Tagar #KaburAjaDulu terdengar seperti lelucon pada awalnya. Dan bagaimana pemerintah menyikapinya?
Ia muncul di media sosial dengan nada yang campur aduk antara satire, frustrasi, dan candaan sehari-hari. Banyak orang memakainya sambil membahas pekerjaan, pendidikan, biaya hidup, sampai kondisi sosial yang terasa semakin melelahkan. Namun semakin lama diperhatikan, semakin terasa bahwa tagar itu sebenarnya menyimpan sesuatu yang jauh lebih serius.
Ada banyak anak muda Indonesia yang mulai membayangkan hidup di tempat lain. Sebagian berbicara tentang bekerja di luar negeri. Sebagian membayangkan pindah kewarganegaraan suatu hari nanti. Ada pula yang sekadar berkhayal tentang hidup di negara yang terasa lebih tenang, lebih tertata, dan lebih memberi rasa aman terhadap masa depan.
Fenomena seperti ini sebenarnya tidak sepenuhnya baru. Hampir semua negara pernah mengalami fase ketika generasi mudanya merasa lelah terhadap keadaan domestik. Namun, yang menarik dari #KaburAjaDulu adalah cara ia muncul sebagai ekspresi kolektif yang terasa sangat emosional dan sangat digital dalam waktu bersamaan.
Banyak orang memakainya bukan karena benar-benar sudah membeli tiket pergi. Sebagian besar mungkin bahkan tidak punya rencana konkret untuk pindah ke luar negeri. Namun tagar itu tetap hidup karena ia berhasil mewakili satu perasaan yang cukup luas: rasa lelah terhadap masa depan yang terasa semakin sulit diprediksi.
Ada generasi yang tumbuh dengan janji bahwa pendidikan akan membuka jalan hidup lebih baik. Mereka belajar lebih lama, bekerja lebih keras, dan berusaha lebih adaptif dibanding generasi sebelumnya. Namun di tengah semua itu, banyak yang merasa hidup tetap terasa rapuh.
Harga rumah semakin jauh dari jangkauan. Persaingan kerja makin padat. Dunia kerja bergerak terlalu cepat. Upah terasa tertinggal dari biaya hidup. Sementara media sosial terus memperlihatkan kehidupan yang tampak lebih stabil di tempat lain.
Keadaan seperti itu perlahan menciptakan jarak emosional antara anak muda dan gagasan tentang masa depan di negaranya sendiri. Bukan berarti mereka membenci Indonesia. Banyak justru masih mencintai tanah tempat mereka lahir. Namun cinta saja kadang tidak cukup untuk membuat seseorang merasa aman tinggal di dalamnya.
Baca Juga: Hari-Hari yang Apa-Apa Pakai AI
Ketika Masa Depan Terasa Lebih Masuk Akal di Negara Orang
Ada sesuatu yang cukup menarik dari cara generasi muda memandang luar negeri hari ini. Dulu, hidup di negara lain sering dipandang sebagai simbol prestise atau petualangan pribadi. Sekarang, bagi sebagian orang, ia mulai terlihat seperti strategi bertahan hidup.
Media sosial ikut memperkuat bayangan itu setiap hari. Orang melihat sistem transportasi yang lebih tertata, ruang publik yang lebih nyaman, kualitas hidup yang lebih stabil, dan peluang kerja yang terlihat lebih jelas. Semua itu terus muncul di layar telepon genggam dengan ritme yang hampir tanpa jeda.
Tentu saja tidak semua gambaran itu sepenuhnya utuh. Banyak negara lain juga memiliki persoalan sosial dan ekonomi yang tidak ringan. Namun dalam logika media sosial, yang terlihat sering kali adalah hasil akhirnya, bukan proses panjang di baliknya.
Masalahnya, pemerintah sering merespons fenomena seperti #KaburAjaDulu secara terlalu defensif. Ada kecenderungan melihat tagar itu sebagai bentuk kurang nasionalis, kurang bersyukur, atau sekadar pengaruh pesimisme digital. Padahal yang sedang muncul sebenarnya bukan sekadar tren media sosial biasa.
Tagar seperti itu sering menjadi gejala sosial dari hubungan yang mulai retak antara generasi muda dan rasa percaya terhadap masa depan domestik. Banyak anak muda sebenarnya tidak sedang membenci negaranya. Mereka hanya mulai kesulitan membayangkan hidup yang stabil di dalamnya.
Ada perbedaan besar antara kritik dan kebencian. Namun negara seringkali terlalu cepat membaca keresahan publik sebagai ancaman terhadap citra nasional. Akibatnya, respons yang muncul lebih sibuk meredam narasi dibanding memahami akar emosinya.
Padahal generasi muda hari ini hidup dalam tekanan yang cukup berbeda dibanding generasi sebelumnya. Mereka tumbuh di tengah ekonomi digital yang kompetitif, dunia kerja yang tidak stabil, dan budaya media sosial yang membuat perbandingan hidup terjadi setiap hari. Dalam keadaan seperti itu, rasa cemas terhadap masa depan menjadi jauh lebih mudah tumbuh.
Yang menarik, sebagian besar anak muda sebenarnya tidak meminta kehidupan yang mewah. Banyak hanya ingin hidup yang terasa cukup aman untuk direncanakan. Bisa bekerja dengan layak, memiliki tempat tinggal, dan membayangkan masa depan tanpa rasa takut yang berlebihan.
Namun ketika harapan-harapan sederhana mulai terasa terlalu jauh, muncul dorongan untuk mencari kemungkinan hidup di tempat lain. Dan media sosial membuat kemungkinan itu terasa semakin nyata di mata generasi muda.
Baca Juga: Di Tengah Dunia yang Seragam, Orang Mulai Mencari Akar
Mungkin yang Dicari Bukan Negara Baru
Fenomena #KaburAjaDulu sebenarnya tidak selalu harus dibaca secara harfiah. Tidak semua orang yang memakai tagar itu benar-benar ingin pergi. Banyak yang sebenarnya hanya sedang mencari ruang untuk bernapas dari tekanan hidup yang terasa semakin padat.
Ada kelelahan kolektif yang sedang bergerak diam-diam di generasi sekarang. Mereka dituntut terus produktif, terus belajar, terus relevan, dan terus bertahan di tengah perubahan dunia yang sangat cepat. Namun pada saat yang sama, rasa aman sosial terasa semakin tipis.
Karena itu, keinginan untuk ‘kabur’ kadang bukan benar-benar tentang pindah negara. Yang dicari sering kali adalah kemungkinan hidup yang terasa lebih manusiawi. Tempat di mana masa depan tidak terus-menerus terasa seperti sesuatu yang mengancam.
Pemerintah sebenarnya punya peluang besar untuk membaca fenomena ini secara lebih dewasa. Bukan dengan menyalahkan generasi muda atau sekadar mengimbau optimisme, tetapi dengan memahami mengapa rasa percaya itu mulai melemah. Karena pada akhirnya, manusia tidak hanya bertahan hidup dengan slogan tentang nasionalisme.
Anak muda tetap membutuhkan alasan konkret untuk percaya bahwa hidup mereka bisa tumbuh dengan layak di negeri sendiri. Mereka perlu merasa didengar, bukan hanya dinasihati untuk bersabar atau lebih bersyukur. Sebab rasa memiliki terhadap sebuah negara tidak tumbuh hanya dari simbol dan pidato.
Mungkin karena itu, #KaburAjaDulu terasa begitu kuat di media sosial. Ia bukan hanya tagar tentang pergi. Ia adalah bahasa digital dari generasi yang sedang mencoba menjelaskan kecemasannya sendiri.
Dan mungkin, pertanyaan paling penting hari ini bukan apakah anak muda benar-benar akan pergi meninggalkan Indonesia. Pertanyaannya adalah mengapa semakin banyak yang mulai merasa bahwa membayangkan hidup di tempat lain terdengar lebih masuk akal daripada membayangkan masa depan di rumah sendiri. [][Tim Kedaikata]