Angkot, toko kelontong, dan suara telolet mungkin terlalu akrab untuk dianggap istimewa. Di tangan No Na, keseharian itu justru mendapat panggung yang lebih jauh.

Sebuah angkot berwarna cerah melaju membawa empat perempuan muda. Jalanan di sekitarnya tidak dibuat menyerupai Los Angeles, Tokyo, atau kota futuristik yang sulit dikenali. Ada warung, kursi plastik, kendaraan umum, dan berbagai detail yang rasanya bisa ditemukan hanya beberapa kilometer dari rumah banyak orang Indonesia.

Lalu terdengar sesuatu yang bahkan lebih familier: "Om Telolet Om". Fenomena yang pernah membuat anak-anak berdiri di pinggir jalan menunggu bus membunyikan klaksonnya itu muncul kembali dalam “Honk!”, lagu terbaru No Na yang dirilis pada 31 Juli 2026. Media Indonesia mencatat No Na memang sengaja membawa estetika angkot dan fenomena telolet tersebut ke dalam rilisan mereka di bawah 88rising. 

No Na sendiri sedang bergerak cukup jauh dari rumah. Grup beranggotakan Esther, Baila, Christy, dan Shaz itu berbasis di Los Angeles, sementara Dazed Digital pada Juli lalu menyebut mereka sebagai grup Indonesia yang membawa 'island pop' menuju audiens global. Lagu “Work” sebelumnya telah melampaui 10 juta penayangan dan membantu memperkenalkan mereka kepada pendengar yang lebih luas. 

Yang menarik justru bukan seberapa jauh perjalanan itu berlangsung. No Na seperti membawa koper yang isinya tidak buru-buru diganti ketika pesawat mendarat di negara lain. Di dalamnya masih ada bunyi, warna, bahasa, dan potongan keseharian yang berasal dari tempat mereka pulang.

Baca Juga: Ada Lagu yang Baru Kita Pahami Setelah Mengalami Sesuatu dalam Hidup, Apa dan Bagaimana?

Ketika Hal yang Terlalu Dekat Tidak Lagi Terlihat Istimewa

Angkot mungkin bukan benda pertama yang terlintas ketika membicarakan citra Indonesia di panggung musik internasional. Ia terlalu sehari-hari, terlalu dekat dengan kemacetan, suara mesin, penumpang yang turun di pinggir jalan, dan uang receh yang berpindah tangan. Justru karena terlalu akrab, ada kemungkinan kita berhenti melihatnya sebagai sesuatu yang mempunyai karakter.

Hal yang sama pernah terjadi kepada banyak unsur kebudayaan populer lainnya. Sesuatu yang ditemui setiap hari mudah kehilangan daya kejut karena mata sudah terlalu terbiasa melihatnya. Keunikan terkadang baru terasa ketika benda, suara, atau kebiasaan tersebut dipindahkan dari ruang asalnya dan diletakkan dalam konteks yang sama sekali berbeda.

Dalam “Honk!”, No Na tidak hanya memasukkan angkot sebagai properti visual. Lagu tersebut juga menggunakan suara telolet, sementara visualnya menghadirkan toko kelontong dan suasana jalanan lokal; OPPAL turut mencatat adanya referensi "Sabang sampai Merauke" yang dipertemukan dengan kota-kota global. Yang lokal tidak ditempatkan sebagai ornamen kecil di sudut gambar, tetapi ikut membangun identitas karya. 

Pilihan semacam ini sebenarnya sudah terlihat sebelum “Honk!” muncul. NME menulis pada April 2026 bahwa No Na menggabungkan R&B dengan akar Asia Tenggara, sementara identitas Indonesia menjadi bagian penting dari cara mereka memperkenalkan diri kepada dunia. Dengan demikian, angkot bukan kejutan yang muncul sendirian, melainkan bagian dari bahasa kreatif yang perlahan mereka bangun. 

