Wajahnya sama. Orangnya juga sama. Namun cermin, kamera depan, dan foto yang diambil orang lain bisa membuat penampilan kita terasa seperti tiga versi berbeda.
Pernah merasa cukup puas ketika bercermin, lalu beberapa menit kemudian kebingungan melihat hasil kamera depan? Alis mendadak terlihat tidak seimbang, hidung terasa berbeda, atau senyum yang biasanya baik-baik saja di cermin justru tampak sedikit asing. Ketika orang lain memotret dari jarak tertentu, wajah kita bisa berubah lagi.
Reaksi pertama sering mengarah kepada pertanyaan yang sama: jadi, wajah kita sebenarnya yang mana? Jawabannya tidak sesederhana memilih cermin atau kamera sebagai versi paling jujur. Ketiganya menampilkan wajah melalui kondisi visual yang berbeda.
Ada faktor pantulan, jarak kamera, jenis lensa, perspektif, pencahayaan, hingga pemrosesan gambar oleh telepon pintar. Namun ada satu faktor lain yang berasal dari diri kita sendiri: wajah tertentu sudah jauh lebih akrab di mata kita dibandingkan versi lainnya.
Baca Juga: Ketika Produk Kecantikan Tak Lagi Dikembangkan Hanya dari Asumsi, Apa yang Berubah?
Cermin Membalik Wajah, Kamera Mengubah Perspektif
Cermin menampilkan wajah dalam orientasi terbalik kiri-kanan dari cara orang lain melihat kita. Perbedaannya terasa sepele jika wajah benar-benar simetris, tetapi wajah manusia secara alami mempunyai asimetri. Posisi alis, bentuk mata, garis senyum, rambut, hingga kontur kedua sisi wajah dapat sedikit berbeda.
Psikolog Theodore Mita, Marshall Dermer, dan Jeffrey Knight pernah menguji pengaruh keakraban tersebut dalam penelitian yang diterbitkan pada 1977. Mereka menemukan peserta cenderung lebih menyukai citra wajahnya yang dibalik seperti cermin, sedangkan teman mereka lebih menyukai orientasi wajah sebagaimana biasanya terlihat oleh orang lain. Para peneliti mengaitkannya dengan mere-exposure effect: kita cenderung lebih menyukai sesuatu yang lebih sering dilihat.
Itulah sebabnya foto yang tidak dibalik bisa terasa ‘salah’ bagi pemilik wajah, meskipun orang lain mungkin tidak melihat sesuatu yang aneh. Kita telah melihat wajah versi cermin selama bertahun-tahun ketika menyikat gigi, menyisir rambut, memakai skincare, atau sekadar memeriksa penampilan. Ketika orientasinya berubah, asimetri yang sebenarnya sudah ada mendadak muncul di tempat yang tidak familiar.
Kamera depan membawa persoalan lain. Kamera pada telepon pintar umumnya menggunakan lensa dengan sudut pandang relatif lebar agar banyak bagian dapat masuk ke dalam bingkai dari jarak dekat. Ketika wajah berada sangat dekat dengan kamera, perspektif membuat bagian yang lebih dekat ke lensa terlihat relatif lebih besar dibandingkan bagian yang lebih jauh.
Penelitian Boris Paskhover dan koleganya yang diterbitkan dalam JAMA Facial Plastic Surgery menunjukkan bahwa foto wajah dari jarak dekat dapat membuat hidung terlihat lebih besar dibandingkan foto dari jarak yang lebih jauh. Jadi, perasaan bahwa hidung atau bagian tengah wajah terlihat berbeda dalam selfie tidak selalu berasal dari bentuk wajah, melainkan juga dari jarak pengambilan gambar.
Baca Juga: Skincare Sudah Semakin Personal, Kenapa Kita Masih Mudah Mengikuti Rutinitas Orang Lain?
Foto Tidak Selalu Menunjukkan Satu ‘Wajah Asli’
Foto yang diambil orang lain biasanya dilakukan dari jarak lebih jauh dibandingkan selfie. Karena jaraknya berbeda, proporsi wajah dapat terlihat lebih natural dibandingkan kamera depan yang ditempatkan sangat dekat. Namun hasilnya masih dipengaruhi ketinggian kamera, sudut, lensa, cahaya, ekspresi, serta momen ketika tombol rana ditekan.
Pencahayaan saja dapat mengubah persepsi cukup drastis. Cahaya dari atas dapat mempertegas bayangan di bawah mata dan hidung, sedangkan cahaya yang lebih lembut dari depan dapat mengurangi bayangan tersebut. Kontur wajah yang tampak jelas dalam satu kondisi dapat terlihat lebih datar dalam kondisi lainnya.
Telepon pintar modern menambahkan lapisan lain melalui computational photography. Gambar yang terlihat di layar bukan selalu hasil sederhana dari cahaya yang mengenai sensor, karena perangkat dapat menggabungkan beberapa eksposur, mengatur rentang dinamis, mengurangi noise, mempertajam detail, hingga melakukan berbagai pemrosesan otomatis. Dua kamera bahkan dapat menghasilkan karakter gambar berbeda meskipun memotret wajah yang sama.
Ekspresi juga berpengaruh. Di depan cermin, kita mempunyai kendali langsung terhadap wajah yang sedang dilihat dan tanpa sadar dapat memilih posisi yang terasa paling familiar. Foto orang lain membekukan sepersekian detik yang mungkin menangkap mata setengah berkedip, bibir baru mulai tersenyum, atau kepala berada pada sudut yang tidak biasa kita lihat.
Karena itu, mencari satu medium yang menunjukkan "wajah asli" sebenarnya kurang tepat. Orang lain melihat kita dalam tiga dimensi, dari berbagai jarak dan sudut, dengan ekspresi yang terus bergerak. Mereka tidak mengenal wajah kita sebagai satu bingkai diam seperti foto identitas.
Hal tersebut juga menjelaskan mengapa satu foto yang dianggap buruk oleh pemiliknya belum tentu terlihat buruk bagi orang lain. Kita membandingkannya dengan representasi diri yang sudah sangat familiar, sementara orang lain membandingkannya dengan wajah kita yang memang mereka lihat sehari-hari. Perbedaan kecil yang terasa mencolok bagi diri sendiri bisa hampir tidak menarik perhatian mereka.
Jadi, ketika wajah di kamera depan terasa asing, tidak perlu buru-buru memutuskan bahwa cermin selama ini ‘berbohong’ atau kamera telah menunjukkan kenyataan yang menyakitkan. Keduanya hanya menangkap wajah dengan cara berbeda. Wajah manusia jauh lebih kompleks daripada satu pantulan atau satu foto, dan orang lain mengenal kita melalui ribuan ekspresi yang tidak pernah bisa diringkas oleh sebuah selfie. [][Eva Evilia/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.