Keinginan menjalani pola hidup sehat sering kali berbenturan dengan kenyataan di pasar. Ketika harga bahan pangan terus berubah, tidak sedikit orang merasa diet identik dengan pengeluaran yang semakin besar. Benarkah hidup sehat memang harus semahal itu?

Media sosial ikut membentuk cara kita memandang diet. Menu berisi greek yogurt, dada ayam tanpa kulit, salmon, alpukat, hingga protein shake tampil hampir setiap hari. Tidak heran jika muncul anggapan bahwa untuk hidup lebih sehat, seseorang harus menyiapkan anggaran yang juga lebih besar.

Pandangan itu tidak sepenuhnya keliru. Beberapa pola diet memang membutuhkan bahan pangan premium atau produk khusus yang harganya relatif tinggi. Belum lagi jika ditambah suplemen, makanan organik, atau layanan meal prep yang praktis. Semua itu tentu membuat biaya makan meningkat.

Namun, menganggap semua diet pasti mahal juga tidak sepenuhnya benar. Persoalannya lebih rumit daripada sekadar memilih makanan murah atau mahal. Setiap orang memulai perjalanan hidup sehat dari kondisi ekonomi, lingkungan, dan kebiasaan yang berbeda.

Baca Juga: Menu Sarapan Nusantara Sehat, Bergizi Tak Harus Mahal

Ada Diet yang Mahal, Ada Pula yang Bersahabat dengan Dompet

Tak bisa dimungkiri, sebagian orang memang merasakan pengeluaran bertambah ketika mulai mengubah pola makan. Mereka mencoba memperbanyak protein, mengurangi makanan olahan, dan membeli lebih banyak buah atau sayuran segar. Dalam situasi tertentu, perubahan itu memang membutuhkan biaya tambahan.

Di sisi lain, pola makan sehat tidak selalu harus mengikuti isi keranjang belanja yang sedang populer di media sosial. Protein tidak hanya berasal dari salmon atau daging sapi tanpa lemak. Tempe, tahu, telur, ikan kembung, hingga ikan pindang juga menjadi sumber protein yang baik dengan harga yang lebih terjangkau. Begitu pula karbohidrat yang tidak harus selalu berasal dari quinoa atau oat. Nasi, jagung, ubi, dan singkong tetap dapat menjadi bagian dari pola makan seimbang.

Pilihan tersebut tentu tidak berarti semua orang akan mengeluarkan biaya yang sama. Harga bahan pangan di setiap daerah berbeda, begitu pula akses terhadap pasar, waktu untuk memasak, dan kemampuan membeli bahan makanan segar. Karena itu, membandingkan biaya diet antarseseorang sering kali tidak memberikan gambaran yang adil.

Baca Juga: You Are What You Eat, Benarkah?

Yang Terpenting Bukan Mahal atau Murah, tetapi Bisa Dijalani

Banyak orang berhenti menjalani diet bukan karena tidak memiliki niat, melainkan karena pola yang dipilih terlalu jauh dari kondisi kesehariannya. Ketika setiap menu terasa membebani pengeluaran atau sulit disiapkan, semangat itu perlahan menghilang.

Pola makan yang baik justru lahir dari pilihan yang realistis. Menambah porsi sayuran, memilih sumber protein sesuai kemampuan, mengurangi minuman tinggi gula, atau membatasi makanan ultra-proses dapat menjadi langkah sederhana yang lebih mudah dipertahankan dalam jangka panjang. Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten sering kali memberi hasil yang lebih berarti daripada pola makan ketat yang hanya bertahan beberapa minggu.

Hidup sehat memang tidak selalu murah, dan mengakui kenyataan itu bukan berarti menyerah. Sebaliknya, pengakuan itu membantu kita melihat bahwa setiap orang memiliki tantangan yang berbeda. Pada akhirnya, diet bukanlah perlombaan menyusun menu paling mahal atau paling menarik untuk diunggah ke media sosial. Yang jauh lebih penting adalah menemukan pola makan yang tetap bisa dijalani ketika rutinitas berubah, harga bahan pangan naik, dan kehidupan terus berjalan. [][Rommy Rimbarawa/KK]

Penulisan dan riset artikel ini dibantu AI serta telah melalui proses kurasi Redaksi.