Harga turun. Diskon besar. Kesempatan terasa sayang dilewatkan. Anehnya, setelah berbelanja barang murah, uang yang tersisa justru bisa lebih sedikit daripada yang direncanakan.
Harga sering menjadi pertimbangan pertama ketika seseorang memutuskan membeli barang. Semakin rendah angka pada label, semakin besar pula kesan bahwa pembelian tersebut menguntungkan. Padahal, harga yang murah dan pengeluaran yang hemat merupakan dua hal berbeda.
Seseorang dapat membeli barang dengan harga sangat rendah, tetapi tetap menghabiskan uang lebih banyak karena jumlah pembeliannya meningkat. Ada pula barang murah yang akhirnya harus diganti lebih cepat, sehingga biaya pemakaiannya justru lebih tinggi. Untuk memahami persoalan ini, kita perlu melihat bukan hanya berapa uang yang dibayarkan, melainkan juga bagaimana keputusan membeli terbentuk.
Baca Juga: Barang Rusak Sedikit, Mengapa Kita Semakin Sering Memilih Menggantinya daripada Memperbaikinya?
Ketika Diskon Membuat Kita Merasa Sedang Menghemat
Bayangkan seseorang pergi ke toko untuk membeli satu kaus seharga Rp100.000. Ia kemudian menemukan promosi tiga kaus seharga Rp210.000 dan memutuskan mengambil semuanya. Harga setiap kaus memang turun menjadi Rp70.000, tetapi pengeluaran yang semula direncanakan Rp100.000 meningkat menjadi Rp210.000.
Dalam situasi tersebut, pembeli memperoleh harga satuan lebih murah sekaligus mengeluarkan uang Rp110.000 lebih banyak. Pembelian itu mungkin masuk akal apabila ketiga kaus benar-benar dibutuhkan. Sebaliknya, apabila dua kaus tambahan hanya dibeli karena promosi, diskon telah mengubah keputusan belanja menjadi pengeluaran yang sebelumnya tidak direncanakan.
Fenomena ini berkaitan dengan cara manusia menilai keuntungan dan kerugian. Psikolog Daniel Kahneman dan Amos Tversky, melalui penelitian mengenai prospect theory yang diterbitkan dalam jurnal Econometrica pada 1979, menjelaskan bahwa keputusan manusia tidak selalu mengikuti perhitungan ekonomi yang sepenuhnya rasional. Penilaian seseorang dipengaruhi oleh titik pembanding dan bagaimana pilihan disajikan.
Dalam kegiatan belanja, harga awal yang dicoret dapat menjadi titik pembanding tersebut. Barang seharga Rp150.000 yang sebelumnya diberi label Rp300.000 terasa seperti kesempatan memperoleh keuntungan Rp150.000. Padahal, apabila barang itu sebenarnya tidak diperlukan, pembeli tetap mengeluarkan Rp150.000 yang bisa digunakan untuk kebutuhan lain.
Ada pula kecenderungan menganggap uang yang tidak jadi dibayarkan sebagai uang yang berhasil disimpan. Ketika membeli sepatu dengan potongan harga Rp200.000, seseorang mungkin merasa baru saja menghemat jumlah tersebut. Perasaan itu hanya tepat apabila pembelian memang sudah direncanakan dan harga pembandingnya masuk akal.
Richard Thaler, ekonom perilaku penerima Nobel Ekonomi 2017, memperkenalkan konsep mental accounting untuk menjelaskan bagaimana manusia mengelompokkan dan memperlakukan uang secara psikologis. Dalam artikel Mental Accounting Matters yang diterbitkan Journal of Behavioral Decision Making pada 1999, Thaler menunjukkan bahwa cara seseorang membingkai transaksi dapat memengaruhi keputusan keuangan. Dalam konteks diskon, penghematan yang dibayangkan bisa terasa lebih menonjol daripada uang yang benar-benar keluar.
Strategi promosi juga dapat mendorong pembelian tambahan melalui batas minimum transaksi. Seseorang yang hanya membutuhkan barang seharga Rp80.000 mungkin menambahkan produk lain agar memenuhi syarat gratis ongkos kirim Rp150.000. Apabila barang tambahan itu tidak diperlukan, biaya pengiriman yang berhasil dihindari belum tentu lebih besar daripada pengeluaran baru yang muncul.
Persoalannya bukan berarti semua diskon merugikan konsumen. Potongan harga dapat memberikan manfaat nyata ketika digunakan untuk membeli barang yang memang dibutuhkan dengan harga lebih rendah. Yang perlu diperhatikan adalah apakah promosi membantu memenuhi kebutuhan atau justru menciptakan alasan baru untuk berbelanja.
Baca Juga: Kenapa Barang yang Jarang Dipakai Justru Terasa Sayang untuk Dibuang?
Harga Beli Rendah Belum Tentu Berarti Biaya Pemakaian Rendah
Selain jumlah pembelian, umur pakai barang ikut menentukan apakah sebuah transaksi benar-benar hemat. Barang yang murah saat dibeli bisa menjadi mahal apabila cepat rusak, memerlukan perawatan berulang, atau harus sering diganti. Karena itu, membandingkan harga sebaiknya disertai pertimbangan mengenai daya tahan dan biaya penggunaan.
Misalnya, sepasang sepatu seharga Rp150.000 hanya bertahan enam bulan sebelum perlu diganti. Dalam dua tahun, seseorang mungkin membeli empat pasang dengan total pengeluaran Rp600.000. Sementara itu, sepatu seharga Rp400.000 yang bertahan selama dua tahun dapat menghasilkan pengeluaran lebih rendah, dengan asumsi kebutuhan dan kenyamanan pemakaiannya sebanding.
Perhitungan semacam ini dikenal melalui pendekatan total cost of ownership, yaitu melihat keseluruhan biaya kepemilikan dan penggunaan barang. Konsep tersebut lazim diterapkan dalam pengadaan barang, kendaraan, dan peralatan karena harga pembelian hanyalah salah satu komponen biaya. Biaya perawatan, energi, perbaikan, hingga penggantian dapat memengaruhi nilai ekonomis suatu pilihan.
Meski begitu, barang mahal tidak otomatis lebih awet atau lebih menguntungkan. Harga tinggi dapat mencerminkan merek, desain, kelangkaan, atau strategi pemasaran, bukan semata-mata kualitas material. Konsumen tetap perlu mempertimbangkan bukti daya tahan, garansi, kemudahan perbaikan, dan kesesuaian barang dengan kebutuhannya.
Ada pula faktor frekuensi penggunaan yang sering terlupakan. Peralatan dapur seharga Rp500.000 mungkin terasa mahal, tetapi menjadi pembelian yang masuk akal apabila digunakan setiap hari selama bertahun-tahun. Sebaliknya, barang seharga Rp50.000 yang tidak pernah digunakan tetap merupakan pengeluaran tanpa manfaat praktis yang berarti.
Hal ini memperlihatkan bahwa nilai sebuah barang tidak dapat ditentukan hanya melalui label harga. Dua orang dapat membeli produk yang sama dan memperoleh manfaat berbeda karena kebutuhan serta kebiasaan penggunaannya tidak serupa. Barang yang hemat bagi seseorang belum tentu menjadi pilihan ekonomis bagi orang lain.
Cara sederhana untuk menghindari pengeluaran yang tidak perlu adalah membandingkan keputusan membeli dengan keadaan sebelum promosi ditemukan. Apakah barang tersebut sudah masuk daftar kebutuhan, apakah jumlahnya sesuai, dan apakah pembelian dapat ditunda tanpa menimbulkan masalah? Pertanyaan tersebut membantu memisahkan kebutuhan nyata dari keinginan yang muncul akibat penawaran menarik.
Pembeli juga dapat memperkirakan biaya per penggunaan untuk barang yang sering dipakai. Perhitungan ini tidak harus sangat rinci, tetapi cukup untuk membandingkan beberapa pilihan secara lebih masuk akal. Jika kualitas dan manfaatnya sebanding, harga lebih rendah tentu tetap menjadi keuntungan.
Berhemat bukan berarti selalu membeli barang dengan harga paling murah. Berhemat berarti menggunakan uang untuk memperoleh manfaat yang memang dibutuhkan, dengan biaya yang masuk akal sepanjang masa pemakaiannya. Sebab uang tidak benar-benar tersimpan hanya karena kita mendapatkan diskon; uang baru bisa dihemat ketika pengeluaran yang tidak diperlukan berhasil dihindari. [][Adrian Damar/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.