Gambar semakin indah. Video semakin mudah dibuat. Tulisan muncul dalam hitungan detik. Namun, mengapa semakin banyak karya justru terasa semakin sulit dinikmati?
Kecerdasan buatan telah mengubah hubungan manusia dengan proses kreatif. Pekerjaan yang dahulu membutuhkan waktu berhari-hari kini dapat diselesaikan dalam hitungan menit, bahkan menghasilkan puluhan alternatif sekaligus. Kemajuan tersebut membuka kesempatan baru, tetapi juga menghadirkan pertanyaan yang jarang mendapat perhatian: apakah kemampuan memproduksi lebih banyak berarti manusia memiliki lebih banyak hal yang layak disampaikan?
Di media sosial, gambar fantastis, video sinematik, dan tulisan yang terdengar meyakinkan semakin mudah ditemukan. Sebagian menawarkan pengalaman baru, sementara sebagian lainnya terasa seperti pengulangan dengan kemasan berbeda. Ketika kemampuan teknis tidak lagi mengejutkan, penonton mulai mencari sesuatu yang lebih sulit dihasilkan secara otomatis, yakni alasan untuk peduli.
Baca Juga: AI Slop: Semakin Mudah Membuat Konten, Mengapa Semakin Sulit Membuat Orang Peduli?
Ketika Teknologi Semakin Produktif, Mengapa Manusia Semakin Jenuh?
Istilah AI Fatigue menggambarkan berbagai bentuk kelelahan yang berkaitan dengan penggunaan atau paparan kecerdasan buatan. Di lingkungan kerja, kelelahan dapat muncul akibat tuntutan mempelajari perangkat baru dan terus menyesuaikan cara bekerja. Bagi penikmat konten, kejenuhan lebih mungkin muncul karena terlalu sering menjumpai hasil generatif yang mirip, berulang, atau tidak menawarkan pengalaman berarti.
Kedua bentuk kelelahan tersebut tidak boleh disamakan begitu saja. Seorang pekerja dapat merasa terbebani oleh perubahan teknologi meskipun menyukai AI, sedangkan penonton bisa menikmati manfaat AI tetapi bosan melihat konten yang diproduksi tanpa henti. Persoalannya bukan semata-mata keberadaan teknologi, melainkan hubungan antara kemampuan teknologi dan kapasitas manusia untuk menggunakannya secara bermakna.
Laporan Work Trend Index 2025 dari Microsoft menunjukkan bahwa 88 persen pekerja dan pemimpin bisnis yang disurvei di Indonesia mengaku kekurangan waktu atau energi untuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Temuan itu bukan pengukuran langsung terhadap AI Fatigue, tetapi menggambarkan tekanan kerja yang menyertai perubahan dunia profesional. Menambahkan teknologi baru tanpa memperbaiki tujuan dan alur kerja berpotensi membuat orang semakin sibuk, bukan semakin terbantu.
Sementara itu, istilah AI Slop digunakan untuk menggambarkan konten generatif berkualitas rendah yang diproduksi secara massal. Bentuknya dapat berupa gambar aneh yang dibuat demi menarik perhatian, video dengan pola cerita seragam, atau artikel yang tampak informatif tetapi hanya mengulang pengetahuan umum. Konten seperti ini bukan bermasalah karena dibuat menggunakan AI, melainkan karena nilai yang diberikan kepada penikmatnya terlalu kecil dibandingkan perhatian yang diminta.
Kemudahan produksi mengubah persoalan kelangkaan menjadi persoalan kelimpahan. Dahulu, keterbatasan waktu dan biaya memaksa pembuat konten memilih gagasan yang akan dikerjakan. Sekarang, ketika hampir semua gagasan dapat segera diwujudkan, proses memilih justru menjadi semakin penting.
Dalam buku The Missing Layer in AI, Wendra Wilendra, M.MT., menawarkan perspektif yang relevan terhadap persoalan tersebut. Ia mengembangkan kerangka berpikir VCORETEX yang menempatkan nilai, konteks, tanggung jawab, tujuan, eksekusi, dan refleksi sebagai unsur yang saling berkaitan. Gagasannya memperlihatkan bahwa keberhasilan penggunaan AI tidak cukup dinilai dari kemampuan menjalankan instruksi.
Wendra secara khusus menekankan pentingnya Context dan Expected Outcome dalam pengembangan kerangkanya. Tanpa konteks, sebuah sistem berisiko menghasilkan respons yang tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya dihadapi. Tanpa kejelasan hasil yang diharapkan, proses dapat berjalan lancar secara teknis tetapi kehilangan arah mengenai apa yang ingin dicapai.
Pemikiran tersebut membantu menjelaskan salah satu persoalan mendasar AI Slop. Mesin dapat menghasilkan seratus gambar berdasarkan satu perintah, tetapi jumlah tersebut tidak menjawab apakah gambar-gambar itu diperlukan, siapa yang membutuhkannya, atau pengalaman apa yang ingin diberikan. Pertanyaan semacam itu tetap memerlukan pertimbangan manusia, bahkan ketika seluruh proses teknis dapat diotomatisasi.
