Hipertensi dapat berlangsung bertahun-tahun tanpa keluhan yang jelas. Padahal, tekanan darah yang terus meningkat dapat merusak organ sebelum seseorang menyadarinya.
Seorang laki-laki berusia 42 tahun datang ke puskesmas untuk mengurus surat keterangan sehat. Ia tidak sedang sakit, masih bekerja seperti biasa, dan hampir tidak pernah mengeluhkan pusing. Karena itu, ia cukup terkejut ketika petugas kesehatan menemukan tekanan darahnya mencapai 160/100 mmHg.
Ia meminta pengukuran diulang karena merasa hasilnya pasti keliru. Baginya, tekanan darah tinggi seharusnya membuat kepala berdenyut, tengkuk terasa berat, atau tubuh kehilangan tenaga. Kenyataannya, ia tetap dapat beraktivitas seperti hari-hari sebelumnya.
Cerita ilustratif tersebut menggambarkan salah satu kesalahpahaman yang masih sering dijumpai. Banyak orang menganggap hipertensi selalu disertai keluhan yang mudah dikenali. Padahal, tekanan darah tinggi dapat berkembang tanpa menimbulkan gejala yang berarti, bahkan ketika kondisi tersebut sudah berlangsung cukup lama.
Baca Juga: Panas yang Kita Rasakan Bisa Berbahaya, Kapan Tubuh Mengalami Heat Stroke?
Mengapa Tubuh Tidak Selalu Memberi Tanda ketika Tekanan Darah Meningkat?
Tekanan darah merupakan kekuatan yang diberikan aliran darah terhadap dinding pembuluh arteri. Angka pertama dalam hasil pengukuran menunjukkan tekanan sistolik, yaitu ketika jantung berkontraksi. Angka kedua menunjukkan tekanan diastolik, yakni ketika jantung berada dalam fase relaksasi di antara denyutnya.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia [WHO], hipertensi umumnya didiagnosis apabila hasil pengukuran pada dua hari berbeda menunjukkan tekanan sistolik sekurang-kurangnya 140 mmHg dan/atau diastolik sekurang-kurangnya 90 mmHg. Penilaian tetap harus memperhatikan kondisi pasien dan prosedur pengukuran yang benar karena satu hasil tinggi belum cukup untuk memastikan diagnosis.
Seseorang dapat mengalami peningkatan tekanan darah tanpa merasakan perubahan berarti pada tubuhnya. Berbeda dengan cedera yang langsung menimbulkan nyeri, tekanan berlebih di dalam pembuluh darah tidak selalu menghasilkan sensasi khusus yang dapat dikenali. Tubuh juga memiliki mekanisme pengaturan tekanan darah, sehingga perubahan yang berlangsung perlahan belum tentu segera mengganggu kegiatan sehari-hari.
Itulah sebabnya hipertensi sering disebut sebagai silent killer, atau pembunuh senyap. Istilah tersebut bukan berarti semua penderita pasti mengalami komplikasi berat, melainkan menggambarkan kondisi yang dapat berkembang tanpa keluhan jelas sekaligus meningkatkan risiko kerusakan organ apabila tidak dikendalikan.
Dalam laporan WHO yang diperbarui pada September 2025, diperkirakan 1,4 miliar orang dewasa berusia 30–79 tahun di dunia mengalami hipertensi pada 2024. Sekitar 600 juta di antaranya, atau 44 persen, belum mengetahui bahwa mereka memiliki tekanan darah tinggi. Besarnya jumlah tersebut memperlihatkan mengapa pemeriksaan menjadi penting meskipun seseorang merasa sehat.
Di Indonesia, Survei Kesehatan Indonesia [SKI] 2023 mencatat prevalensi hipertensi pada penduduk berusia sekurang-kurangnya 18 tahun mencapai 30,8 persen berdasarkan pengukuran tekanan darah. Sementara itu, prevalensi berdasarkan pengakuan pernah didiagnosis dokter hanya 8,6 persen. Perbedaan kedua angka tersebut menunjukkan masih besarnya kesenjangan antara temuan pengukuran dan hipertensi yang diketahui melalui diagnosis.
Tidak adanya keluhan bukan berarti pembuluh darah terbebas dari pengaruh tekanan tinggi. Dalam jangka panjang, hipertensi yang tidak terkontrol dapat membebani jantung dan merusak pembuluh darah pada organ penting, termasuk otak, ginjal, dan mata. WHO mengidentifikasi hipertensi sebagai faktor risiko utama penyakit jantung, stroke, dan penyakit ginjal.
