Wajahnya muncul hampir setiap hari. Cerita hidupnya kita ikuti. Lama-lama, orang asing di media sosial bisa terasa seperti seseorang yang benar-benar kita kenal.
Kita tahu ia baru pindah rumah, sedang mencoba menurunkan berat badan, anaknya baru masuk sekolah, bahkan mungkin tahu kopi yang biasa dipesannya. Ketika ia mengumumkan kehamilan, pernikahan, atau kehilangan seseorang, kita ikut bahagia atau sedih. Padahal, orang tersebut mungkin bahkan tidak mengetahui keberadaan kita.
Perasaan itu semakin mudah muncul di media sosial. Kreator tidak lagi hanya muncul dalam video yang rapi, tetapi juga melalui story ketika baru bangun tidur, siaran langsung dari mobil, cerita tentang masalah keluarga, atau percakapan sambil makan malam. Batas antara figur publik dan kehidupan sehari-hari pun terasa semakin tipis.
Anehnya, kedekatan tersebut tidak sepenuhnya palsu. Emosi yang muncul dapat sungguh-sungguh dirasakan oleh orang yang mengikuti. Yang berbeda adalah bentuk hubungannya: kita memperoleh banyak informasi tentang seseorang, sementara orang tersebut hampir tidak memperoleh informasi apa pun tentang kita.
Baca Juga: Kenapa Kita Lebih Berani Berkomentar kepada Orang yang Tidak Kita Kenal?
Ketika Hubungan Terasa Dua Arah, Padahal Tidak
Fenomena ini sudah dipelajari jauh sebelum Instagram, TikTok, atau YouTube hadir. Pada 1956, Donald Horton dan R. Richard Wohl memperkenalkan istilah parasocial interaction untuk menggambarkan hubungan yang terasa intim antara penonton dan figur yang muncul melalui media. Penonton dapat merasa seperti sedang berinteraksi dengan seseorang, meskipun komunikasi tersebut sebenarnya berlangsung satu arah.
Media sosial kemudian memberikan kondisi yang membuat pengalaman itu semakin kuat. Penelitian David Frederick dan koleganya mengenai hubungan parasosial di media sosial menunjukkan bahwa keterlibatan dengan figur media dapat berkaitan dengan perasaan kedekatan, ketertarikan, dan keterhubungan. Fitur seperti komentar, likes, pesan langsung, serta siaran langsung juga memberikan kemungkinan interaksi yang dahulu hampir tidak tersedia pada media tradisional.
Bahasa yang digunakan kreator ikut memperpendek jarak. Kalimat seperti "kalian pasti tahu", "aku cerita ke kalian dulu", atau "temani aku hari ini" menempatkan pengikut seolah berada di dalam lingkaran percakapan. Ketika pola tersebut berulang setiap hari, otak mendapatkan banyak petunjuk yang biasanya juga hadir ketika kita mengenal seseorang dalam kehidupan nyata.
Keterbukaan personal memperkuat proses tersebut. Penelitian mengenai self-disclosure dalam hubungan parasosial menunjukkan bahwa ketika figur media membagikan pengalaman, emosi, kegagalan, atau bagian pribadi kehidupannya, audiens dapat merasakan kedekatan yang lebih besar. Kita bukan hanya mengetahui apa yang mereka kerjakan, tetapi merasa mengetahui bagaimana mereka menjalani hidup.
Namun banyak mengetahui seseorang berbeda dengan benar-benar mengenalnya. Kita melihat bagian kehidupan yang dipilih untuk ditampilkan, pada waktu yang dipilih, melalui sudut pandang yang juga dipilih. Bahkan konten yang terlihat spontan tetap hanya memberikan sebagian kecil dari keseluruhan kehidupan seseorang.
Baca Juga: Video Pendek Makin Dipercaya, Artikel Panjang Makin Sering Dilewati, Fenomena Apa Ini?
Perasaan Dekat Itu Nyata, Hubungannya Tetap Memiliki Batas
Hubungan parasosial tidak selalu menjadi sesuatu yang buruk. Kajian psikolog Gayle Stever mengenai hubungan penggemar dengan figur media menunjukkan bahwa hubungan semacam ini dapat memenuhi sejumlah kebutuhan sosial dan emosional, termasuk memberikan rasa keterhubungan. Figur yang diikuti juga dapat menjadi sumber inspirasi, hiburan, pengetahuan, atau bahkan menemani seseorang melewati periode tertentu dalam kehidupannya.
Itu menjelaskan mengapa kehilangan figur publik dapat memunculkan kesedihan yang terasa sangat pribadi. Seseorang mungkin mengikuti musisi tertentu sejak remaja, mendengarkan suaranya ketika mengalami masa sulit, kemudian mengikuti kehidupannya selama puluhan tahun. Mereka tidak pernah bertemu, tetapi figur tersebut telah hadir dalam banyak bagian kehidupan orang yang mengikutinya.
Masalah dapat muncul ketika rasa mengenal berubah menjadi keyakinan bahwa kita berhak memasuki kehidupan pribadi orang tersebut. Kreator mengganti pasangan lalu pengikut merasa dikhianati, seorang selebritas mengambil keputusan yang tidak disukai lalu orang bertanya, "Kok dia berubah?", atau penggemar menuntut penjelasan karena figur yang diikutinya tidak lagi membagikan kehidupan pribadi sebanyak dahulu.
Di sinilah media sosial menciptakan paradoks yang menarik. Semakin banyak seseorang membagikan kehidupannya, semakin dekat pengikut merasa kepadanya, tetapi kedekatan tersebut juga dapat membuat batas antara perhatian dan kepemilikan menjadi kabur. Mengetahui banyak hal tentang seseorang mudah disalahartikan sebagai mempunyai hubungan dengan orang tersebut.
Sesekali kita mungkin perlu membedakan dua kalimat yang terdengar hampir sama: "Aku sudah lama mengikuti dia" dan "Aku mengenal dia." Kalimat pertama menjelaskan pengalaman kita sebagai audiens, sedangkan kalimat kedua mengandaikan adanya hubungan dan pengetahuan yang jauh lebih utuh. Perbedaan kecil itu membantu menjaga batas tanpa harus menyangkal emosi yang memang muncul.
Jadi, tidak aneh jika kita merasa kehilangan ketika kreator favorit berhenti membuat konten atau ikut gembira ketika seseorang yang bertahun-tahun kita ikuti akhirnya mencapai sesuatu. Kehadirannya memang telah menjadi bagian dari rutinitas dan pengalaman kita. Hanya saja, merasa dekat dengan seseorang tidak selalu berarti jarak di antara kedua orang tersebut benar-benar telah hilang. [][Eva Evilia/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.