Sepanjang hari, mungkin kita menerima banyak hal baik. Ada rekan kerja yang mengapresiasi hasil pekerjaan kita. Ada teman yang mengatakan penampilan kita terlihat segar. Ada keluarga yang berterima kasih atas bantuan kecil yang kita berikan.
Tapi entah mengapa, semua itu sering kalah oleh satu kalimat kritik yang terlontar di penghujung hari. Pujian terasa singgah sebentar, sementara kritik menetap lebih lama di kepala.
Fenomena ini dialami banyak orang. Bahkan setelah bertahun-tahun, seseorang masih dapat mengingat komentar yang menyakitkan tentang dirinya, sementara pujian yang pernah diterima justru perlahan terlupakan. Bukan berarti kita sengaja ingin mengingat hal-hal yang negatif. Ada cara kerja otak yang membuat pengalaman seperti itu lebih mudah melekat.
Psikologi menyebut kecenderungan ini sebagai negativity bias, yaitu kecenderungan manusia memberi perhatian lebih besar pada pengalaman yang bersifat negatif dibandingkan pengalaman yang menyenangkan. Bias ini bukan tanda bahwa kita pesimistis. Justru ia merupakan bagian dari mekanisme bertahan hidup yang telah berkembang sejak lama.
Baca Juga: Benarkah Lingkungan Terdekat Membentuk Cara Kita Berpikir?
Otak Menganggap Kritik sebagai Sinyal Penting
Psikolog Rick Hanson, penulis Hardwiring Happiness, menjelaskan bahwa otak manusia secara alami lebih peka terhadap ancaman daripada pengalaman yang menyenangkan. Dari sudut pandang evolusi, kemampuan mengenali bahaya membantu manusia bertahan hidup. Karena itu, informasi yang dianggap berpotensi mengancam lebih mudah disimpan dalam ingatan.
Dalam kehidupan modern, ancaman itu tidak selalu berbentuk bahaya fisik. Sebuah kritik dari atasan, komentar negatif di media sosial, atau ucapan yang meragukan kemampuan kita dapat dipersepsikan otak sebagai sesuatu yang perlu mendapat perhatian lebih. Akibatnya, satu kritik sering terasa jauh lebih besar dibandingkan sepuluh pujian yang diterima sebelumnya.
Hal serupa juga dijelaskan oleh psikolog Roy F. Baumeister melalui konsep bad is stronger than good. Bersama rekan-rekannya, ia menunjukkan bahwa pengalaman negatif umumnya memiliki dampak psikologis yang lebih kuat dibandingkan pengalaman positif dengan intensitas yang sama. Bukan karena hal baik tidak penting, melainkan karena otak menganggap hal buruk lebih mendesak untuk dipelajari agar tidak terulang.
Baca Juga: Kita Menunggu Siap, Tapi Kapan Kita akan Benar-benar Siap?
Ketika Kritik Menjadi Suara di Dalam Kepala
Tidak semua kritik membawa dampak yang sama. Kritik yang disampaikan dengan tujuan membangun dapat membantu seseorang berkembang. Masalah muncul ketika kritik itu terus diputar ulang di dalam pikiran hingga berubah menjadi cara kita memandang diri sendiri.
Tanpa disadari, banyak orang lebih mudah mengingat satu komentar tentang kekurangannya daripada puluhan bukti tentang kemampuannya. Akibatnya, rasa percaya diri perlahan terkikis bukan oleh kenyataan, melainkan oleh cara otak memilih menyimpan pengalaman.
Media sosial sering memperkuat keadaan ini. Di tengah ratusan tanda suka atau komentar positif, satu komentar bernada sinis kadang justru menjadi hal yang paling sulit dilupakan. Padahal komentar tersebut belum tentu mewakili penilaian kebanyakan orang.
Baca Juga: Kalau Kita Sudah Tahu yang Harus Dilakukan, Mengapa Hidup Tetap Tidak Berubah?
Belajar Memberi Ruang bagi Hal-Hal Baik
Menyadari adanya negativity bias bukan berarti kita harus mengabaikan kritik. Kritik tetap penting ketika disampaikan secara jujur dan membantu kita melihat hal yang perlu diperbaiki. Namun kita juga perlu memberi ruang bagi pengalaman-pengalaman baik agar tidak terus tertutup oleh satu pengalaman yang kurang menyenangkan.
Rick Hanson menyarankan agar kita sengaja menikmati momen positif selama beberapa detik lebih lama. Ketika menerima apresiasi, menyelesaikan pekerjaan dengan baik, atau merasakan kebahagiaan sederhana, biarkan diri benar-benar menyadarinya. Kebiasaan ini membantu otak memberi tempat yang lebih seimbang bagi pengalaman positif.
Mungkin karena itu, persoalannya bukan bahwa kritik selalu lebih benar daripada pujian. Seringkali, otak kita memang lebih cepat menangkap hal yang terasa mengancam. Namun sebagai manusia, kita tetap memiliki kemampuan untuk memilih mana yang layak disimpan lebih lama. Sebab hidup tidak hanya dibentuk oleh kata-kata yang melukai, tetapi juga oleh penghargaan, dukungan, dan kebaikan yang sering datang dalam bentuk yang jauh lebih tenang. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.