Ia masih berangkat sekolah. Masih bertemu teman dan sesekali tertawa. Namun, apakah itu cukup untuk menyimpulkan seorang anak sedang baik-baik saja?
Pertanyaan tersebut terasa semakin penting ketika melihat gambaran kesehatan mental anak Indonesia. Program Cek Kesehatan Gratis 2025–2026 menemukan indikasi masalah kesehatan jiwa pada hampir 10 persen dari sekitar tujuh juta anak yang menjalani skrining. Sekitar 338 ribu menunjukkan gejala kecemasan dan 363 ribu menunjukkan gejala depresi.
Kementerian Kesehatan juga menyoroti data Global School-Based Student Health Survey yang menunjukkan proporsi anak yang dilaporkan mencoba bunuh diri meningkat dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,7 persen pada 2023. Secara global, WHO menyebut satu dari tujuh remaja usia 10–19 tahun mengalami gangguan mental, sementara bunuh diri menjadi penyebab kematian ketiga pada kelompok usia 15–29 tahun. Namun, bunuh diri merupakan persoalan multifaktorial sehingga tidak tepat menjelaskannya dengan satu penyebab sederhana seperti sekolah, keluarga, hubungan pertemanan, atau media sosial.
Persoalannya, luka psikologis tidak selalu memberikan tanda yang mudah dikenali. Seorang remaja dapat tetap menjalankan sebagian rutinitas ketika sedang mengalami kesulitan. Karena itu, melihat kesehatan mental anak membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar memastikan ia masih makan, sekolah, belajar, atau sesekali tertawa.
Baca Juga: Orangtua Sekarang Lebih Lembek kepada Anak, atau Kita Sedang Melihat Cara Mendidik yang Berbeda?
Perhatikan Perubahan, Bukan Menunggu Anak Terlihat Hancur
Kita mungkin membayangkan seseorang yang mengalami masalah psikologis berat akan selalu terlihat sangat sedih. Kenyataannya, tanda yang perlu diperhatikan dapat muncul melalui perubahan perilaku. Menarik diri dari keluarga atau teman, kehilangan minat terhadap kegiatan yang biasanya disukai, perubahan pola tidur atau makan, penurunan fungsi di sekolah, perasaan putus asa, serta perilaku yang semakin berisiko dapat menjadi alasan untuk mencari tahu lebih jauh.
Namun, satu perubahan tidak otomatis berarti seorang anak mengalami gangguan mental atau mempunyai pikiran bunuh diri. American Academy of Pediatrics mengingatkan bahwa tidak semua remaja berisiko akan menunjukkan tanda peringatan, dan munculnya suatu perilaku juga tidak dengan sendirinya berarti seseorang berisiko bunuh diri. Yang menjadi penting adalah memperhatikan perubahan yang baru muncul, semakin kuat, atau membentuk pola yang mengkhawatirkan.
Itulah mengapa kalimat “dia kelihatannya biasa saja” tidak selalu cukup. Kita mengenal seseorang berdasarkan apa yang terlihat, sedangkan sebagian pengalaman psikologis berlangsung di wilayah yang tidak dapat diamati langsung. Kemenkes bahkan menggunakan istilah “luka psikologis” untuk membantu pelajar memahami bahwa sesuatu yang tidak tampak secara fisik tetap membutuhkan perhatian dan pertolongan.
Orang dewasa juga perlu berhati-hati agar perhatian tidak berubah menjadi interogasi. Pertanyaan seperti “kamu kenapa sih?” yang disampaikan dengan nada menuntut dapat terasa sangat berbeda dibandingkan kehadiran yang memberi kesempatan anak bercerita tanpa segera dinilai. Remaja tidak selalu membutuhkan orang dewasa yang langsung mempunyai jawaban, tetapi mereka membutuhkan kemungkinan bahwa ketika berbicara, seseorang benar-benar bersedia mendengarkan.
Baca Juga: Kita Sudah Mengambil Keputusan, Mengapa Masih Terus Mencari Pembenaran?
Ketika Pertanyaannya Perlu Menjadi Lebih Langsung
Ada saat ketika percakapan tidak cukup berhenti pada “kamu baik-baik saja?”. Jika seorang anak berbicara tentang kematian, merasa hidupnya tidak berarti, menganggap dirinya beban, merasa terjebak, atau menunjukkan perubahan perilaku yang sangat mengkhawatirkan, pembicaraan perlu menjadi lebih jelas. Tanda-tanda tersebut termasuk dalam peringatan yang digunakan untuk mengenali kemungkinan risiko bunuh diri.
Salah satu kekhawatiran yang sering muncul adalah bahwa bertanya langsung tentang pikiran bunuh diri justru akan menanamkan gagasan tersebut. National Institute of Mental Health menegaskan bahwa bukti penelitian tidak menunjukkan bahwa menanyakan pikiran atau perilaku bunuh diri menyebabkan atau meningkatkan pikiran tersebut. Bertanya secara langsung justru dapat membantu mengenali seseorang yang sedang berada dalam risiko.
Tentu, orangtua, guru, atau teman tidak diminta berubah menjadi psikolog. Ketika perilaku atau emosi berlangsung berminggu-minggu, menimbulkan penderitaan, atau mengganggu fungsi anak di rumah, sekolah, maupun pergaulan, evaluasi profesional layak dipertimbangkan. Jika anak berbicara tentang menyakiti diri atau menunjukkan kondisi yang mengancam keselamatannya, pertolongan perlu dicari segera.
Kemenkes menyediakan Healing119 sebagai dukungan psikologis awal bagi masyarakat yang mengalami tekanan, keputusasaan, pikiran bunuh diri, atau krisis psikologis. Layanan dapat diakses melalui 119 ekstensi 8 maupun melalui layanan percakapan di Healing119.id. Jika situasinya darurat atau layanan belum dapat dihubungi, Kemenkes menyarankan mencari pertolongan langsung ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
Barangkali tantangan terbesarnya memang bukan mengetahui seluruh isi pikiran seorang anak. Orangtua, guru, bahkan sahabat terdekat tidak mempunyai kemampuan untuk melihat apa yang sedang terjadi di kepala orang lain. Karena itulah hubungan yang memungkinkan seseorang mengatakan “aku sedang tidak baik” menjadi begitu penting.
Kita mungkin tidak selalu bisa mengetahui apa yang dipikirkan seorang anak. Tetapi kita bisa membangun keadaan yang membuatnya tidak harus menanggung pikirannya sendirian. Kadang pertolongan bermula bukan dari jawaban yang tepat, melainkan dari seseorang yang cukup peka untuk menyadari bahwa ada sesuatu yang berubah dan cukup peduli untuk tetap tinggal mendengarkan. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.