Lagunya sudah berumur puluhan tahun. Pendengarnya bahkan mungkin belum lahir ketika lagu itu dirilis. Lalu mendadak, lagu lama terdengar di mana-mana lagi.

Fenomena seperti ini semakin mudah ditemukan. Sebuah lagu lama muncul dalam film atau serial, digunakan dalam ribuan video pendek, kemudian masuk kembali ke daftar putar dan tangga lagu. Generasi yang tumbuh bersama lagu tersebut bernostalgia, sementara pendengar baru memperlakukannya seperti penemuan baru.

Kate Bush memberikan salah satu contoh paling mencolok. Lagu Running Up That Hill dirilis pada 1985, tetapi kembali meledak setelah digunakan dalam musim keempat Stranger Things pada 2022. Hampir empat dekade setelah pertama kali beredar, lagu tersebut mencapai posisi nomor satu tangga lagu Inggris dan mencetak pencapaian baru bagi Kate Bush.

Hal yang serupa terjadi dalam bentuk berbeda pada Dreams milik Fleetwood Mac. Lagu rilisan 1977 itu kembali memperoleh perhatian besar pada 2020 setelah sebuah video TikTok Nathan Apodaca yang bermain papan luncur sambil mendengarkannya menjadi viral. Lagu lama ternyata tidak selalu menunggu pendengar kembali kepadanya; kadang ia menemukan pintu masuk baru menuju generasi yang berbeda.

Baca Juga: Ketika No Na Membawa Angkot ke Dunia, Apakah yang Lokal Justru Membuat Kita Lebih Global?

Lagu Lama Mendapat Konteks Baru, Pendengar Mendapat Cerita Baru

Musik tidak pernah hanya hidup pada tahun ketika ia diterbitkan. David Huron, profesor musik di Ohio State University yang banyak meneliti kognisi musik, membahas bagaimana ekspektasi dan pengalaman pendengar berperan dalam cara manusia menikmati musik. Apa yang terdengar familiar, mengejutkan, atau menyenangkan tidak terlepas dari pengalaman musikal yang telah tersimpan sebelumnya.

Namun, kebangkitan lagu lama tidak selalu membutuhkan pendengar yang mempunyai kenangan dengannya. Bagi seseorang berusia 18 tahun pada 2026, lagu dari 1980-an bahkan dapat terasa lebih baru dibandingkan lagu populer lima tahun sebelumnya yang sudah berkali-kali didengar. Usia lagu dan usia pengalaman pendengar ternyata merupakan dua hal berbeda.

Film dan serial dapat memberikan konteks emosional baru kepada musik tersebut. Running Up That Hill, misalnya, bukan sekadar ditempelkan sebagai musik latar dalam Stranger Things. Lagu itu mempunyai hubungan penting dengan karakter Max dan menjadi bagian dari salah satu adegan paling emosional dalam serial tersebut, sehingga penonton baru mengenalnya bersama sebuah cerita.

Media sosial bekerja dengan mekanisme yang berbeda. Potongan beberapa detik dapat melekat pada tarian, lelucon, transformasi visual, cerita pribadi, atau tren tertentu. Pendengar mungkin pertama kali mengenal bagian paling menarik dari sebuah lagu tanpa mengetahui judul, penyanyi, bahkan dekade ketika lagu tersebut dibuat.

TikTok bahkan pernah menyebut katalog musik lama sebagai bagian penting dari budaya musik di platformnya. Lagu-lagu dari masa lalu dapat memperoleh kehidupan kedua ketika komunitas menemukan cara baru untuk menggunakannya. Dalam lingkungan seperti ini, katalog musik bukan lagi arsip yang tersusun berdasarkan tahun, melainkan perpustakaan raksasa yang setiap lagunya berpotensi ditemukan kembali.

Baca Juga: Ada Lagu yang Baru Kita Pahami Setelah Mengalami Sesuatu dalam Hidup, Apa dan Bagaimana?

Nostalgia Bekerja untuk Generasi Lama, Penemuan Bekerja untuk Generasi Baru

Bagi pendengar yang pernah mengenalnya, kemunculan lagu lama dapat memicu nostalgia. Petr Janata, profesor psikologi di University of California, Davis, bersama koleganya menemukan bahwa musik yang berkaitan dengan autobiografi dapat membangkitkan emosi dan ingatan personal. Sebuah lagu karenanya bisa membawa seseorang bukan hanya kepada melodinya, tetapi juga kepada periode tertentu dalam kehidupannya.

Menariknya, kebangkitan sebuah lagu dapat mempertemukan dua pengalaman yang sama sekali berbeda. Orang tua mungkin mendengar lagu tersebut dan teringat perjalanan sekolah atau kaset yang dahulu dimiliki, sedangkan anaknya mengenal lagu yang sama dari serial Netflix atau video TikTok. Musiknya identik, tetapi sejarah personal yang menempel kepadanya berbeda.

Platform streaming kemudian membuat jarak antargenerasi semakin pendek. Dahulu, menemukan album berusia 30 atau 40 tahun mungkin membutuhkan koleksi keluarga, toko musik, radio tertentu, atau rekomendasi seseorang. Sekarang satu potongan lagu yang menarik cukup membuat pendengar mencari judulnya dan beberapa detik kemudian membuka seluruh katalog musisi tersebut.

Algoritma rekomendasi turut memperpanjang perjalanan itu. Setelah seseorang mendengarkan satu lagu lama, platform dapat mengarahkannya kepada lagu lain dari artis, era, atau karakter musik serupa. Penemuan yang bermula dari satu adegan film kemudian dapat berubah menjadi eksplorasi terhadap musik dari satu dekade yang sebelumnya tidak pernah disentuh.

Karena itu, istilah 'lagu lama' sebenarnya semakin relatif dalam kebiasaan mendengarkan musik hari ini. Tahun rilis tetap penting secara sejarah, tetapi tidak lagi menentukan kapan sebuah lagu pertama kali memasuki kehidupan seseorang. Lagu 1977 bisa menjadi lagu masa remaja seseorang pada 2026.

Tentu tidak setiap lagu lama yang muncul dalam film atau TikTok otomatis kembali populer. Ia tetap membutuhkan pertemuan yang tepat antara musik, konteks, momentum, dan respons pendengar. Media baru dapat membuka pintu, tetapi pendengarlah yang menentukan apakah mereka ingin terus memutarnya setelah tren berlalu.

Mungkin itulah salah satu keistimewaan musik dibandingkan banyak produk budaya lain. Sebuah lagu dapat selesai direkam puluhan tahun lalu, tetapi pengalaman manusia terhadapnya tidak pernah benar-benar selesai. Setiap generasi mempunyai kesempatan menemukan lagu yang sama, memberinya kenangan baru, lalu tanpa sengaja membuatnya hidup sekali lagi. [][Liora Maheswari/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.