Oleh Adrian Damar
Ada orang yang berangkat bekerja sebelum matahari terbit dan pulang setelah hari gelap. Ia tidak kekurangan kemauan, tetapi penghasilannya tetap tidak cukup untuk mengubah nasib.
Saya membayangkan seorang pengemudi ojek yang sudah berada di jalan ketika sebagian orang masih tidur. Setiap hari ia menghitung biaya bahan bakar, cicilan kendaraan, kebutuhan makan keluarga, dan uang sekolah anaknya. Jika pendapatannya hari itu kurang, ia mungkin memperpanjang jam kerja sampai malam, meskipun tubuhnya sudah meminta istirahat.
Saya juga membayangkan seorang guru honorer yang menghabiskan hari-harinya mendidik anak orang lain. Ia mempersiapkan pelajaran, memeriksa tugas, dan menjalankan tanggung jawab yang tidak selalu selesai ketika bel sekolah berbunyi. Tetapi penghasilan yang diterimanya belum tentu mencukupi kebutuhan keluarganya sendiri.
Apakah mereka kurang bekerja keras?
Pertanyaan itu kembali mengganggu saya ketika membaca perbincangan di media sosial beberapa hari terakhir. Maia Estianty menulis tentang rezeki, ikhtiar, kerja keras, dan sedekah, menggunakan perumpamaan burung yang harus terbang untuk mencari makan. Dalam pandangannya, manusia perlu berusaha dan tidak bermalas-malasan ketika menginginkan kehidupan yang lebih baik.
Secara terpisah, Jerome Polin membicarakan kemiskinan struktural. Ia mengakui pernah berpikir bahwa kesulitan ekonomi terutama disebabkan kurangnya kerja keras, sebelum memahami bahwa ada persoalan sistem pengupahan, kesempatan, dan kondisi sosial yang turut menentukan nasib seseorang. Ia menyinggung orang-orang yang bekerja keras, termasuk guru honorer, tenaga kesehatan, dan tukang becak, tetapi belum tentu memperoleh penghasilan yang layak.
Saya tidak ingin menjadikan dua pandangan itu sebagai pertengkaran. Boleh jadi memang tak saling berhubungan. Tetapi keduanya dapat menjadi pintu masuk untuk memahami sesuatu yang sering kita sederhanakan ketika membicarakan kemiskinan. Kerja keras memang penting, tetapi apakah kerja keras selalu mempunyai kesempatan yang sama untuk menghasilkan kesejahteraan?
Baca Juga: Kalau Semua Perselisihan Berakhir di Ranah Pidana, Untuk Apa Kita Punya Jalan Hukum yang Lain?
Ketika Kerja Keras Tidak Mendapatkan Harga yang Layak
Ada keyakinan yang terasa menenangkan dalam masyarakat kita: siapa pun dapat berhasil selama mau berusaha. Keyakinan itu memberi harapan bahwa masa depan berada dalam kendali pribadi. Kita diajari belajar dengan tekun, bekerja lebih keras, menghindari kemalasan, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.
Saya tidak menganggap nasihat tersebut keliru. Usaha pribadi memang dapat membuka kesempatan, meningkatkan keterampilan, dan membantu seseorang memperbaiki kehidupannya. Persoalannya muncul ketika nasihat itu berubah menjadi penjelasan tunggal atas keberhasilan maupun kegagalan seseorang.
Jika orang kaya dianggap pasti bekerja keras, orang miskin mudah dicurigai kurang berusaha. Jika seseorang berhasil keluar dari kemiskinan, kisahnya dijadikan bukti bahwa semua orang sebenarnya mempunyai kesempatan yang sama. Kita kemudian lupa bertanya berapa banyak orang lain yang telah bekerja sama keras, tetapi tetap tidak berhasil keluar dari keadaan serupa.
Data Badan Pusat Statistik [BPS] memperlihatkan mengapa persoalan tersebut perlu dibaca lebih hati-hati. Pada Maret 2026, Indonesia masih mempunyai 22,93 juta penduduk miskin atau 8,07 persen dari jumlah penduduk. Angka itu memang menurun dibandingkan periode sebelumnya, tetapi tetap menunjukkan besarnya kelompok masyarakat yang menghadapi keterbatasan ekonomi.
Sementara itu, hasil Survei Angkatan Kerja Nasional Februari 2026 mencatat 147,67 juta penduduk Indonesia bekerja. Rata-rata upah buruh berada pada angka Rp3,29 juta per bulan. Angka rata-rata tersebut tentu tidak menggambarkan seluruh kondisi pekerja, sebab penghasilan berbeda menurut daerah, pendidikan, jenis pekerjaan, dan sektor ekonomi.
BPS juga menerbitkan Statistik Pendapatan Februari 2026 yang secara khusus menyoroti pekerja berusaha sendiri dan pekerja bebas. Dalam penjelasan publikasinya, BPS mengakui adanya perbedaan perlindungan hukum antara pekerja berstatus buruh dan mereka yang bekerja di luar hubungan kerja tersebut. Perbedaan perlindungan ini berkaitan dengan ketimpangan pendapatan yang perlu menjadi perhatian kebijakan.
Artinya, mempunyai pekerjaan belum tentu berarti mempunyai penghasilan yang cukup. Bahkan seseorang dapat menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk bekerja tanpa memperoleh ruang yang memadai untuk menabung, meningkatkan keterampilan, atau membangun usaha. Ketika kebutuhan sehari-hari terus menyerap pendapatan, kesempatan untuk memperbaiki keadaan menjadi semakin sempit.
Bayangkan dua orang yang sama-sama bekerja selama sepuluh jam sehari. Yang pertama mempunyai pendidikan tinggi, jaringan keluarga yang luas, tabungan, dan tempat tinggal yang tidak perlu dicicil. Yang kedua harus membayar kontrakan, menanggung biaya kesehatan orang tua, serta membantu kebutuhan adik-adiknya.
Keduanya mungkin mempunyai disiplin kerja yang sama. Tetapi ketika muncul kesempatan mengikuti pelatihan, berpindah pekerjaan, atau memulai usaha, kemampuan mereka mengambil risiko sangat berbeda. Satu orang dapat mencoba dan gagal tanpa kehilangan tempat tinggal, sedangkan yang lain mungkin tidak mempunyai ruang untuk gagal sama sekali.
Di sinilah kemiskinan struktural menjadi penting untuk dipahami. Kemiskinan tidak selalu muncul karena seseorang kurang berusaha, melainkan dapat bertahan karena susunan kesempatan, kepemilikan sumber daya, hubungan kerja, dan kebijakan ekonomi tidak memberikan peluang yang setara. Orang dapat bekerja keras di dalam sistem yang tetap membuat hasil pekerjaannya bernilai rendah.
Baca Juga: Bangsa Ini Selalu Bicara tentang Masa Depan, Tapi Mengapa Pendidikan Tak Dikedepankan?
Kemiskinan Bukan Sekadar Persoalan Kemauan
Saya memahami mengapa nasihat tentang kerja keras begitu populer. Nasihat itu sederhana, mudah diingat, dan memberikan perasaan bahwa kehidupan dapat diperbaiki melalui keputusan pribadi. Bagi sebagian orang, keyakinan tersebut memang menjadi sumber kekuatan untuk bertahan dalam keadaan sulit.
Tetapi kesederhanaannya juga menyimpan persoalan. Ketika kemiskinan dijelaskan terutama sebagai akibat kurangnya usaha, perhatian kita mudah bergeser dari persoalan upah, kualitas pendidikan, biaya kesehatan, akses permodalan, dan kesempatan kerja. Tanggung jawab untuk keluar dari kemiskinan kemudian hampir seluruhnya diletakkan di pundak orang yang sedang mengalaminya.
Padahal kemampuan seseorang untuk bekerja keras pun dipengaruhi keadaan hidupnya. Anak yang tumbuh dengan gizi cukup, lingkungan aman, dan akses pendidikan baik mempunyai bekal berbeda dari anak yang harus membantu mencari nafkah sejak kecil. Orang yang sehat dan mempunyai kendaraan pribadi menghadapi pilihan pekerjaan yang berbeda dari seseorang yang tinggal jauh dari pusat kegiatan ekonomi tanpa transportasi memadai.
