Lubangnya sudah kita hafal. Jalurnya juga sulit dihindari. Kendaraan masih terasa normal, tetapi benturan yang berulang belum tentu berlalu tanpa meninggalkan akibat.

Ada jalan yang membuat pengendara akhirnya hafal di luar kepala. Sebelah kiri berlubang, bagian tengah retak, beberapa meter kemudian ada tambalan aspal yang lebih tinggi, lalu muncul lubang berikutnya. Setiap hari mobil atau motor melewati rute yang sama karena memang tidak tersedia pilihan jalan yang lebih baik.

Selama ban tidak kempis, pelek tidak terlihat bengkok, dan kendaraan masih bisa dikendarai, kita mudah menganggap semuanya baik-baik saja. Padahal benturan dari permukaan jalan yang buruk diterima berulang kali oleh bagian kendaraan yang bersentuhan langsung dengan jalan. Dampaknya tidak selalu berupa kerusakan besar yang langsung terlihat.

American Automobile Association [AAA] menjelaskan bahwa menghantam lubang dapat merusak ban dan pelek, mengubah keselarasan roda, memengaruhi kemudi, hingga merusak komponen suspensi. Risiko tersebut meningkat ketika lubang dihantam dengan kecepatan lebih tinggi.

Baca Juga: Motor Milik Kita, Tapi Jalan Raya Milik Bersama, Sejauh Mana Modifikasi Boleh Dilakukan Sesuka Kita?

Dari Ban hingga Suspensi, Benturan Itu Diteruskan ke Mana-mana

Ban menjadi bagian pertama yang perlu diperhatikan karena langsung menerima benturan. Tekanan angin yang tidak sesuai, keausan, benjolan pada dinding ban, sayatan, atau kehilangan tekanan secara perlahan layak diperiksa ketika kendaraan rutin melewati jalan buruk. AAA menyebut ban yang aus atau kekurangan tekanan meningkatkan risiko kerusakan pada roda maupun suspensi ketika menghantam lubang.

Berikutnya adalah pelek. Benturan keras dapat membuat pelek bengkok atau retak, sementara pada sepeda motor kondisi roda yang tidak lagi presisi dapat memengaruhi kestabilan. Pemeriksaan sepeda motor juga perlu memperhatikan bearing roda, suspensi, dan sambungan-sambungannya karena bagian tersebut berhubungan langsung dengan keamanan dan kendali kendaraan.

Pada mobil, perhatian kemudian bergerak menuju suspensi dan kemudi. Jalan berlubang dapat berpengaruh terhadap shock absorber, strut, ball joint, tie rod, serta keselarasan roda. Tanda-tandanya tidak selalu berupa komponen yang patah, tetapi bisa muncul sebagai getaran berlebihan, ban aus tidak merata, setir tidak berada di tengah ketika mobil berjalan lurus, atau kendaraan mulai menarik ke salah satu sisi.

Pada motor, rasa berkendara juga bisa menjadi petunjuk. Pelek, ban, bearing roda, sokbreker, dan komstir termasuk bagian yang perlu mendapat perhatian setelah sering menerima hantaman jalan berlubang. Gejalanya dapat berupa roda terasa tidak stabil, kemudi mulai terasa berbeda, bunyi dari area roda, atau sokbreker yang tidak lagi bekerja seperti biasanya.

Karena itu, jangan hanya mencari kerusakan dengan mata. Perubahan kecil pada suara, getaran, kemudi, kestabilan, dan pola keausan ban dapat menjadi cara kendaraan memberi tahu bahwa ada sesuatu yang mulai berbeda.

Baca Juga: Motor Masih Enak Dipakai. Lalu, Mengapa Oli Gardan Tetap Harus Diganti?

Kendaraan Masih Nyaman Bukan Berarti Pemeriksaan Bisa Ditunda

Masalah jalan rusak adalah dampaknya tidak selalu berasal dari satu lubang besar. Benturan berulang juga dapat mempercepat keausan komponen. Karena itu, kendaraan yang setiap hari melewati jalan buruk mempunyai alasan lebih kuat untuk mendapatkan perhatian pada ban, roda, suspensi, dan kemudi daripada sekadar menunggu sampai sesuatu benar-benar rusak.

Untuk mobil, wheel alignment atau spooring layak diperiksa ketika setir berubah posisi, kendaraan menarik ke kiri atau kanan, atau ban mulai aus tidak merata. AAA menyebut lubang dan permukaan jalan kasar sebagai beberapa hal yang dapat mengganggu keselarasan roda. Pemeriksaan juga penting karena masalah suspensi dapat berhubungan dengan perubahan alignment.

Pengemudi juga dapat mengurangi beban benturan melalui cara berkendara. Jika lubang tidak bisa dihindari, AAA menyarankan mengurangi kecepatan dengan aman sebelum mencapainya, kemudian melepaskan rem tepat sebelum roda memasuki lubang. Menghantam lubang sambil tetap melakukan pengereman keras dapat membuat roda dan suspensi menerima benturan dalam kondisi yang kurang menguntungkan.

Menghindari lubang pun jangan dilakukan dengan membanting kemudi tanpa melihat kendaraan lain. Jaga jarak agar permukaan jalan di depan lebih mudah terlihat dan berhati-hatilah terhadap genangan karena air dapat menyembunyikan kedalaman lubang. Tekanan ban juga sebaiknya mengikuti rekomendasi produsen kendaraan, bukan sekadar perkiraan berdasarkan tampilan ban.

Untuk motor, kehati-hatian bahkan semakin penting karena perubahan pada roda atau kemudi langsung berhubungan dengan kestabilan kendaraan. Jika roda terasa oblak, bearing terdengar kasar, kemudi sulit dikendalikan, atau ada perubahan nyata setelah benturan keras, pemeriksaan teknisi sebaiknya tidak ditunda. Pedoman inspeksi sepeda motor di Inggris bahkan mengategorikan kelonggaran bearing roda yang berlebihan dan dapat mengganggu kendali arah sebagai kondisi berbahaya.

Kita memang tidak selalu bisa memilih kondisi jalan yang harus dilewati setiap hari. Namun ada perbedaan antara kendaraan yang sesekali bertemu lubang dan kendaraan yang selama berbulan-bulan menerima guncangan dari rute yang sama. Pola pemeliharaannya masuk akal jika menyesuaikan dengan beban tersebut.

Jadi, setelah melewati jalan buruk setiap hari, pertanyaannya bukan hanya apakah mobil atau motor masih bisa berjalan. Dengarkan apakah muncul bunyi baru, rasakan apakah kemudinya berubah, perhatikan kondisi ban dan roda, serta jangan mengabaikan getaran yang sebelumnya tidak ada. Jalan rusaknya mungkin berada di luar kendali kita, tetapi membiarkan dampaknya menumpuk tanpa pernah diperiksa adalah perkara yang berbeda. [][Adrian Damar/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.