Belakangan ini semakin banyak orang membicarakan tentang slow living. Ada yang mulai sengaja bangun lebih pagi agar sempat menikmati sarapan tanpa tergesa-gesa. Ada yang mencoba mengurangi jadwal terlalu padat demi punya waktu membaca buku, menyiram tanaman, atau sekadar duduk diam tanpa merasa dikejar sesuatu.
Di media sosial, gaya hidup seperti itu terlihat sangat menenangkan. Video tentang pagi yang sunyi, kopi hangat, rumah rapi, cahaya matahari masuk dari jendela, sampai rutinitas kecil yang berjalan pelan terus bermunculan setiap hari. Semakin sering dilihat, semakin terasa juga satu hal yang agak ironis: hidup pelan sekarang mulai tampak seperti kemewahan yang tidak semua orang bisa miliki dengan mudah.
Karena bagi banyak orang, hidup modern justru berjalan dengan ritme yang sepenuhnya berbeda. Banyak orang bangun terburu-buru karena harus mengejar kendaraan umum sebelum jalanan semakin macet. Banyak juga yang menjalani pekerjaan dengan notifikasi yang tidak pernah benar-benar berhenti bahkan setelah jam kerja selesai.
Akibatnya, ketenangan kecil yang dulu terasa biasa sekarang perlahan berubah menjadi sesuatu yang tampak mahal. Duduk tenang tanpa tergesa, makan tanpa sambil membuka laptop, atau punya sore yang tidak dipenuhi kecemasan pekerjaan mulai terasa seperti bentuk kemewahan baru di kota-kota besar. Hal-hal sederhana itu tidak lagi otomatis hadir dalam kehidupan banyak orang modern.
Sosiolog Hartmut Rosa pernah menjelaskan tentang masyarakat modern hidup dalam percepatan sosial yang membuat manusia terus merasa dikejar waktu. Dalam kondisi seperti itu, kemampuan untuk hidup lebih pelan sering kali berkaitan dengan akses terhadap waktu, stabilitas hidup, dan ruang pribadi yang tidak dimiliki semua orang secara setara. Mungkin itu sebabnya slow living sekarang bukan hanya terlihat estetik, tetapi juga terasa eksklusif.
Baca Juga: Banyak Orang Cari Tempat Sunyi, karena Dunia Terasa Terlalu Berisik?
Hidup Pelan Sekarang Tidak Sekadar Soal Gaya Hidup
Kalau diperhatikan, banyak orang sebenarnya tidak benar-benar ingin hidup mewah dalam arti tradisional. Yang mulai dicari justru hal-hal sederhana yang terasa semakin sulit dimiliki, seperti tidur cukup, makan tenang, punya akhir pekan tanpa rasa cemas, atau menikmati sore tanpa merasa bersalah karena tidak produktif. Hal-hal kecil itu sekarang terasa jauh lebih berharga dibanding simbol kemewahan yang dulu sering dibayangkan orang.
Masalahnya, kehidupan modern membuat semua itu perlahan semakin sulit dipertahankan. Internet dan budaya kerja digital membuat batas antara waktu pribadi dan pekerjaan semakin kabur. Banyak orang merasa harus selalu siap membalas pesan, selalu terlihat aktif, dan selalu bergerak agar tidak tertinggal oleh ritme sosial di sekitarnya.
Media sosial juga ikut membentuk cara manusia memandang ketenangan. Konten tentang rumah sunyi, rutinitas pagi yang pelan, memasak sederhana, sampai orang-orang yang terlihat hidup tanpa terburu-buru mulai diperlakukan seperti simbol keberhasilan hidup tertentu. Padahal di balik semua itu, ada faktor penting yang jarang dibicarakan secara jujur: hidup pelan sering membutuhkan waktu luang yang tidak murah.
Seseorang yang bekerja dalam ritme panjang dengan tekanan ekonomi tinggi tentu jauh lebih sulit menjalani slow living dibanding mereka yang memiliki fleksibilitas waktu dan kondisi hidup lebih stabil. Nggak semua orang bisa langsung ‘hidup lebih tenang’ hanya karena melihat video motivasi atau konten estetik di media sosial. Ada realitas sosial dan ekonomi yang membuat sebagian orang terus hidup dalam mode bertahan tanpa banyak pilihan untuk melambat.
Psikolog Dr. Laurie Santos menjelaskan bahwa manusia modern sering terjebak dalam pola produktivitas tanpa henti yang membuat istirahat terasa seperti kemunduran. Akibatnya, banyak orang merasa bersalah ketika mencoba melambat, bahkan saat tubuh dan pikirannya sebenarnya sudah sangat lelah. Dalam situasi seperti itu, hidup pelan akhirnya terlihat bukan sekadar pilihan gaya hidup, melainkan sesuatu yang terasa mewah dan sulit dijangkau.
Baca Juga: Sarapan Serba 10.000 Makin Menjamur, Kota Memang Sesibuk Itu
Banyak Orang Sebenarnya Tidak Ingin Kaya Raya, Mereka Hanya Ingin Sedikit Ruang Bernapas
Menariknya, tren slow living juga memperlihatkan perubahan kecil dalam cara manusia memandang kebahagiaan. Semakin banyak orang mulai sadar bahwa hidup tidak selalu harus dipenuhi percepatan terus-menerus agar terasa berarti. Ada kerinduan terhadap hidup yang lebih tenang, lebih utuh, dan tidak selalu terasa seperti perlombaan tanpa jeda.
Ada yang mulai mengurangi nongkrong terlalu ramai demi menikmati waktu sendiri dengan lebih tenang. Ada yang sengaja membatasi notifikasi kerja setelah malam karena merasa pikirannya terlalu penuh sepanjang hari. Ada juga yang perlahan mencoba menikmati aktivitas kecil yang dulu dianggap sepele karena hidup mereka terasa terlalu padat oleh stimulasi digital.
Fenomena itu menunjukkan bahwa manusia modern sebenarnya sedang sangat lelah. Bukan hanya lelah bekerja, tetapi juga lelah terus merasa harus cepat dalam segala hal. Cepat membalas pesan, cepat berkembang, cepat sukses, cepat produktif, bahkan cepat terlihat bahagia di media sosial membuat banyak orang perlahan kehilangan ruang untuk benar-benar bernapas.
Dalam kondisi seperti itu, hidup pelan akhirnya terlihat begitu menenangkan karena ia menawarkan sesuatu yang mulai jarang ditemukan: rasa cukup. Ketika dunia terus mendorong manusia untuk bergerak lebih cepat, kemampuan menikmati hidup tanpa terus merasa tertinggal mulai terasa sangat berharga. Dan mungkin itu sebabnya banyak orang sekarang diam-diam memimpikan hidup yang lebih sederhana, meski hanya lewat rutinitas kecil yang berjalan sedikit lebih pelan.
Peneliti budaya digital Jenny Odell menyebutkan bahwa perhatian manusia modern terus diperebutkan oleh sistem yang mendorong produktivitas dan stimulasi tanpa henti. Karena itu, memilih melambat kadang bukan sekadar gaya hidup, tetapi bentuk kecil mempertahankan ruang pribadi di tengah dunia yang terlalu ramai. Di era ketika manusia terus dikejar untuk bergerak lebih cepat, duduk tenang menikmati sore tanpa merasa bersalah mungkin memang mulai terasa seperti kemewahan yang sangat mahal. [][Liora Maheswari/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.