Selalu mengatakan 'iya' terasa aman. Tidak enak menolak, takut dianggap tidak kooperatif.
Namun lama-lama, rasa lelah itu datang tanpa disadari.

Di dunia kerja, menjadi pribadi yang menyenangkan memang terdengar positif. Kooperatif, mudah membantu, dan jarang menolak permintaan sering dianggap sebagai kualitas ideal seorang profesional. Namun ketika dorongan untuk menyenangkan semua orang menjadi berlebihan, seseorang bisa terjebak dalam pola people pleaser.

People pleaser adalah kecenderungan untuk mengutamakan kebutuhan, keinginan, dan kenyamanan orang lain, sering kali dengan mengorbankan diri sendiri. Dalam konteks pekerjaan, hal ini bisa terlihat dari kebiasaan menerima semua tugas tambahan, sulit berkata tidak, atau merasa bersalah saat menetapkan batas.

Pada awalnya, perilaku ini mungkin mendatangkan pujian. Rekan kerja merasa terbantu, atasan menganggap karyawan tersebut berdedikasi. Namun dalam jangka panjang, tekanan yang terus-menerus dapat memicu stres, kelelahan emosional, bahkan burnout.

Fenomena ini tidak muncul begitu saja. Banyak orang menjadi people pleaser karena takut konflik, khawatir dinilai negatif, atau merasa harga dirinya bergantung pada penerimaan orang lain. Lingkungan kerja yang kompetitif juga dapat memperkuat kecenderungan ini.

Baca Juga: Fenomena Overshare di Media Sosial dan Pelajaran dari Ramainya Kasus Penerima LPDP

Dampak People Pleaser terhadap Karier dan Kesehatan Mental

Terus-menerus memprioritaskan orang lain dapat membuat seseorang kehilangan batas pribadi. Beban kerja menumpuk, waktu istirahat terabaikan, dan fokus terhadap tugas utama menjadi terganggu. Ironisnya, upaya untuk terlihat 'baik' justru bisa menurunkan kualitas kinerja.

Secara emosional, people pleaser sering merasa cemas ketika harus menolak permintaan. Ada rasa takut mengecewakan atau kehilangan relasi profesional. Lama-kelamaan, hal ini memicu kelelahan mental yang tidak ringan.

Dalam beberapa kasus, individu bahkan sulit mengenali kebutuhan dirinya sendiri. Karena terlalu fokus memenuhi ekspektasi eksternal, suara hati pribadi menjadi terabaikan. Kondisi ini bisa berdampak kepada rasa percaya diri dan kepuasan kerja.

Hubungan profesional pun tidak selalu menjadi lebih sehat. Ketika seseorang terlalu sering mengiyakan, rekan kerja mungkin tanpa sadar memanfaatkan kebaikan tersebut. Ketidakseimbangan ini berpotensi menimbulkan rasa frustrasi yang terpendam.

Baca Juga: Kenapa Momen Ramadan Sering Jadi Titik Awal Perubahan Gaya Hidup?

Cara Mengatasi People Pleaser Secara Bertahap

Langkah pertama adalah menyadari pola tersebut. Mengakui bahwa diri sendiri sering kesulitan berkata tidak merupakan awal perubahan. Kesadaran membantu seseorang membedakan antara membantu dengan tulus dan membantu karena tekanan internal.

Belajar menetapkan batas menjadi kunci penting. Mengatakan tidak bukan berarti tidak peduli, melainkan bentuk menjaga kapasitas diri. Penolakan dapat disampaikan dengan cara yang profesional dan sopan, tanpa perlu merasa bersalah.

Mengatur prioritas kerja juga membantu mengurangi tekanan. Fokus kepada tanggung jawab utama sebelum menerima tugas tambahan akan membuat pekerjaan lebih terstruktur. Jika beban terasa berlebihan, berdiskusi dengan atasan secara terbuka adalah langkah yang sehat.

Melatih komunikasi asertif dapat meningkatkan kepercayaan diri. Komunikasi asertif memungkinkan seseorang menyampaikan pendapat dan kebutuhan dengan jelas tanpa bersikap agresif maupun pasif.

Dunia kerja yang sehat membutuhkan keseimbangan. Membantu orang lain adalah nilai positif, tetapi tak seharusnya mengorbankan kesehatan mental. Menjadi profesional bukan berarti selalu mengatakan iya, melainkan memahami kapasitas diri dan menjaga batas secara bijak.

People pleaser di dunia kerja bukan label permanen. Dengan kesadaran dan latihan, setiap individu dapat belajar menghargai dirinya sendiri tanpa kehilangan sikap kooperatif. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]

[penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi]