sedikit ruang bernapas di tengah situasi yang serba tak pasti. Setiap upaya kecil untuk menjernihkan air adalah cara sederhana untuk bertahan—dan berharap—di masa yang paling berat. [][Rommy Rimbarawa/KK]

[penulisan artikel ini dibantu riset AI dan telah melewati kurasi Redaksi]