Pagi hari di kota besar sekarang bergerak sangat cepat. Orang berangkat kerja sambil mengejar waktu, membuka chat kantor bahkan sebelum benar-benar sadar penuh, lalu mencari sesuatu yang paling sederhana untuk memastikan tubuh tetap punya tenaga menjalani hari.

Di tengah ritme seperti itu, tempat makan dengan menu 'serba 10 ribu' mulai muncul di banyak sudut kota. Ada yang menjual nasi telur, bubur, lontong kari, nasi kuning, sampai kopi dan roti sederhana yang bisa dibeli cepat sebelum jam kerja dimulai.

Fenomena itu mungkin terlihat biasa saja di permukaan. Namun kalau diperhatikan lebih jauh, menjamurnya sarapan murah pagi hari sebenarnya sedang bercerita banyak tentang cara hidup manusia urban sekarang.

Karena yang dijual bukan cuma makanan murah. Yang dijual adalah kepraktisan, kecepatan, dan kesempatan kecil untuk tetap sempat sarapan di tengah hidup yang semakin padat.

Sosiolog Richard Sennett dalam The Corrosion of Character [1998] menjelaskan bahwa ritme kehidupan modern membuat banyak orang hidup dalam tekanan waktu yang terus bergerak cepat. Akibatnya, aktivitas sederhana sehari-hari, termasuk makan pagi, perlahan berubah menjadi sesuatu yang harus disesuaikan dengan tuntutan produktivitas. Terasa sangat dekat dengan budaya sarapan kota hari ini?

Baca Juga: Lucu Ya, Es Kopi Susu Tetap Ramai, Padahal Banyak Orang Sudah Bilang Bosan

Banyak Orang Tidak Lagi Sempat Menyiapkan Pagi untuk Dirinya Sendiri

Dulu sarapan sering identik dengan suasana rumah. Ada waktu duduk sebentar sebelum berangkat, ada makanan yang disiapkan dari dapur, dan ada jeda kecil sebelum hari dimulai. Sekarang situasinya mulai berbeda. Banyak orang tidur terlalu malam, bangun mepet jam kerja, lalu langsung bergerak keluar rumah sambil membawa rasa terburu-buru sejak pagi.

Akibatnya, sarapan bukan lagi ritual tenang, melainkan bagian dari strategi bertahan menjalani hari.

Tempat sarapan serba 10 ribu akhirnya hadir di celah kebutuhan itu. Harganya terasa aman untuk pekerja harian, prosesnya cepat, dan lokasinya biasanya dekat jalur berangkat kantor atau kawasan padat pekerja.

Psikolog perilaku Wendy Wood menjelaskan bahwa kebiasaan manusia modern sangat dipengaruhi oleh ritme lingkungan sehari-hari. Ketika waktu semakin sempit dan energi mental semakin terbatas, manusia cenderung memilih keputusan yang paling praktis dan paling sedikit membutuhkan usaha tambahan. Mungkin itu sebabnya tempat sarapan murah sekarang terasa semakin relevan di kota besar.

Baca Juga: Kenapa Tempat Makan yang Nggak Enak Bisa Tetap Viral?

Harga 10 Ribu Sekarang Punya Makna Emosional bagi Banyak Orang

Menariknya, angka 10 ribu terasa sangat spesial dalam budaya konsumsi sehari-hari masyarakat urban. Harga itu masih dianggap murah, masih terasa 'aman,' dan tidak terlalu memunculkan rasa bersalah untuk dikeluarkan setiap pagi.

Bagi sebagian orang, sarapan seperti ini bukan soal mencari makanan terbaik atau tempat paling nyaman. Kadang sesederhana memastikan bahwa pagi itu mereka tetap bisa makan sebelum menghadapi pekerjaan panjang sampai sore. Ini sangat khas manusia perkotaan.

Dikutip dari buku The Overspent American [1998], pengamat budaya konsumsi Juliet Schor menjelaskan bahwa keputusan konsumsi masyarakat modern sering dipengaruhi oleh rasa aman psikologis, bukan sekadar kebutuhan praktis. Dalam situasi ekonomi dan ritme hidup yang melelahkan, pilihan kecil yang terasa terjangkau bisa memberi rasa tenang yang cukup besar dalam keseharian seseorang.

Karena itu, sarapan 10 ribuan bukan cuma soal murah. Ia menjadi bagian kecil dari cara banyak orang menjaga hidupnya tetap berjalan.

Baca Juga: Sekarang Banyak Tempat Makan Kasih Batas Waktu Duduk, Sejak Kapan Nongkrong Jadi Dikejar Waktu?

Tempat Sarapan Murah Kadang Menjadi Ruang Kota yang Sangat Hidup

Meski sederhana, tempat-tempat sarapan seperti ini sering punya suasana yang khas. Ada antrean kecil pekerja kantoran, ada suara motor yang berhenti sebentar, ada obrolan cepat antar pelanggan, dan ada penjual yang hafal pesanan orang-orang yang datang hampir setiap pagi.

Ruang-ruang kecil seperti itu diam-diam menjadi bagian penting dari kehidupan kota. Bukan tempat mewah, bukan ruang estetik untuk dipotret, tetapi tempat nyata di mana orang-orang memulai harinya sebelum tenggelam dalam kesibukan masing-masing.

Profesor sosiologi Ray Oldenburg dalam konsep third place menjelaskan bahwa manusia membutuhkan ruang informal di luar rumah dan tempat kerja untuk merasa tetap terhubung dengan kehidupan sosial sehari-hari. Tempat makan sederhana, warung, atau kedai kecil sering menjadi ruang yang membuat kota terasa hidup dan manusiawi.

Mungkin itu sebabnya sarapan serba 10 ribu sekarang terus menjamur. Karena kota memang semakin sibuk, dan di tengah semua tekanan itu, banyak orang hanya membutuhkan satu hal sederhana sebelum memulai hari: makanan hangat yang cepat, murah, dan cukup untuk membuat mereka tetap kuat menjalani hidup. [][Adrian Damar/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.