Sakit kepala, pusing, atau tengkuk terasa berat juga tidak dapat dijadikan alat untuk memastikan tekanan darah seseorang. Keluhan semacam itu dapat muncul karena berbagai penyebab dan tidak selalu berkaitan dengan hipertensi. Sebaliknya, seseorang dengan tekanan darah tinggi mungkin sama sekali tidak mengalami keluhan tersebut.
Baca Juga: Ketika Ibu Hamil Menghirup Asap Karhutla, Apa yang Terjadi pada Janinnya?
Tidak Merasa Sakit, Kapan Tekanan Darah Perlu Diperiksa?
Pemeriksaan tekanan darah merupakan cara paling sederhana untuk mengetahui apakah seseorang memiliki tekanan darah yang meningkat. Pengukuran dapat dilakukan di fasilitas kesehatan atau menggunakan alat pengukur otomatis di rumah, terutama bagi mereka yang telah didiagnosis hipertensi dan membutuhkan pemantauan berkala.
American Heart Association [AHA] menganjurkan penggunaan alat otomatis dengan manset lengan atas yang ukurannya sesuai. Sebelum pemeriksaan, seseorang sebaiknya menghindari merokok, minuman berkafein, dan olahraga selama 30 menit, kemudian duduk tenang sekurang-kurangnya lima menit. Posisi punggung perlu ditopang, kedua kaki menapak lantai, dan lengan berada setinggi jantung.
Pengukuran sebaiknya dilakukan dua kali dengan jeda sekitar satu menit, kemudian hasilnya dicatat. Catatan dari beberapa hari dapat membantu tenaga kesehatan menilai pola tekanan darah, bukan hanya angka yang muncul dalam satu kesempatan. Nilai yang tinggi sesaat dapat dipengaruhi aktivitas, kecemasan, atau kesalahan teknik pengukuran, sehingga pemeriksaan ulang sering diperlukan.
Bagi orang dewasa yang memiliki tekanan darah normal, AHA merekomendasikan pemeriksaan setidaknya setahun sekali dalam kunjungan kesehatan rutin. Pemeriksaan lebih sering mungkin dibutuhkan apabila seseorang memiliki riwayat keluarga hipertensi, diabetes, penyakit ginjal, atau faktor risiko lain. Jadwal terbaik dapat disesuaikan melalui konsultasi dengan tenaga kesehatan.
Menjaga tekanan darah juga berkaitan dengan kebiasaan sehari-hari. Membatasi konsumsi garam, memperbanyak makanan bergizi seimbang, melakukan aktivitas fisik secara teratur, menjaga berat badan, dan menghindari rokok merupakan langkah yang membantu mengurangi risiko hipertensi. Sebagian penderita tetap membutuhkan obat sesuai penilaian dokter, meskipun sudah memperbaiki gaya hidup.
Bagi pasien yang telah mendapat pengobatan, merasa sehat atau memperoleh hasil pengukuran yang membaik bukan alasan untuk menghentikan obat sendiri. Tekanan darah yang terkendali mungkin justru menunjukkan bahwa pengobatan dan perubahan kebiasaan sedang bekerja. Penghentian atau perubahan dosis perlu dibicarakan dengan dokter.
Ada keadaan yang membutuhkan perhatian segera. Apabila tekanan darah lebih tinggi dari 180 mmHg sistolik dan/atau 120 mmHg diastolik, AHA menganjurkan pengukuran ulang setelah sekurang-kurangnya satu menit. Jika tetap sangat tinggi, hubungi tenaga kesehatan segera. Apabila disertai nyeri dada, sesak napas, kelemahan anggota tubuh, gangguan penglihatan, atau kesulitan berbicara, kondisi tersebut merupakan keadaan darurat yang memerlukan pertolongan segera. Gejala darurat seperti tanda stroke atau serangan jantung tetap harus ditangani segera meskipun angka tekanan darah belum diketahui.
Kementerian Kesehatan RI juga mengingatkan bahwa hipertensi sering tidak menimbulkan gejala yang jelas dan dapat berdampak serius pada jantung, otak, serta ginjal. Karena itu, menunggu sakit kepala atau keluhan lain sebelum memeriksakan tekanan darah justru dapat menyebabkan kondisi tersebut terlambat dikenali.
Tekanan darah tinggi memperlihatkan bahwa kesehatan tidak selalu dapat dinilai hanya dari apa yang dirasakan tubuh. Seseorang mungkin masih bekerja, berolahraga, dan menjalani aktivitas sehari-hari tanpa kesulitan, sementara tekanan darahnya sudah membutuhkan perhatian medis. Merasa sehat merupakan hal yang baik, tetapi mengetahui kondisi kesehatan melalui pemeriksaan adalah cara untuk memastikan perasaan itu tidak membuat risiko yang tersembunyi terabaikan. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.