Kita membuka media sosial seperti biasa. Scroll pelan, berhenti sebentar, lalu tanpa sadar membandingkan. Wajah-wajah yang terlihat rapi, kulit yang tampak mulus, dan penampilan yang terasa ‘pas’ membuat kita bertanya dalam hati.
Bukan dengan suara keras, tapi cukup jelas untuk terasa. “Harusnya gue juga bisa kayak gini.” Dan dari situ, sesuatu mulai bergerak pelan di dalam diri.
Apa yang kita lihat di media sosial sering terasa seperti standar. Tidak tertulis, tapi terus diulang. Tidak dipaksa, tapi perlahan membentuk cara kita melihat diri sendiri.
Masalahnya, standar itu nggak pernah benar-benar diam. Ia berubah, bergeser, dan datang dalam bentuk yang berbeda-beda. Dan kita sering tidak sadar, bahwa yang kita kejar hari ini bisa berbeda dengan apa yang kita kejar kemarin.
Baca Juga: Kulit Sempurna Itu Nyata, atau Kita yang Dipaksa Percaya?
Standar yang Selalu Bergerak
Beberapa tahun lalu, kulit matte dan flawless jadi gambaran ideal. Lalu muncul tren glass skin yang menekankan kilau alami. Setelah itu, clean girl look dengan tampilan minimalis mulai mendominasi.
Semua terlihat menarik, dan semuanya terasa seperti sesuatu yang ingin dicapai. Tapi ketika satu tren mulai terasa akrab, tren lain sudah datang menggantikan. Siklus ini terus berjalan, tanpa benar-benar memberi titik berhenti.
Di titik ini, kecantikan bukan lagi soal satu definisi. Ia menjadi sesuatu yang terus diperbarui. Dan tanpa disadari, kita ikut bergerak mengikuti arah itu.
Yang membuatnya lebih kuat adalah pengulangan. Kita melihatnya setiap hari, dari berbagai akun, dengan berbagai versi. Semakin sering terlihat, semakin terasa normal.
Baca Juga: Kulit Halus dan Mulus Bukan Soal Produk Mahal
Perbandingan yang Tidak Pernah Selesai
Tanpa sadar, kita mulai membandingkan. Bukan hanya dengan satu orang, tapi dengan banyak wajah yang muncul bergantian. Setiap tampilan membawa standar yang sedikit berbeda.
Di satu sisi, kita mungkin tahu bahwa apa yang kita lihat tidak selalu real. Ada filter, pencahayaan, dan proses editing yang tidak terlihat. Tapi di sisi lain, rasa membandingkan itu tetap muncul.
Dari situ, muncul perasaan yang sulit dijelaskan. Bukan selalu iri, tapi seperti belum cukup. Seolah selalu ada sesuatu yang perlu diperbaiki.
Dan yang menarik, perasaan itu tidak selalu datang dari kekurangan nyata. Tapi dari standar yang terus bergerak, tanpa memberi ruang untuk merasa selesai.
Baca Juga: Bagaimana Mengatasi Kulit yang Kurang Terhidrasi?
Cantik Versi Siapa?
Di titik ini, pertanyaannya menjadi lebih dalam. Ketika standar terus berubah, siapa yang sebenarnya kita ikuti? Apakah itu pilihan kita, atau sesuatu yang kita serap tanpa sadar?
Media sosial tidak selalu salah. Dan nggak tepat juga kalau kita menyalahkannya. Ia hanya jadi ruang tempat banyak versi kecantikan ditampilkan. Tapi ketika kita tidak memberi jarak, semua itu bisa terasa seperti tuntutan.
Kita mulai merasa harus mengikuti, agar tidak tertinggal. Padahal, tidak semua hal yang terlihat perlu kita jadikan ukuran.
Yang sering terlewat adalah fakta sederhana. Wajah kita tidak berubah secepat tren. Tapi cara kita melihat diri bisa berubah setiap hari.
Mungkin yang perlu dijaga bukan seberapa cepat kita mengikuti standar. Tapi seberapa sadar kita dalam memilih mana yang benar-benar berarti.
Karena di tengah semua perubahan itu, satu hal tetap penting. Bukan tentang menjadi seperti yang sedang terlihat ideal, tapi tentang merasa cukup dengan diri yang kita miliki.
Dan mungkin, pertanyaan itu akan terus ada. Cantik versi siapa yang sedang kita kejar, dan apakah kita benar-benar ingin sampai ke sana. [][Eva Evilia/KK]
[penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi]