Api kembali muncul di sejumlah wilayah Indonesia. Padahal daerah rawan sudah diketahui, musim kering bisa diperkirakan, dan titik panas dapat dipantau dari langit.

Asap kembali terlihat di atas lahan yang terbakar, petugas kembali membawa selang menembus kawasan sulit dijangkau, sementara helikopter menjatuhkan ribuan liter air dari udara. Pemandangan seperti ini muncul lagi sepanjang musim kemarau 2026, terutama di Sumatra dan Kalimantan. Rasanya akrab karena Indonesia sudah berkali-kali melihat gambar yang hampir sama.

Kalimantan Barat jadi salah satu wilayah yang menghadapi tekanan paling berat. BNPB mencatat hingga 9 Agustus 2026 luas lahan terbakar di provinsi tersebut mencapai sekitar 28.680 hektare, tertinggi di antara enam provinsi prioritas penanganan karhutla. Riau berada di urutan berikutnya dengan sekitar 15.552 hektare, disusul Kalimantan Tengah sekitar 3.070 hektare. 

Situasinya belum bisa dianggap selesai. BMKG memperkirakan risiko karhutla mencapai periode tertinggi pada Agustus hingga September, terutama di Sumatra dan Kalimantan, setelah El Niño mencapai kategori kuat. Hingga 29 Juli saja, BMKG telah mendeteksi 5.019 titik panas yang banyak ditemukan di Kalimantan Barat, Papua Selatan, dan Riau. 

Karhutla tentu tidak pernah sesederhana api bertemu daun kering. Cuaca, karakter lahan, pengelolaan air, aktivitas manusia, hingga kemampuan merespons titik api saling bertemu dalam persoalan yang sama. Justru karena penyebab dan wilayah rawannya telah lama dipelajari, pertanyaan yang mengganggu bukan lagi mengapa kebakaran bisa terjadi, melainkan mengapa skalanya masih dapat sebesar ini.

Baca Juga: Sampah Tidak Pernah Benar-Benar Hilang. Ia Hanya Berpindah Tempat. Bagaimana Mengelolanya?

Risikonya Sudah Diketahui Sebelum Asap Datang

Peringatan sebenarnya sudah muncul jauh sebelum langit dipenuhi asap. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani pernah menjelaskan bahwa musim kemarau dan El Niño merupakan dua fenomena berbeda, tetapi ketika keduanya terjadi bersamaan, curah hujan dapat semakin berkurang dan kondisi menjadi lebih kering. BMKG sejak awal juga memproyeksikan peningkatan risiko bergerak dari Riau menuju Jambi dan Sumatra Selatan, kemudian Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan pada Juli hingga Agustus. 

Kalimantan Barat mempunyai kerentanan tambahan yang tidak kecil. KLH/BPLH mencatat sekitar 2,7 juta hektare atau 19 persen wilayah provinsi tersebut merupakan lahan gambut, sementara 463 desa di 14 kabupaten dan kota tergolong berisiko tinggi terhadap karhutla. Pemantauan muka air tanah di beberapa wilayah juga sempat menunjukkan kondisi rawan yang membuat gambut semakin mudah terbakar. 

Situs BNPB mencatat, gambut membuat persoalannya berbeda dari kebakaran vegetasi biasa. Kepala BNPB Suharyanto saat meninjau pemadaman di Kubu Raya pada 7 Agustus mengakui karakter gambut menjadi salah satu tantangan utama dalam pemadaman. Api dapat bergerak di bawah permukaan, sehingga bagian atas yang terlihat padam belum tentu berarti proses pembakaran benar-benar selesai. 

Karena itu, pencegahan tidak bisa dimulai ketika api sudah membesar. BMKG menggunakan Operasi Modifikasi Cuaca [OMC] untuk membantu pembasahan lahan rentan, sementara Kementerian Kehutanan menjalankan pemantauan titik panas, patroli, kesiagaan personel, serta pengelolaan tinggi muka air gambut. Pemerintah bahkan menyatakan strategi pengendalian karhutla 2026 diarahkan semakin kuat kepada deteksi dini dan pencegahan berbasis data, bukan hanya pemadaman. 

