Penelitian yang melibatkan peneliti Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran dan praktisi industri kosmetik, Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., menemukan potensi antioksidan pada minyak biji sacha inchi asal Jawa Barat. Apa artinya bagi perkembangan kosmetik berbahan alami?


Ketika memilih produk perawatan kulit, kita sering menjumpai istilah antioksidan, bahan alami, hingga anti-aging atau anti-penuaan. Istilah-istilah tersebut terdengar menjanjikan. Namun, di balik sebuah bahan kosmetik, ada proses penelitian yang perlu dilakukan untuk mengetahui karakteristik dan potensi manfaatnya.


Salah satu bahan yang mulai menarik perhatian adalah minyak biji sacha inchi. Tanaman yang dikenal dengan nama ilmiah Plukenetia volubilis L. ini menghasilkan biji yang dapat diolah menjadi minyak. Bukan sekadar bahan nabati biasa, minyak sacha inchi memiliki kandungan asam lemak yang menarik untuk diteliti dalam pengembangan produk kosmetik.


Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Cosmetics pada 2023 mengkaji karakteristik fisik dan kimia, kandungan asam lemak, serta aktivitas antioksidan minyak biji sacha inchi yang berasal dari Cibokor, Cianjur, Jawa Barat.


Riset ini melibatkan sejumlah peneliti dari Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, bersama Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. praktisi di industri kosmetik di Bandung. Keterlibatan akademisi dan praktisi industri menjadi menarik karena penelitian bahan kosmetik tidak hanya berkaitan dengan sifat ilmiah suatu bahan, tetapi juga potensinya untuk dikembangkan lebih lanjut.


Apa yang Membuat Minyak Sacha Inchi Menarik?

Salah satu temuan utama penelitian ini adalah komposisi asam lemak dalam minyak sacha inchi. Hasil analisis menunjukkan kandungan omega-3 sebesar 48,5 persen, omega-6 sebesar 34,8 persen, dan omega-9 sebesar 7,7 persen.


Bagi pembaca yang belum akrab dengan istilah tersebut, omega-3, omega-6, dan omega-9 merupakan kelompok asam lemak yang memiliki peran penting dalam berbagai proses biologis. Dalam konteks bahan kosmetik, komposisi asam lemak menjadi salah satu aspek yang perlu dipelajari untuk memahami karakteristik minyak dan kemungkinan penggunaannya dalam formulasi produk perawatan kulit.


Namun, tingginya kandungan asam lemak tertentu tidak serta-merta membuktikan bahwa sebuah minyak akan membuat kulit lebih muda atau menghilangkan kerutan. Manfaat akhir suatu produk juga dipengaruhi oleh komposisi formulanya, konsentrasi bahan, kestabilan produk, dan cara penggunaannya.


Dengan kata lain, kandungan bahan merupakan titik awal untuk memahami potensinya, bukan satu-satunya ukuran keberhasilan sebuah produk kosmetik.


Antioksidan: Mengapa Penting dalam Perawatan Kulit?

Penelitian tersebut juga menemukan aktivitas antioksidan pada minyak sacha inchi. Untuk memahaminya, kita perlu mengenal radikal bebas, yaitu molekul yang sangat reaktif dan dapat berkontribusi terhadap kerusakan komponen sel ketika jumlahnya tidak terkendali.


Dalam kehidupan sehari-hari, kulit berhadapan dengan berbagai faktor lingkungan, termasuk paparan sinar ultraviolet dan polusi. Faktor-faktor tersebut dapat meningkatkan tekanan oksidatif, yakni kondisi ketika jumlah molekul reaktif melampaui kemampuan sistem tubuh untuk mengimbanginya.


Antioksidan membantu menetralkan molekul reaktif tertentu. Karena itu, kemampuan antioksidan menjadi salah satu karakteristik yang banyak diteliti ketika ilmuwan mengevaluasi bahan untuk produk perawatan kulit.


Untuk mengukur kemampuan tersebut, tim peneliti menggunakan metode DPPH. Istilah ini merujuk pada pengujian laboratorium yang memanfaatkan senyawa radikal untuk melihat kemampuan suatu bahan dalam meredam aktivitas radikal tersebut.


Hasil pengujian minyak sacha inchi menghasilkan nilai IC50 sebesar 8,859 ppm. Secara sederhana, IC50 adalah ukuran konsentrasi bahan yang dibutuhkan untuk menghasilkan penghambatan sebesar 50 persen dalam sistem pengujian. Pada metode ini, nilai yang lebih rendah menunjukkan bahwa konsentrasi bahan yang dibutuhkan untuk mencapai efek tersebut juga lebih kecil. Peneliti mengategorikan hasil tersebut sebagai aktivitas antioksidan yang sangat kuat berdasarkan kriteria yang mereka gunakan.


Meski demikian, ada hal penting yang perlu dipahami. Pengujian DPPH dilakukan di laboratorium, bukan dengan mengamati perubahan kulit manusia. Hasil ini menunjukkan potensi antioksidan dalam kondisi pengujian, tetapi belum membuktikan bahwa penggunaan minyak sacha inchi pada kulit dapat menghilangkan kerutan, memperlambat penuaan kulit, atau menghasilkan manfaat klinis tertentu.


Dari Biji Menjadi Minyak yang Bisa Diteliti

Minyak yang diteliti berasal dari biji sacha inchi asal Cibokor, Cianjur. Dalam penelitian tersebut, minyak diperoleh melalui metode cold pressing atau pengepresan dingin. Metode ini menghasilkan minyak dengan memberikan tekanan pada biji tanpa menggunakan proses pemanasan tinggi sebagai cara utama untuk mengekstraksinya.


Dari sekitar dua kilogram biji, penelitian melaporkan perolehan kurang lebih satu liter minyak. Hasil tersebut kemudian dianalisis untuk mengetahui karakteristik fisik dan kimianya.


Pemeriksaan seperti ini penting karena bahan kosmetik tidak cukup hanya dinilai dari kandungan yang dianggap bermanfaat. Peneliti juga perlu mengetahui warna, bau, karakteristik fisik, serta sejumlah parameter kimia yang dapat membantu menggambarkan mutu bahan.


Dalam penelitian tersebut, minyak sacha inchi memiliki bentuk cair, berwarna kuning, dan berbau khas. Berbagai parameter lain, seperti angka asam, angka peroksida, dan indeks bias, turut diperiksa.


Angka-angka tersebut mungkin terdengar teknis, tetapi masing-masing membantu memberikan gambaran berbeda tentang minyak. Sebagai contoh, angka peroksida berkaitan dengan hasil awal proses oksidasi lemak, sedangkan angka asam digunakan untuk menilai kandungan asam lemak bebas. Informasi seperti ini dapat membantu peneliti memahami kondisi bahan dan mempertimbangkan kesesuaiannya untuk pengembangan produk.


Penelitian juga melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah aspek keamanan dan mutu, termasuk cemaran mikroba serta logam berat yang diuji. Hasil pemeriksaan yang dilaporkan memberikan informasi awal mengenai karakteristik sampel yang diteliti. Namun, hasil pada satu sampel tidak otomatis menjamin bahwa seluruh minyak sacha inchi di pasaran memiliki kualitas yang sama.


Mengapa Kolaborasi Akademisi dan Industri Penting?

Pengembangan bahan kosmetik membutuhkan lebih dari sekadar penemuan kandungan yang menarik. Bahan perlu dipahami karakteristiknya, diuji dalam kondisi yang sesuai, lalu dikaji kembali ketika mulai digunakan dalam suatu formula.

 

Di sinilah kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri dapat berperan. Penelitian akademik membantu membangun dasar ilmiah, sementara pengalaman industri dapat memberikan perspektif mengenai kebutuhan bahan baku dan kemungkinan pengembangannya dalam produk.


Dalam publikasi ini, Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., tercatat berkontribusi pada konseptualisasi penelitian dan penyediaan sumber daya bersama Prof. Sriwidodo. Kontribusi tersebut menempatkannya sebagai salah satu pihak yang terlibat dalam perumusan gagasan dan dukungan terhadap pelaksanaan penelitian.


Sementara itu, para peneliti yang berafiliasi dengan Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran turut berperan dalam berbagai bagian penelitian, mulai dari penyelidikan, analisis, penulisan, hingga supervisi. Susunan kontribusi tersebut menunjukkan bahwa riset ini dikerjakan melalui pembagian peran, bukan oleh satu orang saja.


Bagi pengembangan kosmetik berbahan alam, pendekatan semacam ini penting agar pemanfaatan bahan lokal tidak berhenti pada popularitas atau klaim pemasaran, tetapi juga didukung oleh data yang dapat dipertanggungjawabkan.


Potensi Menarik, tetapi Masih Perlu Dibuktikan Lebih Lanjut

Hasil penelitian minyak sacha inchi asal Cianjur memberikan gambaran awal yang menarik: minyak ini memiliki komposisi asam lemak yang khas dan menunjukkan aktivitas antioksidan dalam pengujian laboratorium.


Temuan tersebut dapat menjadi landasan bagi penelitian berikutnya, misalnya untuk mempelajari kestabilan minyak dalam formulasi kosmetik, kecocokannya dengan bahan lain, serta bagaimana karakteristiknya berubah ketika diolah menjadi produk jadi.


Penelitian lanjutan juga diperlukan untuk menilai keamanan dan manfaat produk dalam kondisi penggunaan yang relevan. Sebab, bahan yang menunjukkan aktivitas antioksidan di laboratorium belum tentu menghasilkan efek yang sama ketika dimasukkan ke dalam formula dan diaplikasikan pada kulit manusia.


Pada akhirnya, potensi bahan alam tidak hanya terletak pada asal-usulnya atau banyaknya kandungan yang menarik. Potensi itu perlu dipahami melalui penelitian yang bertahap, pengujian yang sesuai, dan klaim manfaat yang sejalan dengan bukti.


Minyak sacha inchi dari Cianjur menawarkan satu contoh bagaimana bahan lokal dapat menjadi objek penelitian ilmiah. Langkah berikutnya adalah memastikan sejauh mana karakteristik tersebut dapat diterjemahkan menjadi produk kosmetik yang aman, stabil, dan benar-benar memberikan manfaat bagi penggunanya.  [][Dipo Alaric/KK]


Sumber penelitian: Maya, I., Winardi, D. O., Amalia, E., Mita, S. R., Kusumawulan, C. K., Putriana, N. A., dan Sriwidodo. “Physicochemical Characteristics, Fatty Acid Profile, and In Vitro Antioxidant Activity Evaluation of Sacha Inchi Seed Oil from Indonesia.” Cosmetics, 10 (2023), 171. DOI: 10.3390/cosmetics10060171.


Penulisan dan riset artikel ini dibantu AI serta telah melalui proses kurasi Redaksi.