Ada kalanya kita bertemu seseorang yang sudah lama tidak ditemui. Yang membuat terkejut bukan perubahan wajahnya, melainkan sikapnya.
Orang yang dulu mudah tersinggung kini terlihat lebih tenang, sementara yang dulu keras kepala justru lebih terbuka menerima pendapat orang lain. Perubahan itu sering memunculkan pertanyaan sederhana: benarkah watak seseorang bisa berubah, atau sebenarnya ia hanya belajar mengendalikan diri?
Pertanyaan semacam itu mungkin pernah terlintas ketika melihat teman lama, anggota keluarga, bahkan diri sendiri. Seiring bertambahnya usia, banyak orang merasa tidak lagi bereaksi seperti dulu terhadap masalah yang sama. Situasi yang dahulu mudah memancing amarah kini dapat dihadapi dengan lebih tenang. Namun, apakah itu berarti wataknya benar-benar berubah?
Tidak sedikit pula orang yang masih percaya bahwa watak adalah sesuatu yang sudah ‘jadi’ sejak lahir. Kalimat seperti "memang dari sananya begitu" atau "orang tidak akan pernah berubah" sering terdengar ketika membahas sifat seseorang. Padahal, psikologi melihat persoalan ini dengan cara yang lebih luas daripada sekadar hitam atau putih.
Baca Juga: Merasa Punya Banyak Teman, tetapi Tetap Jauh dari Orang Lain?
Watak Tidak Mudah Berubah, tetapi Cara Menyikapinya Bisa
Dalam psikologi, watak atau kepribadian memang memiliki aspek yang relatif stabil. Psikolog Sukmayanti Ranadireksa, M.Psi. menjelaskan bahwa kepribadian bukan sesuatu yang berubah secara drastis dalam waktu singkat. Namun, pengalaman hidup, proses belajar, lingkungan, dan kesadaran diri dapat memengaruhi bagaimana seseorang mengekspresikan kepribadiannya dalam kehidupan sehari-hari.
Artinya, seseorang yang sejak kecil dikenal mudah marah belum tentu akan terus menunjukkan ledakan emosi yang sama ketika dewasa. Ia mungkin masih memiliki kecenderungan emosional yang serupa, tetapi kini mampu mengenali pemicunya, memahami dampaknya terhadap orang lain, lalu memilih respons yang lebih bijaksana. Yang berkembang bukan sekadar perilakunya, melainkan juga kemampuan mengelola dirinya.
Tanpa disadari, kehidupan sebenarnya terus melatih manusia untuk beradaptasi. Kegagalan, kehilangan, keberhasilan, hingga hubungan dengan orang lain perlahan membentuk cara baru dalam menyikapi berbagai situasi. Karena itu, perubahan sering kali tidak terlihat sebagai perubahan watak, melainkan perubahan cara seseorang menghadapi hidup.
Baca Juga: Mengapa Kita Lebih Mudah Mengingat Kritik daripada Pujian?
Otak Manusia Selalu Belajar Membentuk Respons Baru
Pandangan serupa juga dapat dipahami melalui cara kerja otak. Menurut dr. Aisah Dahlan, CMHt., CM.NLP., otak manusia memiliki kemampuan untuk membentuk jalur-jalur baru melalui proses belajar dan pengulangan. Pengalaman yang terus-menerus dihadapi akan memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, dan merespons suatu keadaan.
Inilah sebabnya mengapa seseorang yang dulu mudah panik bisa menjadi lebih tenang setelah berkali-kali menghadapi situasi sulit. Bukan karena seluruh wataknya berubah, melainkan karena otaknya belajar membangun respons yang lebih adaptif dibanding sebelumnya. Semakin sering seseorang melatih cara berpikir dan bertindak yang baru, semakin kuat pula pola tersebut terbentuk dalam kesehariannya.
Di sisi lain, perubahan itu juga membutuhkan kemauan untuk menyadari diri sendiri. Tidak semua pengalaman otomatis membuat seseorang bertumbuh. Ada orang yang berulang kali menghadapi masalah yang sama tanpa pernah mengubah cara menyikapinya. Ada pula yang menjadikan satu pengalaman sebagai titik balik untuk memperbaiki cara berpikir dan berperilaku.
Perbedaan inilah yang sering membuat dua orang dengan kecenderungan watak yang mirip akhirnya tumbuh menjadi pribadi yang sangat berbeda. Yang satu tetap dikuasai emosinya, sementara yang lain belajar berdamai dengannya. Dari luar, keduanya tampak memiliki watak yang berbeda, padahal yang berkembang adalah kemampuan mengelola respons terhadap kehidupan.
Mungkin, pertanyaan tentang apakah watak bisa berubah memang tidak memiliki jawaban sesederhana "ya" atau "tidak". Sebagian sisi dalam diri manusia memang relatif menetap, tetapi bukan berarti kehidupan berhenti memberi ruang untuk bertumbuh. Yang berubah sering bukan siapa diri kita, melainkan bagaimana kita memilih bersikap terhadap setiap pengalaman. Dan boleh jadi, di situlah makna perubahan yang sesungguhnya: bukan menjadi orang lain, melainkan menjadi versi diri yang lebih mampu memahami dan mengendalikan dirinya sendiri. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]
Penulisan dan riset artikel ini dibantu AI serta telah melalui proses kurasi Redaksi.