Namun fakta bahwa sistem peringatan tersedia tidak membuat api kehilangan kemampuan untuk membesar. DIlansir dari situs Kementerian Kehutanan RI, di Kalimantan Selatan, misalnya, pemantauan satelit NASA-NOAA20 pada 12 Agustus masih mengidentifikasi 73 titik panas kategori menengah di wilayah tersebut. Kepala BPHL Wilayah XI Banjarbaru Wahyu Nurhidayat menegaskan bahwa setiap titik panas di area kerja perlu segera diverifikasi di lapangan agar potensi kebakaran dapat diketahui dan ditangani sejak tahap awal. 

Baca Juga: Pohon Baru Terasa Penting Saat Udara Mulai Terasa Panas

Karhutla Tidak Dimulai Ketika Langit Sudah Berasap

Cuaca kering dapat membuat lahan mudah terbakar, tetapi cuaca tidak memegang korek api. Faktor manusia tetap menjadi bagian penting dalam pencegahan karhutla, terutama ketika api digunakan untuk membuka atau membersihkan lahan. Itulah sebabnya KLH/BPLH pada 10 Agustus menerbitkan Surat Edaran Nomor 16 Tahun 2026 yang menegaskan larangan pembukaan lahan dengan cara membakar kepada pemerintah daerah di seluruh Indonesia. 

Di sinilah pencegahan menjadi pekerjaan yang jauh lebih rumit daripada menyediakan helikopter pemadam. Pengawasan harus menjangkau lahan yang luas, titik panas perlu diverifikasi secepat mungkin, gambut harus dijaga tetap basah, masyarakat membutuhkan alternatif pengelolaan lahan tanpa membakar, dan pelaku usaha juga harus memastikan wilayah kerjanya tidak menjadi sumber kebakaran. Satu bagian terlambat bekerja dapat memberikan cukup waktu kepada api untuk berkembang menjadi persoalan yang jauh lebih mahal.

Thomas Nifinluri, Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan, menyebut patroli rutin, pemantauan titik panas, pemadaman dini, dan edukasi masyarakat sebagai bagian dari penguatan pencegahan. Di Kalimantan Selatan saja, 180 personel Manggala Agni disiagakan di tiga daerah operasi pada musim kemarau tahun ini. Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan pengendalian justru seharusnya banyak terjadi ketika kebakaran masih terlalu kecil untuk menjadi berita.

Masalahnya, keberhasilan pencegahan memang tidak menghasilkan gambar yang dramatis. Lahan gambut yang tetap basah, titik panas yang berhasil ditangani beberapa jam setelah terdeteksi, atau warga yang memilih tidak membakar lahan hampir tidak pernah masuk berita utama. Helikopter yang menjatuhkan air di atas kobaran api jauh lebih mudah terlihat dibandingkan serangkaian pekerjaan sunyi yang membuat helikopter itu tidak perlu diterbangkan.

Karena itu, ukuran keberhasilan penanganan karhutla semestinya tidak berhenti pada seberapa cepat api berhasil dipadamkan. Pertanyaan yang lebih penting adalah berapa banyak kebakaran yang berhasil dicegah, seberapa cepat titik panas diverifikasi, apakah muka air gambut terjaga, dan apakah praktik yang berisiko memicu kebakaran benar-benar berkurang. Pencegahan memang kurang dramatis, tetapi justru di sanalah pertempuran terpenting seharusnya berlangsung.

Musim kemarau belum selesai dan BMKG masih menempatkan Agustus–September sebagai periode dengan risiko tinggi. Api yang terlihat sekarang karena itu perlu dipadamkan, tetapi pekerjaan yang lebih panjang berada pada apa yang dilakukan sebelum musim kering berikutnya datang. Indonesia sudah memiliki peta kerawanan, pemantauan satelit, prakiraan iklim, pengalaman puluhan tahun, dan pengetahuan tentang gambut yang cukup untuk memahami bahwa karhutla bukan bencana yang datang tanpa mengetuk pintu.

Barangkali itulah yang membuat setiap kemunculan asap terasa semakin mengganggu. Bukan karena Indonesia tidak tahu bahwa kebakaran bisa datang, melainkan karena begitu banyak tanda sebenarnya sudah terlihat sebelum nyala pertamanya membesar. Jika perhatian baru terasa penuh ketika langit berubah warna, ada kemungkinan yang terlambat bukan hanya pemadaman, tetapi cara memandang kapan sebuah kebakaran sebenarnya dimulai. [][Rommy Rimbarawa/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.