Baca Juga: AI Semakin Pintar Menjawab. Manusia Justru Harus Semakin Pintar Bertanya.
Ketika Semua Bisa Dibuat, Apa yang Masih Membuat Karya Berarti?
Penulis Ted Chiang mengangkat persoalan lain dalam esainya, Why A.I. Isn’t Going to Make Art, yang diterbitkan The New Yorker pada 2024. Ia memandang penciptaan karya sebagai rangkaian keputusan yang dibuat seorang kreator, dari gagasan besar hingga pilihan paling kecil. Ketika proses tersebut terlalu banyak diserahkan kepada mesin, muncul pertanyaan tentang seberapa jauh keterlibatan kreatif manusia masih menentukan hasilnya.
Pandangan Chiang tidak berarti bahwa setiap karya berbantuan AI kehilangan nilai artistik. Seorang pembuat film dapat menggunakan AI untuk mengeksplorasi pencahayaan, komposisi, atau kemungkinan visual sebelum menentukan bentuk cerita yang ingin disampaikan. Dalam situasi tersebut, teknologi memperluas pilihan kreatif, bukan menggantikan kebutuhan untuk memilih.
Perbedaan ini penting karena karya manusia juga tidak otomatis bermutu hanya karena dibuat secara manual. Tulisan tanpa AI dapat terasa kosong, sementara karya berbantuan AI dapat menghadirkan gagasan yang segar dan menggugah. Yang menentukan bukan sekadar alat produksi, melainkan kualitas pemikiran, keputusan, dan tanggung jawab di balik penggunaannya.
Perspektif Wendra memberikan lapisan tambahan pada perdebatan tersebut. Dalam VCORETEX, ia menempatkan Values sebagai landasan prinsip, Responsibilities sebagai penentu akuntabilitas, serta eXperience sebagai ruang pembelajaran dan refleksi. Dengan pendekatan ini, proses kreatif tidak berhenti ketika hasil berhasil diproduksi, tetapi berlanjut pada penilaian mengenai kesesuaian hasil dengan tujuan dan nilai yang ingin dijaga.
Kerangka tersebut bukan bukti bahwa AI telah memiliki kesadaran atau penilaian moral seperti manusia. VCORETEX lebih tepat dipahami sebagai rancangan untuk membuat penggunaan AI lebih terarah, kontekstual, dan dapat dievaluasi. Justru karena teknologi mampu menghasilkan sesuatu dengan sangat cepat, manusia perlu semakin jelas menentukan batas, tujuan, dan ukuran keberhasilannya.
Bayangkan sebuah tim komunikasi yang harus mengunggah sepuluh konten setiap hari. AI mungkin mampu menyelesaikan seluruh materi sebelum jam makan siang, lengkap dengan gambar, judul, dan keterangan. Namun, apabila tidak ada gagasan baru, pemeriksaan fakta, atau pemahaman terhadap kebutuhan audiens, produktivitas tersebut hanya mempercepat pengulangan.
Sebaliknya, tim yang sama dapat menggunakan AI untuk meneliti alternatif sudut pandang, menguji struktur cerita, dan memperbaiki kualitas penyajian. Jumlah kontennya mungkin lebih sedikit, tetapi setiap materi memiliki tujuan yang lebih jelas. Dalam contoh ini, keberhasilan teknologi tidak diukur dari banyaknya hasil, melainkan dari peningkatan kualitas keputusan manusia.
Persoalan serupa berlaku bagi pembaca dan penonton. Ketika ruang digital dipenuhi konten yang meminta perhatian, kemampuan untuk memilih apa yang layak dinikmati menjadi semakin berharga. Kreator pun menghadapi tantangan yang sama, yakni keberanian untuk tidak menerbitkan sesuatu hanya karena teknologi telah membuatnya tersedia.
Kelelahan terhadap AI mungkin akan terus muncul selama kemajuan teknologi lebih sering dirayakan melalui jumlah hasil yang diproduksi daripada manfaat yang diberikan. Namun, kejenuhan tersebut bukan alasan untuk menolak seluruh kemungkinan kreatif yang dibuka oleh kecerdasan buatan. Ia justru menjadi pengingat bahwa kemampuan menciptakan sesuatu dan alasan untuk menciptakannya merupakan dua persoalan berbeda.
AI telah membuat proses produksi semakin mudah, tetapi kemudahan tidak otomatis melahirkan makna. Ketika gambar, video, dan tulisan dapat dihasilkan hampir tanpa batas, perhatian manusia tetap terbatas dan harus dihargai. Barangkali yang paling dibutuhkan bukan mesin yang mampu menghasilkan lebih banyak karya, melainkan manusia yang semakin cermat menentukan karya mana yang memang perlu hadir. [][Rudi Tenggarawan/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.