Memasukkan sampah ke tempatnya terasa seperti akhir dari sebuah urusan. Padahal bagi sampah itu sendiri, perjalanan justru baru saja dimulai.
Pagi hari kantong sampah diletakkan di depan rumah. Beberapa jam kemudian petugas datang, mengangkatnya ke kendaraan, dan membawanya pergi. Tempat sampah kembali kosong, halaman bersih, lalu persoalan tersebut terasa sudah selesai.
Namun kata 'pergi' sebenarnya menarik. Sampah tidak menghilang ketika kendaraan pengangkut berbelok di ujung jalan, melainkan hanya berpindah ke tempat yang tidak terlihat dari rumah. Botol plastik, sisa makanan, kemasan, tisu, popok, dan berbagai benda yang beberapa jam sebelumnya menjadi bagian kehidupan sehari-hari masih tetap berada di suatu tempat.
Skala perpindahan itu sangat besar. KLH/BPLH pada 2025 menyebut Indonesia menghasilkan sekitar 56,63 juta ton sampah per tahun, tetapi hanya sekitar 39 persen yang ketika itu berhasil dikelola dengan baik. Sebagian masih ditimbun melalui open dumping, sementara puluhan juta ton lainnya dapat berakhir melalui pembakaran, pembuangan ilegal, atau masuk ke lingkungan dan badan air.
Baca Juga: Karhutla Datang Lagi, Mengapa Kita Seperti Selalu Menunggu Api Terlihat?
Tempat Sampah Bukan Tujuan Akhir
Perjalanan sampah berbeda di setiap daerah karena sistem pengelolaannya tidak selalu sama. Secara sederhana, sampah dari rumah dapat dikumpulkan, dibawa menuju fasilitas antara atau pengolahan, dipilah untuk mengambil material yang masih mempunyai nilai, kemudian residunya menuju Tempat Pemrosesan Akhir [TPA]. Persoalannya muncul ketika sebagian besar perjalanan tersebut masih mengikuti pola lama: kumpul, angkut, lalu buang.
Pemerintah sendiri sedang berusaha meninggalkan pola tersebut. KLH/BPLH menargetkan penghentian praktik open dumping pada 2026 dan mendorong pengelolaan berbasis pengurangan sejak sumber, pemilahan, serta pengolahan. Hingga akhir 2025, sekitar 30 persen dari 485 TPA yang menjadi acuan pemerintah disebut telah menghentikan open dumping, sehingga ratusan TPA masih membutuhkan transformasi.
Open dumping pada dasarnya membuat sampah ditumpuk secara terbuka tanpa pengelolaan memadai. Karena itu, memindahkan sampah dari rumah menuju TPA semacam ini sebenarnya belum menyelesaikan masalah lingkungan. Sampah hanya dikumpulkan dalam skala yang jauh lebih besar di satu lokasi.
Akibatnya bahkan dapat terlihat secara tragis. Pada 8 Maret 2026, gunungan sampah setinggi sekitar 50 meter di Zona IV TPST Bantar Gebang longsor dan menewaskan empat orang. KLH/BPLH menyebut peristiwa tersebut sebagai alarm atas persoalan pengelolaan sampah yang masih bergantung kepada penumpukan dalam jumlah sangat besar.
Sampah organik yang ikut terkubur juga bukan berarti selesai menjadi urusan lingkungan. KLH/BPLH menyebut sektor sampah menyumbang sekitar 61 persen emisi metana nasional, dengan sampah organik yang berakhir di TPA menjadi salah satu sumber yang perlu ditangani. Gas tersebut terbentuk antara lain ketika bahan organik terurai dalam kondisi minim oksigen.
Baca Juga: Sampah Tidak Pernah Benar-Benar Hilang. Ia Hanya Berpindah Tempat. Bagaimana Mengelolanya?
Membuang pada Tempatnya Tetap Benar, Tetapi Belum Cukup
Mengetahui persoalan di TPA tentu bukan alasan untuk menganggap membuang sampah sembarangan sama saja. Sampah yang masuk selokan, sungai, lahan kosong, atau dibakar tanpa pengelolaan justru menciptakan persoalan lain. Membuang pada tempatnya tetap menjadi perilaku dasar yang penting, hanya saja tanggung jawab terhadap sampah dapat dimulai lebih awal daripada saat tangan membuka tutup tempat sampah.
Salah satu pekerjaan terpenting adalah pemilahan. Sampah makanan dapat mempunyai jalur pengolahan berbeda dengan botol plastik, kertas, logam, atau residu yang memang sulit dimanfaatkan kembali. Menteri Lingkungan Hidup Moh. Jumhur Hidayat pada Juni 2026 menegaskan bahwa sampah yang masuk ke TPA seharusnya dibatasi hanya untuk residu, sementara material lain diarahkan ke fasilitas seperti bank sampah, TPS 3R, rumah kompos, Material Recovery Facility, pengolahan maggot BSF, dan TPST.
Pemilahan dari rumah menjadi penting karena benda yang masih mempunyai nilai dapat kehilangan peluang untuk dimanfaatkan ketika tercampur dengan sampah lain. Kertas yang bersih berbeda kondisinya setelah bercampur dengan sisa makanan, sementara bahan organik sebenarnya dapat diolah tanpa harus ikut melakukan perjalanan panjang menuju TPA. Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono bahkan menilai pemilahan dari hulu menentukan keberhasilan teknologi pengolahan seperti RDF maupun waste-to-energy.
Ada daerah yang mulai memperlihatkan perubahan jalur tersebut. TPA Tamangapa Antang di Makassar, misalnya, telah beralih dari open dumping menuju controlled landfill, dengan sampah diratakan, dipadatkan, dan ditutup tanah secara berkala. Sistem itu belum membuat produksi sampah berhenti, tetapi menunjukkan bahwa apa yang terjadi setelah truk sampah meninggalkan permukiman sangat menentukan dampak berikutnya.
Tetap saja, teknologi di ujung perjalanan tidak dapat terus menjadi satu-satunya jawaban jika jumlah sampah dari hulunya tidak berkurang. Barang sekali pakai yang sebenarnya tidak diperlukan, makanan yang dibeli berlebihan, atau kemasan yang hanya digunakan beberapa menit tetap membutuhkan tempat setelah dibuang. Tempat sampah membuat rumah terlihat bersih, tetapi tidak membuat material tersebut berhenti ada.
Mungkin selama ini ada satu ilusi kecil yang tercipta karena sistem pengangkutan bekerja cukup baik: sesuatu dianggap selesai ketika sudah tidak terlihat. Padahal kebersihan halaman rumah dan keberhasilan pengelolaan sampah adalah dua perkara berbeda. Yang pertama bisa selesai dalam beberapa menit ketika petugas mengangkut kantongnya, sedangkan yang kedua dapat membutuhkan bertahun-tahun.
Karena itu, pertanyaan “sudah dibuang pada tempatnya atau belum?” tetap penting, tetapi seharusnya bukan pertanyaan terakhir. Masih ada pertanyaan tentang apa yang dibuang, apakah sebenarnya bisa dikurangi, apakah sudah dipilah, dan ke mana benda tersebut akan bergerak sesudah meninggalkan rumah. Sebab ketika truk sampah pergi dari depan rumah, yang hilang sebenarnya hanya pemandangannya, bukan sampahnya. [][Rommy Rimbarawa/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.