Ada ironi kecil yang menarik di sini. Selama bertahun-tahun, istilah 'go international' sering membawa bayangan tentang menjadi semakin mudah dikenali dunia: menggunakan bahasa global, mengikuti standar produksi internasional, dan mengadopsi estetika yang dapat diterima di banyak negara. Semua itu memang dapat membantu sebuah karya bepergian, tetapi pertanyaan berikutnya lebih menarik: ketika semua orang mencoba terdengar global, apa yang membuat satu nama masih bisa dikenali di antara yang lain?

No Na tampaknya menemukan sebagian jawabannya bukan dengan pergi semakin jauh, tetapi dengan menoleh kepada sesuatu yang sangat dekat. Mereka tidak perlu menciptakan sebuah dunia imajiner untuk menunjukkan asalnya. Kadang sebuah angkot sudah cukup.

Baca Juga: Ada Lagu yang Tidak Pernah Kita Cari, Tapi Selalu Datang Saat Sedang Sedih

Menjadi Global Tidak Harus Membuat Rumah Terlihat Semakin Kecil

Musik populer selalu mempunyai sejarah panjang tentang pertemuan berbagai pengaruh. Bunyi berpindah dari satu tempat ke tempat lain, genre saling meminjam, teknologi produksi menjadi semakin seragam, dan pendengar sekarang dapat menemukan lagu dari belahan dunia lain hanya dalam beberapa sentuhan layar. Globalisasi membuat jarak semakin pendek, tetapi sekaligus menciptakan risiko ketika semuanya mulai terdengar dan terlihat terlalu mirip.

Karena itu, identitas lokal tidak harus dipahami sebagai lawan dari modernitas. Gamelan tidak harus selalu hadir dalam bentuk tradisional untuk tetap mempunyai jejak Indonesia, begitu pula angkot tidak harus diperlakukan sebagai benda nostalgia agar memiliki nilai budaya. Ketika konteksnya berubah, sesuatu yang lama bahkan bisa mendapatkan bahasa baru tanpa harus menyangkal asalnya.

Keberhasilan K-pop memberikan pelajaran menarik tentang hal tersebut, meski perjalanan setiap industri tentu berbeda. Dunia menerima produksi yang sangat modern dari Korea Selatan tanpa meminta para pelakunya menghapus bahasa, makanan, gaya visual, atau identitas negaranya. Keakraban global justru tumbuh bersamaan dengan rasa ingin tahu terhadap tempat asal karya tersebut.

No Na berada dalam perjalanan yang masih jauh lebih muda. Dilansir dari Okezone, album perdana mereka, “Island Girl”, baru dijadwalkan rilis pada 18 September 2026, sehingga terlalu dini menjadikan beberapa lagu sebagai kesimpulan besar mengenai posisi mereka dalam musik global. Namun pilihan-pilihan kreatif yang muncul sejauh ini sudah menawarkan sesuatu yang menarik untuk dibaca.

Mungkin yang sedang diperlihatkan bukan formula tentang bagaimana musisi Indonesia harus menembus dunia. Formula semacam itu justru mudah berubah menjadi cetakan baru yang membuat semua orang kembali melakukan hal serupa. Yang terasa lebih penting adalah keberanian menganggap pengalaman sendiri cukup menarik untuk dibawa keluar tanpa harus lebih dulu dibuat terasa asing bagi orang di rumah.

Ada sesuatu yang hangat ketika membayangkan seorang pendengar di negara lain pertama kali mengenal angkot melalui sebuah video musik. Bagi orang tersebut, kendaraan berwarna-warni itu mungkin tampak unik dan penuh karakter, sementara bagi jutaan orang Indonesia ia hanyalah kendaraan yang pernah ditunggu di pinggir jalan. Dua mata melihat benda yang sama, tetapi jarak membuat keduanya menemukan keindahan yang berbeda.

Barangkali itulah bagian paling menarik dari perjalanan No Na sejauh ini. Mereka sedang menuju panggung yang semakin besar, tetapi beberapa benda yang ikut dibawa justru berasal dari jalan yang sangat biasa. Dan ketika sebuah angkot ternyata bisa bepergian sejauh itu, boleh jadi yang selama ini terlalu kecil bukan kebudayaan di sekitar kita, melainkan cara kita memandang sesuatu yang sudah terlalu lama berada di depan mata. [][Liora Maheswari/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.