AI bisa mengikuti pilihan kata kita. Nadanya juga bisa terasa semakin akrab. Namun kemiripan cara berbicara belum tentu berarti pemahaman.
Seseorang menggunakan AI hampir setiap hari untuk bekerja. Setelah beberapa waktu, jawabannya mulai terasa cocok: ringkas ketika diminta ringkas, santai ketika diajak bercanda, bahkan menggunakan istilah yang biasa dipakai pengguna. Rasanya seperti berbicara dengan sesuatu yang sudah mengenal kita.
Kesan itu semakin kuat ketika percakapan mempunyai konteks yang panjang. AI dapat merujuk informasi sebelumnya, menyesuaikan struktur jawaban, lalu memberikan respons yang terasa semakin personal. Tidak mengherankan jika kemudian muncul pertanyaan: apakah sistem tersebut sebenarnya mulai memahami orang yang berbicara dengannya?
Pertanyaan ini penting karena manusia terbiasa membaca bahasa sebagai tanda keberadaan pikiran di baliknya. Ketika seseorang mampu menangkap gaya bicara, meneruskan lelucon, atau menjawab dengan nada yang tepat, kita biasanya menganggap ia memahami situasi. Model bahasa dapat menghasilkan banyak tanda serupa, tetapi mekanisme di belakangnya berbeda.
Baca Juga: AI Bisa Memberi Jawaban dalam Detik, Tapi Kenapa Kita Justru Perlu Lebih Lama Memeriksanya?
Mengenali Pola Bukan Berarti Mengenal Manusianya
Model bahasa generatif bekerja dengan mempelajari pola dalam jumlah teks yang sangat besar, kemudian menghasilkan rangkaian bahasa berdasarkan konteks yang diterimanya. Karena itu, ketika pengguna konsisten menggunakan istilah tertentu, menyukai struktur tertentu, atau berulang kali memberikan instruksi mengenai gaya jawaban, sistem mempunyai semakin banyak petunjuk untuk menghasilkan respons yang sesuai. Kemampuan adaptasi tersebut dapat terasa seperti proses saling mengenal.
Wendra Wilendra, M.MT. yang bergerak dalam pengembangan ekosistem AI dan teknologi, melihat konteks sebagai bagian penting dalam kualitas interaksi manusia dengan AI. Ia sebelumnya menekankan bahwa pengguna sering menganggap AI memahami maksud yang berada di kepala mereka, padahal sistem bekerja berdasarkan konteks yang benar-benar diberikan. Perubahan kecil pada informasi atau cara sebuah persoalan dibingkai dapat mengubah respons yang dihasilkan.
Dalam konteks gaya komunikasi, prinsip yang sama menjadi semakin menarik. Menurut Wendra, kemampuan AI mengikuti pola pengguna sebaiknya dipahami sebagai kemampuan adaptasi sistem terhadap konteks, bukan langsung diterjemahkan sebagai pemahaman manusiawi. AI dapat mempelajari bahwa seseorang menyukai jawaban pendek, menggunakan istilah tertentu, atau tidak menyukai gaya bahasa tertentu, lalu menghasilkan respons yang semakin sesuai berdasarkan pola tersebut.
Itulah mengapa AI bisa terasa berbeda ketika digunakan oleh dua orang. Pengguna yang memberikan konteks panjang, contoh, koreksi, dan aturan komunikasi akan menciptakan kondisi percakapan berbeda dari pengguna yang hanya memberikan pertanyaan satu kalimat. Sistem merespons informasi yang tersedia, bukan membentuk hubungan dengan pengalaman emosional seperti yang terjadi ketika dua manusia semakin mengenal satu sama lain.
Kemampuan tersebut tetap sangat berguna. AI yang mampu menyesuaikan komunikasi dapat mengurangi kebutuhan mengulang instruksi dan membuat kolaborasi terasa lebih alami. Yang perlu dijaga adalah agar kenyamanan tersebut tidak membuat kemampuan mengikuti pola disamakan begitu saja dengan kemampuan memahami manusia.
Baca Juga: Semakin Banyak Orang Curhat kepada AI. Apakah Itu Membantu, atau Justru Berbahaya?
Bahasa yang Meyakinkan Mudah Kita Anggap sebagai Pemahaman
Profesor linguistik University of Washington Emily M. Bender menawarkan sudut pandang yang lebih kritis. Bender bersama sejumlah peneliti memperkenalkan metafora stochastic parrots untuk menjelaskan bagaimana model bahasa menghasilkan teks melalui pola probabilistik. Dalam penjelasannya pada 2026, Bender kembali menegaskan bahwa ketika teks keluaran model terasa masuk akal, manusia yang membacanya turut membawa kemampuan untuk memberikan makna terhadap teks tersebut.
Bender membedakan pola bahasa dengan makna yang dimiliki manusia. Menurutnya, model bahasa mempelajari distribusi bentuk kata dalam teks, sementara bahasa manusia berhubungan dengan dunia, pengalaman, tujuan komunikasi, dan makna yang digunakan manusia dalam kehidupan. Sebuah sistem karena itu dapat menghasilkan kalimat yang sangat tepat secara konteks tanpa mempunyai pengalaman yang dirujuk oleh kalimat tersebut.
Bayangkan seseorang mengatakan kepada AI bahwa hari kerjanya sangat melelahkan. Sistem dapat merespons dengan bahasa empatik, menyesuaikan nada, bahkan menghindari solusi jika pengguna hanya ingin bercerita. Respons itu dapat bermanfaat, tetapi bukan berarti AI mengalami kepedulian, memahami rasa lelah melalui pengalaman tubuh, atau mengetahui kehidupan orang tersebut sebagaimana seorang teman mengenalnya.
Di sinilah kemampuan AI mengikuti gaya manusia sekaligus menjadi kekuatannya dan sumber kesalahpahaman. Semakin halus penyesuaiannya, semakin mudah manusia merasakan adanya sosok yang benar-benar memahami di balik percakapan. Bender bahkan mengingatkan bahwa teknologi yang dirancang meniru cara manusia menggunakan bahasa mudah membuat penggunanya keliru memperlakukannya seperti manusia.
Membedakan keduanya tidak berarti mengecilkan kemampuan AI. Sistem yang dapat membaca konteks, menyesuaikan format, mempertahankan gaya, dan menghasilkan respons relevan merupakan teknologi yang sangat kuat. Justru dengan memahami batasnya, manusia dapat menggunakan kemampuan tersebut tanpa memberikan kepadanya sesuatu yang belum tentu dimilikinya.
Jadi, ketika suatu hari AI terasa semakin ‘kita banget’ mungkin memang ada sesuatu yang telah dipelajarinya: pola komunikasi, preferensi, konteks, dan berbagai petunjuk yang kita berikan. Namun ada jarak antara mengenali pola seseorang dan memahami kehidupan orang tersebut. AI mungkin semakin pandai berbicara seperti seseorang yang mengenal kita, sementara pertanyaan apakah ia benar-benar memahami kita tetap merupakan perkara yang jauh lebih rumit. [][Rudi Tenggarawan/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.