Kita sering memuji keberhasilan seseorang yang mampu mengatasi berbagai keterbatasan tersebut. Kisah semacam itu memang layak dihargai, sebab ketekunan dan keberanian manusia dapat menghasilkan perubahan yang luar biasa. Tetapi keberhasilan satu orang tidak membuktikan bahwa hambatan yang dihadapi jutaan orang lain sebenarnya tidak ada.
Saya juga merasa kita perlu membedakan antara menghargai kerja keras dan menganggap kemiskinan sebagai kesalahan moral. Seseorang yang miskin tidak otomatis lebih malas, sebagaimana seseorang yang kaya tidak otomatis lebih rajin. Kondisi ekonomi seseorang merupakan hasil dari banyak faktor yang saling memengaruhi, termasuk pilihan pribadi, keadaan keluarga, kesempatan sosial, dan kebijakan publik.
Karena itu, pembicaraan tentang kemiskinan tidak cukup berhenti pada nasihat agar orang lebih rajin bekerja. Kita perlu mempertanyakan apakah pekerjaan yang tersedia memberikan penghasilan layak, apakah pendidikan membuka kesempatan mobilitas sosial, dan apakah perlindungan kesehatan mampu mencegah keluarga jatuh miskin ketika menghadapi penyakit. Kita juga perlu melihat apakah kebijakan ekonomi memberi ruang bagi pekerja berpendapatan rendah untuk meningkatkan kesejahteraannya.
Pemerintah tentu tidak dapat menjamin setiap orang memperoleh hasil ekonomi yang sama. Perbedaan keterampilan, produktivitas, pilihan, dan keadaan akan selalu memengaruhi pendapatan. Tetapi negara mempunyai tanggung jawab untuk membangun kesempatan yang lebih adil, memperkuat perlindungan sosial, dan memastikan bahwa bekerja tidak terus-menerus berarti sekadar bertahan hidup.
Masyarakat pun mempunyai peran dalam cara memandang kemiskinan. Ketika bertemu seseorang yang kesulitan ekonomi, kita dapat memilih untuk tidak segera menilai karakter atau kemauannya. Kita bisa bertanya lebih dahulu mengenai pekerjaan yang tersedia, biaya yang harus ditanggung, dan hambatan yang membuat keadaan sulit berubah.
Barangkali perubahan cara pandang itu terdengar kecil. Tetapi cara kita memahami sebuah persoalan menentukan solusi yang bersedia kita dukung. Jika kemiskinan dianggap terutama akibat kemalasan, nasihat tentang ketekunan akan terasa cukup. Sebaliknya, ketika kita memahami bahwa kesempatan juga ditentukan oleh struktur ekonomi dan sosial, perbaikan sistem menjadi bagian yang tidak dapat diabaikan.
Saya tetap percaya kerja keras mempunyai nilai. Saya juga percaya seseorang perlu mengambil tanggung jawab atas keputusan yang berada dalam kendalinya. Tetapi saya semakin sulit menerima anggapan bahwa hasil kehidupan selalu sebanding dengan besarnya usaha.
Ada orang yang bekerja keras untuk memperbesar kekayaan. Ada pula orang yang bekerja sama keras hanya untuk memastikan keluarganya masih bisa makan besok. Perbedaan hasil itu tidak dapat dijelaskan hanya dengan mengatakan bahwa salah satunya mempunyai kemauan lebih besar.
Mungkin sudah waktunya kita berhenti menggunakan kisah keberhasilan sebagai ukuran untuk menghakimi semua orang yang belum berhasil. Kita dapat menghargai mereka yang mampu mengubah nasib tanpa mengabaikan mereka yang terus berusaha di tengah kesempatan yang terbatas. Kita juga dapat mengajarkan pentingnya kerja keras sambil menuntut agar hasil pekerjaan manusia dihargai secara lebih layak.
Kerja keras adalah sesuatu yang dapat diminta dari seseorang. Kesempatan yang adil adalah sesuatu yang harus dibangun bersama.
Dan sebelum kembali menasihati orang miskin agar bekerja lebih keras, mungkin ada pertanyaan yang lebih pantas kita ajukan kepada diri sendiri: jika seseorang sudah menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk bekerja, mengapa sistem ekonomi kita masih membiarkannya tetap miskin? []
Bandung, 13 Oktober 2026