Sepuluh tahun terakhir, Anda mungkin merasa bahwa hujan tak lagi sama. Setiap mendung datang, ada kecemasan kecil yang tumbuh: apakah daerah tempat Anda tinggal akan aman dari banjir?
Perubahan ini tidak muncul tiba-tiba. Kalau ditarik ke belakang, banyak kota yang awalnya hanya sesekali kebanjiran, kini mulai terbiasa melihat air menggenang. Di beberapa tempat, hujan satu jam saja sudah cukup membuat jalanan berubah menjadi sungai kecil. Fenomena ini membuat banyak orang mulai bertanya-tanya, apa sebenarnya yang terjadi pada lingkungan kita.
Banyak pihak cenderung menyalahkan sampah, dan memang itu bagian dari masalah. Namun, kenyataannya jauh lebih kompleks daripada sekadar kemalasan membuang sampah pada tempatnya. Ada perubahan besar yang terjadi secara perlahan, dipicu oleh cara kita membangun kota dan memperlakukan alam selama bertahun-tahun. Menurut The Guardian, banjir dalam dekade terakhir meningkat tajam akibat kombinasi perubahan iklim, urbanisasi ekstrem, dan rusaknya kawasan hijau.
Di Indonesia, cerita ini tak berbeda. Dilansir dari Kompas, curah hujan ekstrem menjadi lebih sering karena pengaruh pemanasan global. Tetapi di atas itu semua, tata kelola ruang yang tidak teratur menjadi pemicu yang membuat air tidak lagi menemukan jalannya. Ketika hutan, rawa, dan lahan serapan berubah menjadi kompleks perumahan dan gedung, air kehilangan ruang untuk meresap.
Baca Juga: Mengurai Penyebab Banjir Bandang Sumatra, Bencana yang Tak Berdiri Sendiri
Lebih dari Sekadar Sampah yang Menyumbat
Dalam banyak kasus, penyebab utama banjir adalah kombinasi antara kondisi alam dan kesalahan manusia. Sampah memang memperburuk keadaan, namun akar masalahnya lebih dalam. Kota-kota besar tumbuh dengan cepat hingga lupa menyediakan ruang bagi air untuk mengalir. Sungai disempitkan, area resapan dipangkas, dan danau alami—yang dulunya menjadi penyangga air—dipenuhi bangunan baru.
Menurut National Geographic, faktor perubahan iklim memperkuat efek tersebut. Suhu yang meningkat membuat air laut memuai, sehingga permukaan laut naik. Akibatnya, daerah pesisir lebih mudah terendam banjir rob. Pada saat yang sama, atmosfer hangat menahan lebih banyak uap air, membuat hujan turun dengan intensitas lebih tinggi. Kombinasi ini menciptakan badai air yang tidak siap ditampung oleh kota-kota kita.
Namun, tidak semua kisahnya suram. Beberapa negara mulai menata ulang perkotaan mereka agar ramah terhadap air. Singapura adalah contoh yang sering disebut. Dilansir dari Channel News Asia, konsep water-sensitive urban design membuat kota itu mampu mengelola curah hujan tinggi tanpa banjir besar. Mereka menjadikan air sebagai bagian dari rencana kota, bukan ancaman yang harus diperangi.
Baca Juga: Penyakit yang Sering Muncul Setelah Banjir Bandang dan Cara Menghindarinya
Apa yang Bisa Kita Lakukan untuk Mengurangi Risiko?
Di Indonesia, upaya mitigasi banjir tidak selalu harus menunggu pemerintah. Anda pun memiliki peran kecil namun signifikan. Salah satu langkah paling sederhana adalah menjaga kebersihan saluran air di lingkungan tempat tinggal. Ketika drainase kecil lancar, air setidaknya punya tempat untuk mengalir saat hujan turun deras. Hal ini sering disepelekan, padahal dampaknya besar.
Selain itu, menjaga ruang hijau di sekitar rumah juga dapat membantu. Tanaman memiliki kemampuan menyerap air sekaligus menahan laju alirannya. Di kota-kota besar, banyak warga mulai menggunakan rain garden atau taman resapan kecil untuk membantu mencegah banjir skala rumah tangga. Menurut BBC Earth, metode ini terbukti efektif di banyak negara dengan curah hujan tinggi.
Skala yang lebih besar tentu membutuhkan kebijakan pemerintah, seperti memperluas kawasan hijau, membuat kolam retensi, menata ulang daerah aliran sungai, dan melarang pembangunan di area yang rawan banjir. Namun, perubahan tidak akan terasa jika hanya dilakukan sepihak. Kesadaran kolektif menjadi kunci dalam menghadapi intensitas banjir yang meningkat dari tahun ke tahun.
Pada akhirnya, fenomena banjir yang makin sering terjadi adalah tanda bahwa alam sedang memberi peringatan. Air tidak memusuhi kita; ia hanya mencari jalannya sendiri ketika ruang itu diambil darinya. Dengan memahami penyebabnya, kita bisa mengambil langkah kecil untuk mencegah kerusakan yang lebih besar. Alam selalu memberi kesempatan kedua, selama Anda mau mendengarkan. [][Rommy Rimbarawa/KK]
[penulisan artikel ini dibantu riset AI dan telah melewati kurasi Redaksi]