Punya keluarga, sahabat, dan banyak teman tidak selalu membuat seseorang berani bercerita. Terkadang, justru orang terdekatlah yang paling sulit diajak berbagi masalah.

Ada kalanya seseorang sudah membuka ruang percakapan dengan sahabatnya, mengetik beberapa kalimat tentang masalah yang sedang dihadapi, lalu menghapus semuanya sebelum dikirim. Bukan karena persoalannya selesai, melainkan karena tiba-tiba muncul kekhawatiran bahwa ceritanya akan dianggap berlebihan, merepotkan, atau sekadar mencari perhatian. Akhirnya, ia memilih menjawab bahwa semuanya baik-baik saja, meskipun sebenarnya sedang membutuhkan seseorang untuk mendengarkan.

Situasi semacam itu memperlihatkan sesuatu yang menarik dalam hubungan antarmanusia. Kedekatan tidak selalu menjamin kenyamanan untuk mengungkapkan perasaan, bahkan ketika seseorang memiliki keluarga yang lengkap atau lingkaran pertemanan yang luas. Ada orang yang mudah membicarakan pekerjaan, hiburan, dan pengalaman sehari-hari, tetapi mendadak kehilangan kata-kata ketika harus menjelaskan kesedihan atau kecemasannya sendiri.

Persoalannya bukan semata-mata karena seseorang tidak pandai berkomunikasi atau terlalu tertutup. Keputusan untuk bercerita sering dipengaruhi pengalaman sebelumnya, terutama bagaimana orang lain menanggapi ketika dirinya sedang berada dalam kondisi emosional yang sulit. Sekali saja cerita pribadi dijadikan bahan candaan, dibandingkan dengan penderitaan orang lain, atau disampaikan kembali tanpa izin, kepercayaan yang sudah terbentuk bisa mengalami keretakan.

Baca Juga: Apa yang Sebenarnya Terluka Ketika Kita Merasa Terlalu Baper?

Mengapa Orang Terdekat Belum Tentu Menjadi Tempat Teraman?

Dalam hubungan keluarga atau pertemanan, niat memberikan dukungan terkadang tidak sejalan dengan cara dukungan itu disampaikan. Seseorang yang sedang sedih mungkin langsung diminta bersyukur, berhenti memikirkan masalah, atau membandingkan keadaannya dengan orang yang dianggap lebih menderita. Nasihat semacam itu bisa diberikan dengan maksud baik, tetapi penerimanya justru merasa bahwa emosi yang sedang dialami tidak memperoleh ruang untuk dipahami.

Ketakutan menghadapi respons negatif ternyata memiliki hubungan dengan kesediaan seseorang mengungkapkan persoalan kesehatan mentalnya. Nicolas Rüsch, bersama Elaine Brohan, Jheanell Gabbidon, Graham Thornicroft, dan Sarah Clement, meneliti 202 individu dengan gangguan mental dalam penelitian yang diterbitkan jurnal Social Psychiatry and Psychiatric Epidemiology pada 2014. Penelitian tersebut menemukan bahwa kenyamanan mengungkapkan kondisi mental berkaitan dengan rendahnya kekhawatiran terhadap diskriminasi dan tekanan akibat stigma. Meski penelitian ini berfokus pada pengungkapan gangguan mental, temuannya membantu menjelaskan mengapa rasa aman menjadi pertimbangan penting sebelum seseorang membuka persoalan pribadi.

Kekhawatiran tersebut tidak selalu muncul dalam bentuk ketakutan terhadap penolakan yang terang-terangan. Ada pula orang yang merasa harus terus terlihat kuat karena selama ini dikenal sebagai pribadi mandiri, ceria, atau mampu menyelesaikan segala persoalan sendiri. Ketika identitas semacam itu melekat terlalu kuat, mengakui bahwa dirinya sedang kesulitan bisa terasa seperti mengecewakan harapan orang-orang di sekitarnya.

Keinginan untuk tidak menjadi beban juga dapat membuat seseorang memilih menyimpan masalahnya sendiri. Ia mungkin mengetahui bahwa sahabatnya sedang sibuk, orang tuanya memiliki banyak tanggungan, atau pasangannya sedang menghadapi tekanan pekerjaan. Alih-alih meminta dukungan, ia menunda cerita sampai merasa waktunya tepat, sementara persoalan yang ingin disampaikan justru semakin sulit diungkapkan.

Baca Juga: Anak Terlihat Baik-Baik Saja, Bagaimana Kita Tahu ketika Ia Sebenarnya Sedang Tidak Baik?

Ketika Diam Terasa Lebih Mudah daripada Meminta Pertolongan

Keengganan membicarakan masalah bukan sekadar persoalan kepribadian, melainkan juga berkaitan dengan cara masyarakat memandang kerentanan emosional. Orang yang mampu menahan kesedihan sering dipuji sebagai sosok kuat, sedangkan mereka yang terbuka mengenai kesulitannya tidak selalu memperoleh tanggapan serupa. Dalam lingkungan tertentu, mengakui bahwa diri sedang kewalahan bahkan dapat dianggap sebagai tanda kelemahan, padahal kemampuan mengenali dan menyampaikan kebutuhan emosional merupakan bagian penting dari hubungan yang sehat.

Sebuah survei American Psychological Association [APA] bersama The Harris Poll pada April 2025 memberikan gambaran mengenai persoalan tersebut. Dari 1.076 responden dewasa di Amerika Serikat, sebanyak 52 persen kelompok usia 18–34 tahun mengaku pernah menahan informasi mengenai kesehatan mental mereka dari teman atau tenaga kesehatan. Pada kelompok usia yang sama, 30 persen bahkan menyatakan lebih memilih membicarakan persoalan kesehatan mental secara anonim daripada kepada seseorang yang mereka kenal. Meskipun data ini tidak mewakili masyarakat Indonesia, hasilnya menunjukkan bahwa keterbukaan mengenai kesehatan mental masih dapat berbenturan dengan kebutuhan menjaga jarak dan melindungi diri dari penilaian sosial.

Kebiasaan memendam masalah juga telah lama menjadi perhatian penelitian psikologi. Dale G. Larson dan Robert L. Chastain, melalui penelitian dalam Journal of Social and Clinical Psychology pada 1990, memperkenalkan konsep self-concealment, yaitu kecenderungan secara aktif menyembunyikan informasi pribadi yang dianggap negatif atau menimbulkan tekanan. Penelitian mereka menemukan hubungan antara kecenderungan tersebut dengan gejala kecemasan, depresi, dan keluhan fisik, meskipun hubungan itu tidak berarti bahwa menyimpan setiap rahasia otomatis menyebabkan gangguan kesehatan. Temuan ini mengingatkan bahwa kebiasaan terus-menerus menyembunyikan persoalan yang membebani pikiran dapat berkaitan dengan kondisi psikologis seseorang.

Meski demikian, keterbukaan bukan berarti setiap orang harus menceritakan seluruh masalahnya kepada keluarga atau sahabat. Sarah E. Victor, psikolog dan akademisi dari Texas Tech University, menjelaskan melalui artikel yang diterbitkan APA pada 2024 bahwa keputusan mengungkapkan kondisi kesehatan mental merupakan persoalan pribadi yang perlu mempertimbangkan keamanan, waktu, serta kemungkinan respons lingkungan. Seseorang berhak memilih kepada siapa ia bercerita dan seberapa banyak informasi yang ingin dibagikan. Dalam keadaan tertentu, berbicara kepada psikolog atau tenaga profesional justru dapat menjadi pilihan yang lebih tepat daripada memaksakan keterbukaan kepada lingkungan yang belum mendukung.

Di sisi lain, menjadi pendengar yang baik tidak selalu menuntut seseorang mampu memberikan jawaban atas persoalan orang lain. Terkadang, yang dibutuhkan hanyalah kesempatan menyelesaikan cerita tanpa dipotong, dibandingkan, atau segera dinilai benar dan salah. Pertanyaan sederhana mengenai apakah seseorang ingin didengarkan atau membutuhkan saran bisa membuat percakapan terasa lebih aman, sekaligus menghormati kebutuhan emosional kedua pihak.

Tak semua orang yang terlihat baik-baik saja sedang menjalani kehidupan tanpa masalah, sebagaimana tidak semua orang yang memilih diam berarti tidak membutuhkan dukungan. Bisa jadi mereka sedang menimbang apakah kejujuran akan membuat hubungan terasa lebih dekat atau justru menghadirkan persoalan baru. Karena itu, ketika seseorang akhirnya memberanikan diri menceritakan kesulitannya, respons pertama yang ia terima mungkin akan menentukan apakah dirinya bersedia kembali terbuka suatu hari nanti. Kepercayaan tidak hanya dibangun dari seberapa lama orang saling mengenal, tetapi juga dari bagaimana mereka memperlakukan cerita yang dipercayakan kepadanya. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.