Karhutla dapat merusak ekosistem gambut yang terbentuk selama ribuan tahun. Penelitian menemukan sejumlah pohon asli yang menjanjikan untuk restorasi, tetapi penanaman saja tidak cukup.

Setelah api berhasil dipadamkan, hamparan gambut yang terbakar mungkin hanya menyisakan tanah menghitam, batang pohon hangus, dan vegetasi yang mati. Asap perlahan menghilang, petugas meninggalkan lokasi, sementara perhatian masyarakat berpindah kepada persoalan lain. Tetapi bagi ekosistem gambut, berakhirnya kebakaran belum berarti kerusakannya telah selesai.

Berbeda dari kebakaran vegetasi biasa, api di lahan gambut dapat merambat ke lapisan bahan organik di bawah permukaan. Ketika gambut mengering, cadangan karbon yang terbentuk melalui proses sangat panjang ikut terancam hilang. Karena itu, pemulihan kawasan tidak cukup diukur dari munculnya tanaman hijau setelah hujan kembali turun.

Persoalan tersebut menjadi perhatian ketika kebakaran hutan dan lahan [karhutla] kembali melanda berbagai wilayah Indonesia. Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana [BNPB], luas kumulatif karhutla di enam provinsi prioritas mencapai sekitar 129.899 hektare hingga 12 Oktober 2026. Angka itu mencakup berbagai jenis lahan, tidak seluruhnya kawasan gambut.

Baca Juga: Mengapa Hujan Sering Turun pada Jam yang Sama, dan Kapan Polanya Bisa Berubah?

Empat Pohon Asli yang Menunjukkan Potensi Pemulihan Gambut

Di tengah tantangan tersebut, penelitian di Kalimantan Tengah memberikan petunjuk mengenai jenis pohon yang berpotensi membantu memulihkan kawasan gambut terdegradasi. Penelitian dilakukan oleh Maija Lampela, Jyrki Jauhiainen, Sakari Sarkkola, dan Harri Vasander, kemudian diterbitkan dalam jurnal Forest Ecology and Management pada 2017.

Para peneliti menguji 21 spesies pohon melalui percobaan penanaman di dua kawasan, yakni Kalampangan, bekas wilayah proyek lahan gambut sejuta hektare, dan tepian Sungai Sabangau. Kedua lokasi menghadirkan tantangan berbeda karena kondisi air, tingkat kerusakan, serta riwayat kebakarannya tidak sama.

Hasil penelitian menunjukkan empat spesies yang dinilai menjanjikan, yakni balangeran [Shorea balangeran], saga [Adenanthera pavonina], keramu [Dacryodes rostrata], dan pasang atau mempening [Lithocarpus dasystachys].

Di lokasi Kalampangan, Lithocarpus dasystachys mencatat pertumbuhan tinggi relatif sebesar 220 persen dari tinggi awal penanaman setelah sekitar satu setengah tahun. Angka tersebut menggambarkan pertambahan tinggi relatif bibit, bukan keberhasilan pemulihan seluruh ekosistem gambut.

Balangeran justru dinilai sebagai spesies paling menjanjikan secara keseluruhan berdasarkan kombinasi pertumbuhan dan kemampuan bibit bertahan hidup. Temuan ini penting karena keberhasilan restorasi tidak hanya membutuhkan pohon yang tumbuh cepat, tetapi juga tanaman yang mampu bertahan menghadapi kondisi lingkungan yang sulit.

Di lahan gambut yang telah terbuka, bibit dapat menghadapi panas tinggi ketika musim kemarau dan genangan ketika musim hujan. Penelitian Lampela dan rekan-rekannya menemukan bahwa kebakaran menjadi hambatan utama di Kalampangan, sedangkan fluktuasi muka air yang ekstrem membatasi keberhasilan bibit di tepian Sabangau.

Artinya, memilih pohon asli merupakan langkah penting, tetapi jenis yang paling sesuai tetap harus mempertimbangkan kondisi masing-masing lokasi. Hasil percobaan tersebut juga tidak berarti bahwa empat spesies tadi pasti berhasil apabila ditanam di semua lahan gambut Indonesia.

Baca Juga: Hujan Akhirnya Turun di Tengah Karhutla, ke Mana Perginya Asap dan Apa Bahaya yang Tersisa?

Mengapa Gambut Harus Dipulihkan Airnya Sebelum Ditanami?

Gambut terbentuk dari akumulasi bahan organik dalam lingkungan basah selama waktu yang sangat panjang. Ketika saluran drainase mengeringkan kawasan, lapisan gambut lebih mudah mengalami penguraian, penurunan permukaan tanah, dan kebakaran. Kondisi tersebut dapat membuat bibit yang baru ditanam kembali terancam rusak.

Karena itu, restorasi gambut di Indonesia mengenal pendekatan tiga langkah atau 3R: pembasahan kembali [rewetting], penanaman kembali [revegetation], dan revitalisasi mata pencaharian masyarakat. Pembasahan dapat dilakukan antara lain melalui penyekatan kanal untuk membantu mempertahankan tinggi muka air.

Pentingnya tata air diperkuat penelitian dalam Scientific Reports pada 2024. Melalui pemantauan selama sekitar tujuh setengah tahun di kawasan restorasi Sumatra, para peneliti menemukan bahwa pembasahan kembali dengan pembangunan sekat kanal dapat mengurangi laju penurunan permukaan gambut. Di kawasan yang lebih basah juga ditemukan pertumbuhan alami puluhan spesies pohon rawa gambut.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa pemulihan vegetasi tidak selalu harus dimulai dengan menanam bibit sebanyak mungkin. Pada kondisi yang sesuai, mengembalikan tata air dapat membantu menciptakan lingkungan bagi tumbuhnya kembali spesies asli. Penanaman aktif tetap diperlukan pada lokasi tertentu, terutama ketika regenerasi alami terhambat.

Pemulihan juga memerlukan perlindungan terhadap kebakaran berulang. Bibit yang mampu bertahan pada musim pertama belum tentu dapat tumbuh menjadi pohon dewasa apabila kawasan kembali terbakar. Upaya pencegahan, pemantauan muka air, serta keterlibatan masyarakat sekitar menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pekerjaan restorasi.

Aspek sosial sama pentingnya karena banyak masyarakat hidup dan menggantungkan penghasilan pada kawasan sekitar gambut. Pengelolaan yang menjaga ekosistem perlu disertai pilihan mata pencaharian yang sesuai agar kebutuhan ekonomi tidak terus mendorong pengeringan dan pembukaan lahan yang berisiko.

Empat spesies pohon yang diteliti di Kalimantan Tengah memberikan harapan bahwa sebagian vegetasi asli masih memiliki kemampuan tumbuh di lahan yang rusak. Akan tetapi, memulihkan hutan gambut jauh lebih rumit daripada membuat kawasan kembali terlihat hijau. Pohon dapat membantu mengembalikan kehidupan di atas tanah, tetapi menjaga air di dalam gambut merupakan bagian mendasar agar kehidupan itu mempunyai kesempatan bertahan. [][Rommy Rimbarawa/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.