Upaya merawat gagasan ekonomi yang berkeadilan kembali mendapat ruang penting di awal 2026.
Ikatan Alumni Universitas Padjadjaran [IKA Unpad] sukses menggelar Ekonomi Pancasila Forum 2026 [EPF 2026] pada 31 Januari 2026 di Assembly Hall, Menara Mandiri, Jakarta. Forum ini dihadirkan sebagai ruang dialog lintas sektor untuk membicarakan arah kebijakan ekonomi nasional di tengah dinamika global dan tantangan pembangunan jangka panjang.
Mengusung tema ‘Reaktualisasi Ekonomi Pancasila Menuju Indonesia Emas 2045’, EPF 2026 menempatkan nilai-nilai Pancasila sebagai fondasi utama dalam membaca persoalan ekonomi kekinian. Diskusi tidak hanya berangkat dari konsep normatif, tetapi diarahkan kepada bagaimana kebijakan ekonomi bisa lebih berpihak pada kepentingan rakyat dan keberlanjutan nasional.
Ketua Umum IKA Unpad yang juga Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, di kesempatan lain menegaskan bahwa forum ini merupakan bagian dari komitmen alumni Unpad untuk terus terlibat dalam dialog strategis kebijakan publik. Menurutnya, ekonomi berkeadilan membutuhkan ruang diskusi yang terbuka, kritis, dan melibatkan banyak perspektif agar tidak terjebak pada pendekatan teknokratis semata.
Baca Juga: Menteri PANRB: Masa Purna Bakti Bukan Akhir Produktivitas, ASN Diminta Bersiap Sejak Dini
Dukungan terhadap penyelenggaraan forum juga datang dari Universitas Padjadjaran. Wakil Rektor Unpad Maman Setiawan, yang hadir mewakili universitas, menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dan alumni dalam memperkaya diskursus kebijakan nasional. Ia menilai, kontribusi pemikiran akademik tetap relevan dalam menjawab tantangan ekonomi masa depan.
Forum ini turut dibuka dengan sambutan Wakil Direktur Utama Bank Mandiri, Henry Panjaitan, yang juga alumni FEB Unpad angkatan 1987. Ia menyampaikan dukungan penuh terhadap EPF 2026 sebagai wadah dialog kebijakan ekonomi yang berorientasi pada kepentingan nasional dan keberlanjutan sistem keuangan.
Dewan Penasihat IKA Unpad Omay K. Wiraatmadja menilai EPF 2026 sebagai inisiatif strategis yang perlu dijaga keberlanjutannya. Ia menegaskan bahwa Ekonomi Pancasila tidak boleh berhenti sebagai wacana, melainkan harus diterjemahkan menjadi kerangka kebijakan yang konsisten dan terukur dalam praktik pembangunan.

dari kiri-kanan: Wakil Rektor Unpad Maman Setiawan, Ketua Dewan Penasihat IKA Unpad Omay K. Wiraatmadja, dan Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Henry Panjaitan
Diskusi forum menghadirkan berbagai narasumber dari latar belakang akademisi, praktisi, hingga tokoh nasional. Sejumlah nama yang terlibat antara lain Rocky Gerung, Abdul Bari, Yones William, Bayu Trisno Arief S., Fahmi Wibawa, dan Handi Risza. Diskusi dimoderatori oleh Nuning P. Hallet dan Krishna Amir Hamzah, yang membawa percakapan berjalan dinamis dan tajam.
Antusiasme peserta terlihat dari partisipasi aktif dalam sesi diskusi dan tanya jawab. Peserta yang hadir berasal dari beragam latar belakang, mulai dari profesional, akademisi, alumni, hingga pelaku usaha. Pertukaran pandangan menjadi bagian penting dalam memperkaya perspektif mengenai arah kebijakan ekonomi nasional.
Ketua Pelaksana EPF 2026 Adriastama N. Priajati menyampaikan bahwa forum ini dirancang untuk mengedepankan substansi dan kedalaman pembahasan. Melalui EPF 2026, IKA Unpad berharap kontribusi alumni dapat semakin nyata dalam mendorong kebijakan ekonomi yang inklusif, berkeadilan, dan berorientasi jangka panjang.
Sebagai organisasi alumni dengan jumlah anggota mencapai sekitar 400 ribu orang di dalam dan luar negeri, IKA Unpad memandang forum ini sebagai bagian dari peran strategis alumni dalam pembangunan nasional. Sejak berdiri pada 24 September 1960, IKA Unpad terus berupaya menghadirkan kegiatan yang berdampak bagi masyarakat, seiring dengan potensi besar jejaring alumninya. [][Rudi Tenggarawan/KK/PR EPF]